Tuesday, January 31, 2006

Belajar Moral Profesi dari Adi Purnomo

Saya menemukan buku ini di Aksara, Plaza Indonesia kemarin. Ini bukan buku yang mengupas teori Relativitas-nya Albert Einstein yang super-susah, tapi mengungkap pikiran penulisnya tentang berbagai persoalan dan tantangan praktik profesi arsitek di negeri ini.

Sang pengarang: Adi Purnomo, merupakan seorang arsitek penuh prestasi yang telah meraih berbagai penghargaan. Termasuk penghargaan Arsitek Muda dari Ikatan Arsitek Indonesia dan terpilih sebagai Tokoh Arsitek 2004 oleh majalah Tempo. Adi Purnomo lahir di Jogja tahun 1968 dan belajar arsitektur di UGM. Sekarang ia memiliki studio arsitektur sendiri.

Saya yang tidak memiliki pengetahuan arsitek ataupun disiplin lain yang mepet-mepet dengan ilmu arsitektur, tentu punya alasan sendiri kenapa akhirnya memutuskan membeli buku ini. Sebuah penjelasan singkat di belakang buku yang diterbitkan oleh Penerbit Borneo ini mengantar saya untuk mencoba membaca buku ini:
"Buku ini merupakan penggalan pendek perjalanan sebuah praktek arsitek yang sedang menyelami itu semua. Sebuah praktek yang masih menyimpan banyak ketidakmengertian dan sejumput kegentaran menghadapi gerak zaman ini. Buku ini bebas dibaca sebagai sebuah jurnal pribadi, meski tetap berharap bisa mengambil bagian yang lebih jauh dalam telaah arsitektur di negeri ini."

Setelah membaca separuh isi buku semalam, saya makin asyik menyelami pikiran, kegelisahan, pertanyaan dan sikap penulisnya dalam berprofesi. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Lebih jauh, penulisnya menciptakan konteks sosial ke dalam setiap bahasannya. Penulis bahkan meninggalkan impresi bahwa peran arsitek (seharusnya) bisa menjangkau lapis kebutuhan terbesar terhadap perumahan di negeri ini, jenis perumahan tipe sangat sederhana dan sederhana. Memang, melalui buku ini, penulis jelas-jelas melakukan pemihakan kepada kebutuhan masyarakat kebanyakan terhadap perumahan yang layak dan baik di negeri ini. Tidak heran bila di buku ini kita menjumpai telaah arsitektur tentang rumah susun, rumah ‘kampung’ sampai sekolah dan rumah ibadah. Kita juga bisa menjumpai sebuah rumah yang dibangun di kawasan Ciganjur dengan visi yang jelas untuk tetap menjadikan keluarga yang hidup di sana sebagai keluarga ‘Indonesia’. Rumah Ciganjur yang dianggap sebagai model rumah modern abad 21 justru jauh dari gaya 'wah'.

Pertanyaan dan kegelisahan penulis terhadap kondisi perumahan urban di kota macam Jakarta, sebenarnya adalah pertanyaan dan kegelisahan kita semua. Problem pemukiman yang layak bagi masyarakat miskin kota menjadi sorotan besar penulis (sekalipun buku ini juga diperkaya dengan sejumlah bahasan tentang desain arsitektur di luar negeri). Menjadi sebuah refleksi kritis profesi yang ditekuni oleh sang penulis yang dapat dikunjungi oleh pembaca yang tidak memahami profesi ini sekalipun. Inilah sebuah buku yang memberikan optimisme kepada kita tentang pentingnya moral profesi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi bagi kita semua.

Buku ini, menurut saya, juga mampu menjadi inspirasi buat mereka yang sedang berencana membangun rumah sendiri – tidak peduli seberapa besar ukuran lahan dan rumah yang akan dibangun -- dengan konsep yang ‘waras’ dan ‘membumi’. Buku ini rasanya cukup meyakinkan kita untuk tidak minder maupun keder terhadap 'biaya arsitek'. Bahkan siapa tahu Adi Purnomo sendiri bisa membantu mewujudkan angan Anda tentang rumah yang baik? Siapa tahu! Kecuali kalau Anda sudah 100% yakin ingin punya rumah bergaya ‘istana’ Julius Caesar macam di boulevard-boulevard di real estate mewah, ya sebaiknya jangan buang-buang waktu membaca buku ini. Apalagi menemui Adi Purnomo. Jangan-jangan nanti malah jengkel pada si penulis.

9 comments:

genepKENDRA said...

Resensi ringannya bernas banget. Membuat penasaran, seakan-akan bukunya memang enak dibaca dan perlu.

Ayip said...

Adi Purnomo adalah salah satu arsitek langka Indonesia. Bersahaja dan casual. Sewaktu di Bali ada launching bukunya dia cerita kalo sekarang dia buka biro arsitek sendiri (asli sorangan wae) setelah keluar dari biro arsitek besar di Jkt. Alasan dia buka sendiri(an) karena dia ngga mau menyakiti orang lain dengan pemikiran dan gagasannya.(Lual biasa ya) Kalo ada folk art, saya senang menyebut karyanya folk architecture, karena proyeknya kebanyakan didedikasikan untuk orang biasa tanpa harus menjadi luar biasa karena disentuh arsitektur olehnya.

Bukunya adalah pertanyaannya kepada para pembaca "Sudah tepatkah karya saya?" Itu yang disampaikannya dengan logat Jogja-nya yang medok. Di Bali.

Anonymous said...

SALUT BUAT MAS ADI PURNOMO,SEMOGA SAYA BISA MENGIKUTI LANGKAHMU,DARI ARBI ( ARSITEK UGM )

nungka said...

saya juga baca bukunya! itu juga kebetulan saya temukan di gramedia semarang. hebat ya ada orang seperti mas adi purnomo?! tapi kabarnya dia belum menyelesaikan S1 nya dari UGM (ato mgkn skrg sudah?!) tapi lepas dari itu, saya salut sama dia. tentang pemikirannya. seberapa cukup adalah cukup?

nungka, pati-jateng

ningsih said...

membaca "relativitas" mengingatkan saya bahwa arsitek dapat berperan membangun lingkungan yang lebih baik

sukses terus buat mas Adi

abeyoo said...

embaca relativitas membuat saya berpikir banyak hal
sebagai seorang mahasiswa saya sangat terbuka wawasannya. terimakasih

Anonymous said...

mohon info contactnya pak Adi Purnomo .. saya mau liput rumah ramah lingkungannya. thx b4, Mika Daai TV jakarta

Anonymous said...

oya, belum ninggalin kontak, hehehe..0817 691 9070, mika_wulan@yahoo.com

awang noo el said...

Bagus sekali buku Relativitas...Bukan cuma wwasan ttng arsitektr yang ingin di tampilkan tetapi juga ttng keberanian arsitek untuk menjadi "pionir" dalam pembaharuan tatanan berasitektur yang semakin tidak jelas dan carut marut baik secara falsafah dan idiologi dalam berasritektur...