Friday, January 14, 2011

Jangan Hanya VOTE Komodo. Ayo, VISIT Komodo.

Apabila anda masih berpikiran bahwa Kepulauan Komodo hanyalah sebuah tujuan wisata bagi para penyelam dan backpackers dengan fasilitas super minim, anda salah besar.
Pikiran seperti itu, saya yakin, masih melekat pada banyak kalangan menengah kota besar Indonesia yang sekarang gandrung melakukan wisata nusantara. Terutama bagi mereka yang biasa berwisata bersama keluarga: ayah-ibu dan putera-puterinya. Faktor kenyamanan perjalanan dan kelengkapan fasilitas di daerah tujuan wisata, menjadi faktor pertimbangan yang sangat penting.

Pengalaman ini saya alami sendiri selama dua kali di tahun 2010. Berwisata jalan-jalan dan snorkeling dan menyelam bersama sebuah kapal. Tapi di artikel ini, saya akan mencerita yang pertama dulu.

Wisata jalan-jalan dan snorkeling di Komodo saya lakukan bersama sejumlah rekan-rekan se-industri dengan latar pengalaman berwisata yang tidak seragam, perencanaan perjalanan pun memperoleh sejumlah pertanyaan yang biasa kita temui. Seperti: apakah ada pesawat menuju Kepulauan Komodo; seperti apa pesawatnya dan berapa lama perjalanannya; apakah dari bandara ke hotel jalannya bagus dan berapa dekat; seperti apa hotelnya di sana; bagaimana kita berkeliling di sana; seperti apa perjalanan ke Pulau Komodo; bagaimana ombak di lautnya; apakah aman mengunjungi binatang komodo yang sangat ganas itu; seperti apa kapalnya; dan berbagai pertanyaan lainnya yang, pada intinya, menunjukkan kurangnya informasi yang kita miliki terhadap Kepulauan Komodo.

Labuan Bajo: Kota Kecil yang Siap Menerima Anda

Cara paling mudah menuju Kepulauan Komodo adalah melalui kota pelabuhan Labuan Bajo. Posisi peran Labuan Bajo ini persis seperti Marina Ancol dengan Kepulauan Seribu di Jakarta. Sementara, cara paling mudah menuju Labuan Bajo adalah dengan pesawat terbang dari Denpasar.
Setiap hari ada 2 kali penerbangan Denpasar - Labuan Bajo pp dengan Transnusa/Aviastar (www.transnusa.co.id) dengan jenis pesawat berbeda. Lama perjalanan kurang lebih hanya 50 menit. Dekat bukan? Namun, karena pada saat kami ke sana hanya ada satu airline ini yang beroperasi, harga tiket pesawatnya memang relatif mahal. Jarak Denpasar - Labuan Bajo yang hanya 50 menit, harga tiketnya berkisar antara 600 - 800 ribu rupiah satu arah. Ketika terakhir berada di sana bulan Agustus 2010, saya membaca di bandara bahwa Batavia Air juga akan segera beroperasi dengan rute yang sama. Semoga, dengan adanya itu, harga tiket akan turun karena terjadinya persaingan.

Penerbangan Denpasar - Labuan Bajo dan sebaliknya, bila cuaca sangat cerah, adalah penerbangan yang sangat menyenangkan. Karena kita akan mendapat pemandangan yang spektakuler sepanjang perjalanan. Terutama ketika memasuki wilayah perairan Kepulauan Komodo. Bila anda peminat fotografi, siapkan lensa tele dan pesanlah tempat duduk di pinggir jendela sebelah kanan (saat kembali menuju Denpasar, jendela sebelah kiri). Niscaya anda akan memperoleh kesenangan mengabadikan panorama kepulauan Komodo yang cantik.

Bandara Komodo di kota Pelabuhan Labuan Bajo sendiri adalah sebuah bandara yang sangat sederhana. Kategorinya hanya sebuah bandara perintis. Tentu saja, tidak ada penerbangan malam hari menuju Labuan Bajo. Selain tujuan ke Denpasar, bandara ini hanya melayani rute Kupang dan Mataram dengan airline yang sama. Untuk tujuan dari dan ke Kupang, hanya ada 3 kali penerbangan dalam seminggu.

Bila mau lebih terorganisir dengan rapi, walaupun menjadi lebih mahal, anda bisa mengatur seluruh trip perjalanan ke Komodo melalui biro perjalanan di Bali. Sudah cukup banyak yang melayani. Mereka bisa mengatur semuanya dalam 1 paket, mencakup: pesawat Denpasar - Labuan Bajo - Denpasar, hotel, guide dan transportasi penjemputan dan keliling, sewa kapal dan peralatan snorkeling termasuk mengunjungi Komodo, dan makan siang dan malam. Untuk paket yang cukup nyaman, dengan pilihan menginap di Hotel Bintang Flores (www.bintangfloreshotel.com) atau Jayakarta Hotel (www.jayakartahotelsresorts.com/hotels-and-resorts/suites-komodo-flores), seluruhnya terkena biaya sekitar Rp 4,8 juta per orang. Tentunya berlaku jumlah minimal. Semakin sedikit orang akan semakin mahal.

Bila Ingin Nyaman: Pilih Hotel Bintang Flores atau Jayakarta

Hotel Bintang Flores yang kami tempati adalah sebuah hotel yang sangat nyaman. Sebuah hotel bintang empat milik kelompok hotel Ramada yang berbasis di Bali. Jaraknya dari bandara hanya 10 menit. Berada di hotel ini dan menikmati fasilitas di dalamnya, anda tidak akan merasa ada bedanya ketika sedang berada di sebuah resort yang modern di Bali. Posisinya menghadap laut, sehingga anda bisa menikmati panorama matahari terbenam yang indah setiap sore dari pinggir kolam renang atau pantai. Bila ingin yang lebih 'mojok' lagi, anda bisa memilih Jayakarta Hotel yang jaraknya kurang lebih 4 kilometer dari Hotel Bintang Flores. Juga berada di tepi pantai menghadap ke gugusan kepulauan Komodo. Bagi para backpacker, pilihan hotel-hotel sederhana justru berjejer di dekat dive shops dan pelabuhan. Nampaknya memang disiapkan untuk melayani para penyelam manca negara yang hanya butuh tempat 'numpang' tidur saja. 

Gua Batu Cermin yang Eksotis

Hari pertama, kami mengunjungi tempat wisata darat yang jadi andalan kota Labuan Bajo, yakni Gua Batu Cermin. Gua yang ditemukan oleh orang Belanda ini dinamakan demikian karena di salah satu sudut di gua tersebut ada cahaya matahari yang menembus bebatuan yang berair sehingga menciptakan refleksi seperti cermin. Rute-rute di dalam gua ini cukup dalam dan menarik dengan berbagai mitos bentuk-bentuk wujud yang ada pada bebatuannya. Kurang lebih, membutuhkan waktu 1 sampai 1,5 jam untuk berkeliling di dalam gua ini. Jangan khawatir, pemandu wisata anda akan menyediakan senter dan memandu kita melakukan perjalanan menembus gua, yang di beberapa bagiannya memang benar-benar gelap total. Bersiaplah menemui berbagai jenis serangga atau binatang yang cukup unik di dalam gua tersebut.
Selesai dari gua Batu Cermin yang jaraknya hanya sekitar 15 menit dari Labuan Bajo, kami langsung menuju pelabuhan. Mendekati pelabuhan, karena kontur kota yang sedikit berbukit, kita akan menikmati pemandangan yang menarik dari atas ke arah pelabuhan. Tempat yang asik untuk berhenti sebentar dan mengambil foto-foto dengan latar pelabuhan, laut dan gugusan pulau. Selanjutnya, tujuan utama hari ini adalah snorkeling di Pulau Bidadari atau Angel Island. Benar, nama pulaunya sama dengan yang di Kepulauan Seribu, Jakarta. Tapi tentu dengan pemandangan dan alam bawah laut yang berbeda.
Dengan sebuah kapal sewaan yang cukup besar tapi kecepatan yang lambat, jarak dari pelabuhan Labuan Bajo ke Pulau Bidadari ternyata tidak sampai 30 menit. Karena itu, Angel Island Resort (angelisleflores.com) sebuah resort di pulau ini yang dikelola oleh orang Inggris merupakan salah satu pilihan yang menarik. Di pulau ini kami beramai-ramai menikmati snorkeling yang tidak kalah indahnya dengan snorkeling di Bali, Lombok atau Bunaken. Padahal kami cuma snorkeling di sisi lain dari pulau ini yang diijinkan untuk publik. Saya yakin, pantai tepat di depan resort yang hanya boleh untuk tamu mereka akan memperlihatkan panorama bawah laut yang lebih keren buat para snorkeller. Jadi, pulau ini bisa menjadi salah satu alternatif menarik untuk menginap apabila anda berkunjung ke Komodo dan semata betul ingin menikmati keindahan laut.




Lebih Dekat Melihat Komodo di Pulau Rinca


Hari kedua, adalah hari di mana kami punya waktu penuh seharian. Inilah tujuan utama perjalanan wisata kami: melihat sang komodo. Kami mengubah sedikit rencana di hari ini. Semula, kami berencana menuju Pulau Komodo dan Pink Beach yang berlokasi di dekatnya. Hanya perjalanan menuju Pulau Komodo dengan jenis kapal yang kami sewa, akan memakan waktu 4 jam. Itu berarti, pulang-pergi 8 jam. Apalagi, Pulau Komodo adalah kepulauan terluas di gugusan kepulauan Komodo. Menurut pemandu, dengan jumlah populasi komodo yang tidak berbeda jauh dengan Pulau Rinca yang lebih kecil (2.000 ekor lebih). Sementara jarak ke pulau Rinca bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam dari Labuan Bajo. Sementara, sebagian peserta masih ingin menikmati snorkeling. Akhirnya, menikmati dan mengabadikan Pink Beach yang dikorbankan. 

Perjalanan menuju Pulau Rinca diwarnai dengan cuaca yang sangat cerah dan laut yang sangat tenang hingga sore hari. Begitu tenangnya, kapal nyaris seperti berlayar di atas permukaan agar-agar. Sepanjang perjalanan kita menikmati profil khas pulau-pulau di kepulauan Komodo yang kering dan kecoklatan, namun indah dipandang. Ketika tiba di pulau Rinca, kita harus berjalan kaki sejauh 500 meter untuk mencapai bangunan tempat pengelola Taman Nasional Komodo, markasnya para rangers pemandu wisata komodo. Di pulau Rinca, ada 2 pilihan waktu trekking untuk melihat komodo. 1 jam dan 2 jam. Selama trekking, anda juga bisa berjumpa dengan satwa lainnya, antara lain kerbau hutan yang sangat besar. Berhadapan dengan salah satu satwa paling purba di muka bumi ini, memang terasa aura keganasannya. Hal itu makin menjadi justru karena gerak-geriknya yang sangat tenang. Tapi tidak ada ruginya untuk bisa melihatnya langsung dalam jarak dekat selama kita ikuti panduan dari para ranger yang faham betul perilaku satwa purba ini.

Seperti niat semula, dari Rinca, dalam perjalanan pulang kami pun mampir di pulau Sebayur untuk snorkeling lagi. Berhubung sebagian besar peserta bukanlah orang yang sudah terbiasa nyemplung di laut, kami pun hanya snorkeling persis di tepi pantai dan di sekitar jetty tempat kapal berlabuh. Di jetty, bagian terdalam di mana kapal merapat, untuk pertama kalinya di saat snorkeling, saya menemukan school of fish (kelompok ikan) berjumlah ribuan sedang 'parkir' di kedalaman jetty. Saking banyaknya, bahkan saya sempat menyangkanya mereka adalah dasar laut, karena gelap sekali. Luar biasa.

Talenta yang Tersembunyi di Bidadari Bar

Catatan terakhir dari wisata ini adalah Bidadari Bar. Restoran dan tempat minum berlokasi di tepi laut yang pada malam hari menyajikan pemandangan pelabuhan Labuan Bajo yang cantik. Memang tidak ada yang istimewa dari kuliner di Labuan Bajo. Bahkan, untuk sebuah kota pelabuhan agak aneh bila sulit ditemukan hidangan laut seperti kepiting dan lobster yang menjadi favorit banyak wisatawan. Namun, selama 2 hari berturut kami makan di Paradise Bar sudah sangat dipuaskan oleh 2 menu: ikan tuna besar yang dibakar dan live music yang menampilkan pemuda-pemuda lokal bernyanyi akustik dengan sangat bagus. Bahkan dengan kualitas suara di atas idol-idol di televisi. Mereka bahkan tidak punya nama untuk grup mereka, ketika ditanyakan. Mereka biasanya hanya tampil setiap hari Sabtu malam. Bila anda berada di Labuan Bajo pada Sabtu malam, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati hiburan mereka. 

Oleh-oleh apa yang pantas dibawa dari Labuan Bajo? Saya tidak terlalu mengamati. Tapi tentu Flores terkenal dengan kain tenun tradisionalnya. Hanya saya tidak melihat mudah ditemukan selama berada di Labuan Bajo. Ketika pulang, kami memesan kopi lokal tanpa merek melalui pemandu wisata. Ternyata, rasanya benar-benar enak. Ini tentu sekaligus menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu surganya kopi di dunia.

Kepulauan Komodo, memang sudah sangat lama terkenal sebagai salah satu tempat yang istimewa di Indonesia. Wilayah ini menyimpan banyak jejak sejarah bumi yang purba. Itu sebabnya sekarang tempat ini sedang dikampanyekan untuk, tetap terpilih sebagai salah satu Keajaiban Dunia. Namun, era wisata yang lebih nyaman, memang baru bisa dilakukan baru-baru ini. Semuanya relatif sudah mudah dan nyaman di sana. Satu-satunya kendala dalam perencanaan wisata ke sini, mungkin harga tiket pesawat Denpasar - Labuan Bajo yang masih di atas rata-rata penerbangan murah yang sekarang bertaburan. Bila anda bandingkan dengan harga tiket penerbangan perintis di wilayah Indonesia Timur, harga di kisaran Rp 600 ribu sampai 800 ribu sekali jalan, memang umum. Tapi anda tak akan menyesal. Ayo, VISIT Komodo. 

Thursday, December 16, 2010

Didedikasikan ulang untuk Timnas Indonesia di AFF Cup 2010


video

Lagu ini rasanya masih relevan dijadikan lagu pendukung untuk Tim Nasional Indonesia berlaga di piala AFF 2010 yang sedang berlangsung. Enjoy!

Tuesday, February 09, 2010

Terlalu Cepat ke Raja Ampat

Kalau tulisan ini mau diartikan sebagai sebuah oleh-oleh, tentu sudah sangat basi dan bulukan. Karena perjalanan menyelam ke kawasan Raja Ampat ini sudah saya lakukan satu tahun lebih.
Namun, berhubung cuma cerita yang tidak bisa basi dan bulukan, saya putuskan tetap membaginya dalam bentuk cerita ringkas perjalanan. Semoga tidak menjemukan.


Tempat Idaman Para Penyelam dari Seluruh Dunia

Nama kawasan Raja Ampat jadi makin mendunia setelah hasil penelitian Dr. Gerald Allen asal Australia diakui secara ilmiah. Temuan penelitian ini menetapkan Raja Ampat sebagai greatest biodiversity ever registered untuk kehidupan bawah laut. 970 species bawah laut tercatat sebagai terbanyak yang pernah ada di dunia.

Sejak itu, liputan mengenai Raja Ampat di berbagai media televisi dan cetak makin melambungkan popularitas tempat ini. Untungnya, kawasan ini belum (dan mudah-mudahan tidak) layak dijadikan kawasan tujuan wisata umum karena beberapa sebab, antara lain: infrastruktur pariwisatanya secara khusus baru menampung kegiatan menyelam, harga penginapan yang di atas rata-rata, serta perjalanan menuju Sorong, kota terdekat dari kawasan Raja Ampat, masih termasuk kategori perjalanan 'penuh perjuangan' yang tidak mudah, seperti yang saya alami sendiri.

Max Ammer adalah nama yang harus disebut sebagai 'penemu' dan pelopor kegiatan diving di kawasan Raja Ampat. Pria asal Belanda ini telah jatuh cinta dan menetap di kawasan ini lebih dari 15 tahun yang lalu. Dia membuka mata dunia terhadap kekayaan bawah laut Raja Ampat dan menjadikan kawasan ini sebagai semacam ultimate destination bagi para penyelam di seluruh dunia melalui Kri Eco Resort (dan kemudian belakangan bertambah dengan Sorido Bay Resort dengan standard yang lebih mewah). Kedua resor ini sejak awal sudah dibangun dengan visi yang jelas: kapasitas dibuat sangat terbatas agak kegiatan penyelaman di kawasan ini tidak terlalu mengganggu ekosistemnya, mengajak masyarakat sekitar menjadi sumber daya, dan bekerjasama dengan pemerintah daerah menerapkan sistem pemeliharaan lingkungan dan dukungan ekonomi kepada nelayan setempat untuk membatasi eksplorasi keanekaragaman sumber laut Raja Ampat. Tidak heran bila biaya entrance fee di kawasan ini sangat mahal. Sebagai WNI saja saya harus membayar Rp 500.000,-, separuh dari yang dibayar para penyelam asing.

Kini, Raja Ampat bisa dibilang adalah permata paling bersinar di kawasan coral triangle dunia. Tidak heran bila kebanyakan penyelam tidak sabar untuk memasukkan kawasan ini ke dalam diving log book mereka, begitu kesempatan datang. Termasuk saya.

Untuk kategori penyelam pemula seperti saya, perjalanan menyelam ke Raja Ampat memang bisa dianggap terlalu cepat. Bagaimana tidak, di dalam log book saya pada saat itu, baru ada Lombok dan Bali. Belum ada Bunaken, Komodo, Wakatobi, Derawan, bahkan Kepulauan Seribu dan sekitarnya yang sangat dekat dari Jakarta. Saya dianggap mengambil 'jalan pintas' menuju lokasi terbaik yang ada di tanah air, hehehehe.

Kri Eco Resort

jetty Sorido Bay Resort


Jakarta - Sorong: Perjalanan Ringan Jadi Berat

Perjalanan Jakarta - Sorong lewat Makasar seharusnya perjalanan yang biasa saja. Dengan transit kurang dari 1 jam, Jakarta - Sorong dapat dicapai kurang dari 5 jam. Itu sebabnya, dengan jadwal berangkat pukul 5 pagi dengan Merpati, saya sudah dijadwalkan untuk mulai menyelam sore hari. Apa lacur, perjalanan ke Sorong harus saya tempuh lebih panjang dari perjalanan Jakarta - London. Terbang dari Jakarta jam 5 pagi di hari Sabtu saya tiba di Sorong baru hari Minggu pukul 9 pagi. Total 28 jam perjalanan. Pesawat dari Makasar ke Sorong yang rencananya berangkat 1 jam setelah kami mendarat di Makasar, dipakai untuk tujuan lain. Dan kami pun terlunta-lunta di Bandara Hasanudin sampai pukul 7 malam akhirnya digelandang ke sebuah hotel melati yang lebih mirip motel esek-esek. Pukul 2 pagi kami mendadak dibangunkan untuk berangkat ke bandara karena pesawat akan berangkat pukul 5 pagi. Ternyata kami baru diberangkatkan ke Sorong pukul 7 pagi. Jadi, siapa bilang Merpati tak pernah ingkar janji?

Saya baru menyadari kemudian, bahwa bandara di Sorong tidak bisa mendaratkan pesawat di malam hari karena lampu bandaranya dicuri. Itu sebabnya kami pun tidak bisa diterbangkan dari Makasar malam hari. Bandara yang sungguh seadanya ini ternyata tidak menyurutkan ribuan penyelam datang ke Raja Ampat untuk menikmati wisata menyelam kelas dunia.

Beberapa menit setelah berada di atas kapal motor cepat milik Papua Diving yang akan membawa kami ke Pulau Kri tempat Kri Eco Resort berada, di tepi laut kota Sorong baru terlihat betapa Raja Ampat adalah sebuah kawasan wisata menyelam terkenal. Jajaran kapal-kapal liveaboard yang bertarif ribuan dollar untuk satu trip berkumpul di sini. Sudah jelas tentu pasar dari wisata ini bukanlah wisatawan lokal.

Seperti tahu bahwa kami telah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, Raja Ampat tidak menunggu hingga kami turun ke dalam laut untuk memamerkan kekayaan alam lautnya. Sepanjang perjalanan 2 jam, kami bertemu dengan 3 ekor ikan paus yang sedang melintas. Pemandangan yang cukup langka ini sedikit menghibur kami yang kelelahan.





Kri Eco Resort: Lebih Indah dari yang Terlihat di Internet

Hiburan kedua terbesar setelah menempuh perjalanan yang melelahkan adalah tempat saya menginap: Kri Eco Resort. Ketika berencana ke Raja Ampat dan melakukan riset kiri-kanan, harga Kri Eco Resort adalah tempat yang paling terjangkau buat saya, dibanding Sorido Bay Resort (yang pemiliknya sama dan terletak satu pulau dengan Kri Eco Resort) serta Misool Eco Resort yang bisa membuat setiap penggemar liburan ke laut meneteskan air liurnya. Namun sayang, harganya berlipat kali lebih mahal. Untuk orang dengan pendapatan rupiah seperti saya, tarif 4000an Euro untuk sungguh sangat berat. Bisa buat DP mobil dong, hehehe (catatan: saat ini mungkin di Raja Ampat sudah ada beberapa tempat baru di luar ketiga ini).

Dari melihat foto-foto Kri Eco Resort di internet, saya berangkat dengan ekspektasi yang tidak tinggi. Bersiap tinggal di sebuah tempat khas untuk backpacker bule yang seadanya. Kenyataannya, Kri Eco Resort adalah sebuah resort alami yang memiliki standar pemeliharaan dan pelayanan tidak kalah dengan resort berbintang lima sekalipun. Tempatnya sungguh lebih nyaman, bersih dan menyenangkan dari yang saya lihat di internet. Jadi dengan nyaman, para penyelam yang tinggal di sini bisa hilir mudik tanpa sandal. Setiap kali mau memasuki kamar atau tempat makan, sudah disediakan baskom besar di pinggir untuk membilas kaki dari pasir-pasir yang menempel.









Kri Eco Resort yang nyaman dan bersih












Bukan Tempat bagi Penyelam Pemula

Saya adalah seorang penyelam berlisensi Open Water. Tergolong pemula. Hanya kebetulan saya sudah melakukan lebih dari 20 kali menyelam, makanya diperbolehkan ikut.

Selain banyak dive site yang arusnya deras, lanskap bawah laut Raja Ampat yang penuh dengan koral hidup yang sangat luas, membutuhkan ketrampilan menyelam sangat baik untuk menghindari rusaknya koral oleh para penyelam yang belum mampu menguasai keseimbangan tubuh di bawah laut. Itulah alasan kenapa kawasan Raja Ampat memprioritaskan para penyelam dengan lisensi advanced dan jumlah penyelaman yang cukup banyak (minimal 20 kali).

Terbukti, pada penyelaman pertama di sore hari di tempat berarus deras, saya langsung terpisah dari kelompok. Beruntung, Papua Diving membekali setiap penyelam dengan pengait darurat. Alhasil, saya harus mengaitkan diri ke karang keras supaya tidak terbawa arus lebih jauh, untuk kemudian naik sendiri setelah menunggu 5 menit tidak melihat kelompok. Inilah sambutan pertama di Raja Ampat: pengalaman pertama saya terbawa arus kencang sampai terpisah dengan kelompok (anggota kelompok saya terdiri dari para penyelam kelas instruktur).

Selain situs-situs yang masih bagus dan sangat kaya dengan spesies bawah laut, lokasi menyelam yang paling mengesankan dan unik untuk saya di Raja Ampat adalah The Passage. Di tempat ini kita menyelam ke semacam gua di pulau kecil hingga kedalaman 18 meter dan menemukan palung terbuka di dalamnya yang menjadi semacam lagoon untuk bersantai. Lebih menarik lagi, penyelaman di The Passage diakhiri dengan meloncat ke arus kencang yang membawa kita 'terbang' ke laut lepas untuk mengakhiri penyelaman. Ingat ketika Nemo mengikuti rombongan penyu melintasi samudera dengan 'membonceng' arus deras? Ya, kurang lebih seperti itulah rasanya.

Sebagai penyelam yang belum terlalu banyak menjelajah wilayah di Indonesia, saya juga sangat terkesan dengan Manta Point. Situs yang berada di tengah laut ini adalah cleaning station untuk puluhan manta ray. 2 macam manta berdada putih dan hitam berukuran raksasa (terbesar bentang sayapnya bisa mencapai 5 meter) hilir mudik ke tempat 'parkir' untuk membiarkan puluhan ikan kecil membersihkan badan mereka. Sama sekali tidak terganggu kehadiran para penyelam yang sedang mengabadikan mereka. Bahkan kita bisa berada dekat sekali (kurang lebih jarak 50 cm saja) dan tidak membuat mereka melarikan diri.

Secara keseluruhan, dari tanggal 19 sampai dengan 25 Januari 2009 tinggal di Kri Eco Resort, saya hanya menyelam di 11 spots yaitu Cape Kri, Chicken Reef, Five Rocks, Mios Kon, Sardine Reef, Manta Point (2 kali), Merpati Reef, Mike's Point, Wasrer, The Passage dan West Mansuar. Berarti, pengalaman menyelam di Raja Ampat bagi saya masih sangat jauh dari cukup mengingat kawasan ini memiliki ratusan spots dengan keunikannya masing-masing.












Salah satu wilayah yang masih mengundang keinginan untuk saya kunjungi di kawasan ini adalah wilayah Misool yang berjarak 4 jam dari kota Sorong yang terkenal dengan dive resort kelas atas: Misool Eco Resort. Sudah pasti harus masuk agenda menyelam saya berikutnya. Tapi entah kapan.

Pilihan untuk melakukan jelajah ke lebih banyak dive site memang lebih baik dilakukan dengan liveaboard, atau tinggal di kapal yang membawa berkeliling. Hal ini tidak saya lakukan, ketika pertama kali ke Raja Ampat, karena saya lebih memilih berada di antara lingkungan setempat. Kurang elok rasanya mendatangi sebuah tempat pertama kali tapi kita hanya berada di kapal terus menerus tanpa menyatu dengan lingkungan. Dengan tinggal di Kri Eco Resort, saya banyak ngobrol dan berinteraksi dengan para pegawai lokal di sana dan sedikit banyak mendapat banyak pengetahuan mengenai berbagai kondisi dan kearifan lokal masyarakat Raja Ampat.


Catatan Penutup: Perjalanan Ini Jadi Lebih Mahal

Satu perbuatan yang sungguh bodoh, saya lakukan dalam perjalanan ini. Sore menjelang gelap, setelah minum 2 botol bir saya berjalan ke arah jetty untuk bersantai menikmati matahari tenggelam yang sungguh indah. Begitu santainya suasana, ketika bermaksud kembali ke kamar, saya sibuk ber-sms tanpa sadar bahwa langit sudah gelap, penerangan sangat minim dan jembatan dari jetty menuju kamar tidak memiliki pembatas. Alhasil, saya tiba-tiba sudah berada setengah di udara dengan tangan memegang telepon genggam. Kemudian sayapun nyemplung dari ketinggian 1 meter ke laut bersama sebuah Blackberry Bold.

Sebuah keteledoran yang sungguh mahal karena air laut langsung membuat telepon genggam saya tidak bisa berfungsi, sekalipun segala macam teknik pengeringan sudah dilakukan: membasuh dengan air tawar, mengeringkan dengan angin dari tabung selam yang sangat kuat, merendam di dalam beras, dan lain sebagainya. Omel istri kepada saya, harga sebuah bold itu sama dengan mengajak dia ke Raja Ampat. Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, hehehehe.







Friday, January 08, 2010

mari saling berbagi dan mendukung harapan



Di situs myhope2010.com ini kita bisa mencantumkan harapan kita dan berbaginya bersama harapan orang-orang lain. Selain itu kita dapat pula memberi dukungan kepada harapan orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang lain dapat mendukung harapan kita.

Situs ini memang diniatkan menjadi ruang terbuka bersama. Sebuah dunia baru yang partisipatif, berbagi dan terbuka. Bila anda tertarik, silakan kunjungi myhope2010.com dan mari berbagi dan saling mendukung sesama kita.

Sunday, September 23, 2007

Dejavu?

'Sempurna' dari Andra and The Backbones. Sebagian besar pasti sudah pernah mendengar lagu yang sedang hits di tanah air. Atau malah mungkin sudah bercokol di playlist iPod anda.

Satu lagu dari album perdana grup musik yang dimotori oleh Andra (Dewa 19) ini memang sangat populer dan kerap diputar berkali-kali di radio. Buat cewek lagu ini lebih populer lagi.

Nah, entah sengaja atau tidak, kuping saya agak menemukan kemiripan intro melodi lagu Sempurna dengan intro melodi dari lagu Homesick dari album Riot On An Empty Street dari grup musik Kings of Convenience.

Kedua lagu yang bergaya akustik ini mengandalkan kekuatan 'sound' gitar. Hanya lagu Homesick terasa lebih akustik. Mungkin saya salah. Tapi cobalah simak baik-baik bila kebetulan anda menyimpan kedua album ini di iPod anda.

Tuesday, July 31, 2007

Gadget yang asik: Ergorapido

Ketika pergi belanja ke Home Cientro di Kemayoran, saya dan isteri menemukan sebuah gadget baru yang sangat menyenangkan. Mainan baru ini bukan laptop, hape, pemutar musik atau perangkat hiburan, tapi 'cuma' sebuah alat penyedot debu/kotoran alias vacuum cleaner. Namanya Ergorapido dari Electrolux yang menurut penciptanya, berasal dari kata ergonomic dan rapid.

Ketika melihat desainnya, mata kami langsung terpikat. Terutama karena tidak nampak adanya gulungan kabel dan bentuk langsingnya agak berbeda dari kebanyakan vacuum cleaner yang ada. Ergorapido secara cerdas dirancang dengan menggunakan tenaga baterai yang dapat diisi ulang di station yang disediakan. Lebih oke lagi, Ergorapido ternyata adalah perangkat 2in1. Artinya, dia dapat digunakan secara umum seperti penyedot debu rumah, tapi tanpa kabel, juga bisa dilepas tengahnya dan berfungsi menjadi penyedot debu portabel di tangan. Desain Ergorapido memang berbasis pada penyedot portabel. Bagi pemilik rumah yang besar, Ergorapido mungkin kurang cukup karena daya tampungnya. Tapi buat kami yang hanya tinggal di sebuah apartemen yang ukurannya cuma seuprit, dan tidak memiliki orang yang tinggal dan standby setiap hari untuk membersihkan rumah, Ergorapido seperti sebuah 'pencerahan' untuk masalah domestik. Apalagi desain dan fungsinya yang ciamik, rasanya seperti sedang menikmati karya-karya rancangan Apple Computer saja.

Menggunakan penyedot debu bebas kabel untuk membersihkan lantai memang sangat menyenangkan. Kami tak perlu repot-repot memindahkan colokan kabelnya untuk mendekati area yang ingin dibersihkan. Bentuknya yang langsing juga memudahkan penggunaan karena relatif jarang terantuk benda-benda yang memenuhi ruangan seuprit di apartemen kami. Ujungnya pun mampu berputar 360 derajat, membuatnya lincah menjangkau sudut-sudut sulit. Mau membersihkan sofa dan meja di bagian atas? Tinggal copot saja portabelnya. Enak banget deh!

Kekurangan dari Ergorapido -- selain kapasitasnya yang hanya ukuran portabel -- menurut saya adalah tidak adanya indikator kapasitas baterei tersisa. Kalau saja perancangnya mau meniru laptop Mac yang menaruh indikator baterei di baliknya, tentu akan sangat membantu pemakainya untuk mengetahui kapasitas baterei yang tersisa.

Lebih dari itu, Ergorapido sangat menarik untuk Anda yang tinggal di apartemen kecil macam kami. Untuk desain dan fungsi semenarik ini, Ergorapido juga bisa dibilang cukup terjangkau. Harganya sekitar 1 juta beberapa puluh ribu perak. Jauh dari harga vacuum cleaner robot yang harganya masih puluhan juta. Jadi tidak ada salahnya kalau mau 'mengintipnya' ke Home Cientro. Sayang, warna yang tersedia cuma merah. Padahal Ergorapido sebenarnya memiliki 4 macam warna yang sangat menarik.