<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310</id><updated>2012-02-03T12:18:45.991+07:00</updated><title type='text'>Asmara Kata</title><subtitle type='html'>mengandung tawa, senang, kagum, sebel, jengkel, protes, sinis, haru, geli, bingung, marah, mimpi, harap, suka, duka, kangen, sok tahu, emosi, pasrah, malu, tanya, takut, gelisah, penasaran, pusing, kesal, cuek, bengong, sirik, sedih, gombal...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-3039817747969309801</id><published>2011-01-14T13:36:00.003+07:00</published><updated>2011-10-03T16:53:47.114+07:00</updated><title type='text'>Jangan Hanya VOTE Komodo. Ayo, VISIT Komodo.</title><content type='html'>&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Apabila anda masih berpikiran bahwa Kepulauan Komodo hanyalah sebuah tujuan wisata bagi para penyelam dan &lt;i&gt;backpackers&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan fasilitas super minim, anda salah besar.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pikiran seperti itu, saya yakin, masih melekat pada banyak kalangan menengah kota besar Indonesia yang sekarang gandrung melakukan wisata nusantara. Terutama bagi mereka yang biasa berwisata bersama keluarga: ayah-ibu dan putera-puterinya. Faktor kenyamanan perjalanan dan kelengkapan fasilitas di daerah tujuan wisata, menjadi faktor pertimbangan yang sangat penting.&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini saya alami sendiri selama dua kali di tahun 2010. Berwisata jalan-jalan dan snorkeling dan menyelam bersama sebuah kapal. Tapi di artikel ini, saya akan mencerita yang pertama dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata jalan-jalan dan snorkeling di Komodo saya lakukan bersama sejumlah rekan-rekan se-industri dengan latar pengalaman berwisata yang tidak seragam, perencanaan perjalanan pun memperoleh sejumlah pertanyaan yang biasa kita temui. Seperti: apakah ada pesawat menuju Kepulauan Komodo; seperti apa pesawatnya dan berapa lama perjalanannya; apakah dari bandara ke hotel jalannya bagus dan berapa dekat; seperti apa hotelnya di sana; bagaimana kita berkeliling di sana; seperti apa perjalanan ke Pulau Komodo; bagaimana ombak di lautnya; apakah aman mengunjungi binatang komodo yang sangat ganas itu; seperti apa kapalnya; dan berbagai pertanyaan lainnya yang, pada intinya, menunjukkan kurangnya informasi yang kita miliki terhadap Kepulauan Komodo.&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Labuan Bajo: Kota Kecil yang Siap Menerima Anda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Times; font-weight: normal;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7JxkoBg3I/AAAAAAAAAgg/biTH0Jzaw6E/s1600/L1010313.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7JxkoBg3I/AAAAAAAAAgg/biTH0Jzaw6E/s400/L1010313.JPG" style="cursor: move;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Cara paling mudah menuju Kepulauan Komodo adalah melalui kota pelabuhan Labuan Bajo. Posisi peran Labuan Bajo ini persis seperti Marina Ancol dengan Kepulauan Seribu di Jakarta. Sementara, cara paling mudah menuju Labuan Bajo adalah dengan pesawat terbang dari Denpasar.&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Setiap hari ada 2 kali penerbangan Denpasar - Labuan Bajo pp dengan Transnusa/Aviastar (&lt;a href="http://www.transnusa.co.id/"&gt;www.transnusa.co.id&lt;/a&gt;) dengan jenis pesawat berbeda. Lama perjalanan kurang lebih hanya 50 menit. Dekat bukan? Namun, karena pada saat kami ke sana hanya ada satu airline ini yang beroperasi, harga tiket pesawatnya memang relatif mahal. Jarak Denpasar - Labuan Bajo yang hanya 50 menit, harga tiketnya berkisar antara 600 - 800 ribu rupiah satu arah. Ketika terakhir berada di sana bulan Agustus 2010, saya membaca di bandara bahwa Batavia Air juga akan segera beroperasi dengan rute yang sama. Semoga, dengan adanya itu, harga tiket akan turun karena terjadinya persaingan.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Penerbangan Denpasar - Labuan Bajo dan sebaliknya, bila cuaca sangat cerah, adalah penerbangan yang sangat menyenangkan. Karena kita akan mendapat pemandangan yang spektakuler sepanjang perjalanan. Terutama ketika memasuki wilayah perairan Kepulauan Komodo. Bila anda peminat fotografi, siapkan lensa tele dan pesanlah tempat duduk di pinggir jendela sebelah kanan (saat kembali menuju Denpasar, jendela sebelah kiri). Niscaya anda akan memperoleh kesenangan mengabadikan panorama kepulauan Komodo yang cantik.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Bandara Komodo di kota Pelabuhan Labuan Bajo sendiri adalah sebuah bandara yang sangat sederhana. Kategorinya hanya sebuah bandara perintis. Tentu saja, tidak ada penerbangan malam hari menuju Labuan Bajo. Selain tujuan ke Denpasar, bandara ini hanya melayani rute Kupang dan Mataram dengan airline yang sama. Untuk tujuan dari dan ke Kupang, hanya ada 3 kali penerbangan dalam seminggu.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Bila mau lebih terorganisir dengan rapi, walaupun menjadi lebih mahal, anda bisa mengatur seluruh trip perjalanan ke Komodo melalui biro perjalanan di Bali. Sudah cukup banyak yang melayani. Mereka bisa mengatur semuanya dalam 1 paket, mencakup: pesawat Denpasar - Labuan Bajo - Denpasar, hotel, guide dan transportasi penjemputan dan keliling, sewa kapal dan peralatan snorkeling termasuk mengunjungi Komodo, dan makan siang dan malam. Untuk paket yang cukup nyaman, dengan pilihan menginap di Hotel Bintang Flores (&lt;a href="http://www.bintangfloreshotel.com/"&gt;www.bintangfloreshotel.com&lt;/a&gt;) atau Jayakarta Hotel (&lt;a href="http://www.jayakartahotelsresorts.com/hotels-and-resorts/suites-komodo-flores"&gt;www.jayakartahotelsresorts.com/hotels-and-resorts/suites-komodo-flores&lt;/a&gt;), seluruhnya terkena biaya sekitar Rp 4,8 juta per orang. Tentunya berlaku jumlah minimal. Semakin sedikit orang akan semakin mahal.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Bila Ingin Nyaman: Pilih Hotel Bintang Flores atau Jayakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7rhnQfFpI/AAAAAAAAAgs/OzF3qZx4kxM/s1600/L1010379.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7ldTsRQ6I/AAAAAAAAAgk/DFu8JAJfikc/s1600/L1010353.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7ldTsRQ6I/AAAAAAAAAgk/DFu8JAJfikc/s1600/L1010353.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7ldTsRQ6I/AAAAAAAAAgk/DFu8JAJfikc/s400/L1010353.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: none; color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7rhnQfFpI/AAAAAAAAAgs/OzF3qZx4kxM/s1600/L1010379.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7rhnQfFpI/AAAAAAAAAgs/OzF3qZx4kxM/s200/L1010379.JPG" width="111" /&gt;&lt;/a&gt;Hotel Bintang Flores yang kami tempati adalah sebuah hotel yang sangat nyaman. Sebuah hotel bintang empat milik kelompok hotel Ramada yang berbasis di Bali. Jaraknya dari bandara hanya 10 menit. Berada di hotel ini dan menikmati fasilitas di dalamnya, anda tidak akan merasa ada bedanya ketika sedang berada di sebuah resort yang modern di Bali.&amp;nbsp;Posisinya menghadap laut, sehingga anda bisa menikmati panorama matahari terbenam yang indah setiap sore dari pinggir kolam renang atau pantai. Bila ingin yang lebih 'mojok' lagi, anda bisa memilih Jayakarta Hotel yang jaraknya kurang lebih 4 kilometer dari Hotel Bintang Flores. Juga berada di tepi pantai menghadap ke gugusan kepulauan Komodo. Bagi para backpacker, pilihan hotel-hotel sederhana justru berjejer di dekat dive shops dan pelabuhan. Nampaknya memang disiapkan untuk melayani para penyelam manca negara yang hanya butuh tempat 'numpang' tidur saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Gua Batu Cermin yang Eksotis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_l9TZmE9I/AAAAAAAAAg0/ygxbiLxAn00/s1600/L1010250.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_l9TZmE9I/AAAAAAAAAg0/ygxbiLxAn00/s200/L1010250.JPG" style="cursor: move;" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_mC2TpuzI/AAAAAAAAAg4/nEwisA4IQjk/s1600/L1010252.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_mC2TpuzI/AAAAAAAAAg4/nEwisA4IQjk/s200/L1010252.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_lZw-KKwI/AAAAAAAAAgw/M66RTpPP-sc/s1600/L1010198.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_lZw-KKwI/AAAAAAAAAgw/M66RTpPP-sc/s200/L1010198.JPG" width="112" /&gt;&lt;/a&gt;Hari pertama, kami mengunjungi tempat wisata darat yang jadi andalan kota Labuan Bajo, yakni Gua Batu Cermin. Gua yang ditemukan oleh orang Belanda ini dinamakan demikian karena di salah satu sudut di gua tersebut ada cahaya matahari yang menembus bebatuan yang berair sehingga menciptakan refleksi seperti cermin. Rute-rute di dalam gua ini cukup dalam dan menarik dengan berbagai mitos bentuk-bentuk wujud yang ada pada bebatuannya. Kurang lebih, membutuhkan waktu 1 sampai 1,5 jam untuk berkeliling di dalam gua ini. Jangan khawatir, pemandu wisata anda akan menyediakan senter dan memandu kita melakukan perjalanan menembus gua, yang di beberapa bagiannya memang benar-benar gelap total. Bersiaplah menemui berbagai jenis serangga atau binatang yang cukup unik di dalam gua tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Selesai dari gua Batu Cermin yang jaraknya hanya sekitar 15 menit dari Labuan Bajo, kami langsung menuju pelabuhan. Mendekati pelabuhan, karena kontur kota yang sedikit berbukit, kita akan menikmati pemandangan yang menarik dari atas ke arah pelabuhan. Tempat yang asik untuk berhenti sebentar dan mengambil foto-foto dengan latar pelabuhan, laut dan gugusan pulau. Selanjutnya, tujuan utama hari ini adalah snorkeling di Pulau Bidadari atau Angel Island. Benar, nama pulaunya sama dengan yang di Kepulauan Seribu, Jakarta. Tapi tentu dengan pemandangan dan alam bawah laut yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TScPn5NWH-I/AAAAAAAAAgM/dccJvw0Gmzc/s1600/L1010348.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TScPn5NWH-I/AAAAAAAAAgM/dccJvw0Gmzc/s400/L1010348.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Dengan sebuah kapal sewaan yang cukup besar tapi kecepatan yang lambat, jarak dari pelabuhan Labuan Bajo ke Pulau Bidadari ternyata tidak sampai 30 menit. Karena itu, Angel Island Resort (&lt;a href="http://angelisleflores.com/"&gt;angelisleflores.com&lt;/a&gt;) sebuah resort di pulau ini yang dikelola oleh orang Inggris merupakan salah satu pilihan yang menarik. Di pulau ini kami beramai-ramai menikmati snorkeling yang tidak kalah indahnya dengan snorkeling di Bali, Lombok atau Bunaken. Padahal kami cuma snorkeling di sisi lain dari pulau ini yang diijinkan untuk publik. Saya yakin, pantai tepat di depan resort yang hanya boleh untuk tamu mereka akan memperlihatkan panorama bawah laut yang lebih keren buat para snorkeller. Jadi, pulau ini bisa menjadi salah satu alternatif menarik untuk menginap apabila anda berkunjung ke Komodo dan semata betul ingin menikmati keindahan laut.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_n9TlOGvI/AAAAAAAAAhA/7JIFN0jykOI/s1600/L1010320.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_n9TlOGvI/AAAAAAAAAhA/7JIFN0jykOI/s400/L1010320.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_oDybtGPI/AAAAAAAAAhE/Y7UsO74e918/s1600/L1010322.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_oDybtGPI/AAAAAAAAAhE/Y7UsO74e918/s400/L1010322.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_oIe6gqUI/AAAAAAAAAhI/qO0COVsZq9E/s1600/L1010318.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_oIe6gqUI/AAAAAAAAAhI/qO0COVsZq9E/s400/L1010318.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Lebih Dekat Melihat Komodo di Pulau Rinca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ol_1-SLI/AAAAAAAAAhM/SZqD24gMhnI/s1600/L1010467.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ol_1-SLI/AAAAAAAAAhM/SZqD24gMhnI/s400/L1010467.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_o9F21PgI/AAAAAAAAAhc/_N_CkdI8gkU/s1600/L1010536.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_o9F21PgI/AAAAAAAAAhc/_N_CkdI8gkU/s200/L1010536.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_o0xuGibI/AAAAAAAAAhY/FU0KkMvlZQs/s1600/L1010521.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_o0xuGibI/AAAAAAAAAhY/FU0KkMvlZQs/s200/L1010521.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Hari kedua, adalah hari di mana kami punya waktu penuh seharian. Inilah tujuan utama perjalanan wisata kami: melihat sang komodo.&amp;nbsp;Kami mengubah sedikit rencana di hari ini. Semula, kami berencana menuju Pulau Komodo dan Pink Beach yang berlokasi di dekatnya. Hanya perjalanan menuju Pulau Komodo dengan jenis kapal yang kami sewa, akan memakan waktu 4 jam. Itu berarti, pulang-pergi 8 jam. Apalagi, Pulau Komodo adalah kepulauan terluas di gugusan kepulauan Komodo. Menurut pemandu, dengan jumlah populasi komodo yang tidak berbeda jauh dengan Pulau Rinca yang lebih kecil (2.000 ekor lebih). Sementara jarak ke pulau Rinca bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam dari Labuan Bajo. Sementara, sebagian peserta masih ingin menikmati snorkeling. Akhirnya, menikmati dan mengabadikan Pink Beach yang dikorbankan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_orfybGHI/AAAAAAAAAhQ/UksUb6WpKl4/s1600/L1010476.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_orfybGHI/AAAAAAAAAhQ/UksUb6WpKl4/s200/L1010476.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ouP77bmI/AAAAAAAAAhU/wFpldHI7KD8/s1600/L1010482.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ouP77bmI/AAAAAAAAAhU/wFpldHI7KD8/s200/L1010482.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan menuju Pulau Rinca diwarnai dengan cuaca yang sangat cerah dan laut yang sangat tenang hingga sore hari. Begitu tenangnya, kapal nyaris seperti berlayar di atas permukaan agar-agar. Sepanjang perjalanan kita menikmati profil khas pulau-pulau di kepulauan Komodo yang kering dan kecoklatan, namun indah dipandang.&amp;nbsp;Ketika tiba di pulau Rinca, kita harus berjalan kaki sejauh 500 meter untuk mencapai bangunan tempat pengelola Taman Nasional Komodo, markasnya para rangers pemandu wisata komodo. Di pulau Rinca, ada 2 pilihan waktu trekking untuk melihat komodo. 1 jam dan 2 jam. Selama trekking, anda juga bisa berjumpa dengan satwa lainnya, antara lain kerbau hutan yang sangat besar. Berhadapan dengan salah satu satwa paling purba di muka bumi ini, memang terasa aura keganasannya. Hal itu makin menjadi justru karena gerak-geriknya yang sangat tenang. Tapi tidak ada ruginya untuk bisa melihatnya langsung dalam jarak dekat selama kita ikuti panduan dari para ranger yang faham betul perilaku satwa purba ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Seperti niat semula, dari Rinca, dalam perjalanan pulang kami pun mampir di pulau Sebayur untuk snorkeling lagi. Berhubung sebagian besar peserta bukanlah orang yang sudah terbiasa nyemplung di laut, kami pun hanya snorkeling persis di tepi pantai dan di sekitar jetty tempat kapal berlabuh. Di jetty, bagian terdalam di mana kapal merapat, untuk pertama kalinya di saat snorkeling, saya menemukan school of fish (kelompok ikan) berjumlah ribuan sedang 'parkir' di kedalaman jetty. Saking banyaknya, bahkan saya sempat menyangkanya mereka adalah dasar laut, karena gelap sekali. Luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Talenta yang Tersembunyi di Bidadari Bar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_qaO6fMkI/AAAAAAAAAhg/cDzJLbEfpFs/s1600/L1010394.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_qaO6fMkI/AAAAAAAAAhg/cDzJLbEfpFs/s200/L1010394.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ql0LgKCI/AAAAAAAAAhk/vpL8hv4cvMY/s1600/L1010383.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_ql0LgKCI/AAAAAAAAAhk/vpL8hv4cvMY/s200/L1010383.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Catatan terakhir dari wisata ini adalah Bidadari Bar. Restoran dan tempat minum berlokasi di tepi laut yang pada malam hari menyajikan pemandangan pelabuhan Labuan Bajo yang cantik. Memang tidak ada yang istimewa dari kuliner di Labuan Bajo.&amp;nbsp;Bahkan, untuk sebuah kota pelabuhan agak aneh bila sulit ditemukan hidangan laut seperti kepiting dan lobster yang menjadi favorit banyak wisatawan. Namun, selama 2 hari berturut kami makan di Paradise Bar sudah sangat dipuaskan oleh 2 menu: ikan tuna besar yang dibakar dan live music yang menampilkan pemuda-pemuda lokal bernyanyi akustik dengan sangat bagus. Bahkan dengan kualitas suara di atas idol-idol di televisi. Mereka bahkan tidak punya nama untuk grup mereka, ketika ditanyakan.&amp;nbsp;Mereka biasanya hanya tampil setiap hari Sabtu malam. Bila anda berada di Labuan Bajo pada Sabtu malam, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati hiburan mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Oleh-oleh apa yang pantas dibawa dari Labuan Bajo? Saya tidak terlalu mengamati. Tapi tentu Flores terkenal dengan kain tenun tradisionalnya. Hanya saya tidak melihat mudah ditemukan selama berada di Labuan Bajo. Ketika pulang, kami memesan kopi lokal tanpa merek melalui pemandu wisata. Ternyata, rasanya benar-benar enak. Ini tentu sekaligus menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu surganya kopi di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Kepulauan Komodo, memang sudah sangat lama terkenal sebagai salah satu tempat yang istimewa di Indonesia. Wilayah ini menyimpan banyak jejak sejarah bumi yang purba. Itu sebabnya sekarang tempat ini sedang dikampanyekan untuk, tetap terpilih sebagai salah satu Keajaiban Dunia.&amp;nbsp;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_rV7xffgI/AAAAAAAAAho/Cao540xqTas/s1600/L1010361.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS_rV7xffgI/AAAAAAAAAho/Cao540xqTas/s400/L1010361.JPG" style="cursor: move;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;Namun, era wisata yang lebih nyaman, memang baru bisa dilakukan baru-baru ini. Semuanya relatif sudah mudah dan nyaman di sana. Satu-satunya kendala dalam perencanaan wisata ke sini, mungkin harga tiket pesawat Denpasar - Labuan Bajo yang masih di atas rata-rata penerbangan murah yang sekarang bertaburan. Bila anda bandingkan dengan harga tiket penerbangan perintis di wilayah Indonesia Timur, harga di kisaran Rp 600 ribu sampai 800 ribu sekali jalan, memang umum. Tapi anda tak akan menyesal. Ayo, VISIT Komodo.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-3039817747969309801?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/3039817747969309801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=3039817747969309801&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3039817747969309801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3039817747969309801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2011/01/jangan-hanya-vote-komodo-ayo-visit.html' title='Jangan Hanya VOTE Komodo. Ayo, VISIT Komodo.'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/TS7JxkoBg3I/AAAAAAAAAgg/biTH0Jzaw6E/s72-c/L1010313.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-8186506685672395207</id><published>2010-12-16T16:46:00.000+07:00</published><updated>2010-12-16T16:46:55.238+07:00</updated><title type='text'>Didedikasikan ulang untuk Timnas Indonesia di AFF Cup 2010</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-44bc0150369b0912" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v18.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3D44bc0150369b0912%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330401446%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D72A27EF4F3158C0B9662B1E9195A38FB2D5ACBBD.7178FBE8A1F970B1C9FD80A801ED0C8F83CBC676%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D44bc0150369b0912%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DWPVzmK3Tz885bgt53JBVanDjPEs&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v18.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3D44bc0150369b0912%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330401446%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D72A27EF4F3158C0B9662B1E9195A38FB2D5ACBBD.7178FBE8A1F970B1C9FD80A801ED0C8F83CBC676%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D44bc0150369b0912%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DWPVzmK3Tz885bgt53JBVanDjPEs&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Lagu ini rasanya masih relevan dijadikan lagu pendukung untuk Tim Nasional Indonesia berlaga di piala AFF 2010 yang sedang berlangsung. Enjoy!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-8186506685672395207?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/8186506685672395207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=8186506685672395207&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/8186506685672395207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/8186506685672395207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2010/12/didedikasikan-ulang-untuk-timnas.html' title='Didedikasikan ulang untuk Timnas Indonesia di AFF Cup 2010'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-8697503010933799961</id><published>2010-02-09T15:26:00.036+07:00</published><updated>2010-03-28T15:41:15.493+07:00</updated><title type='text'>Terlalu Cepat ke Raja Ampat</title><content type='html'>Kalau tulisan ini mau diartikan sebagai sebuah oleh-oleh, tentu sudah sangat basi dan bulukan. Karena perjalanan menyelam ke kawasan Raja Ampat ini sudah saya lakukan satu tahun lebih. &lt;div&gt;Namun, berhubung cuma cerita yang tidak bisa basi dan bulukan, saya putuskan tetap membaginya dalam bentuk cerita ringkas perjalanan. Semoga tidak menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Tempat Idaman Para Penyelam dari Seluruh Dunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kawasan Raja Ampat jadi makin mendunia setelah hasil penelitian &lt;b&gt;Dr. Gerald Allen&lt;/b&gt; asal Australia diakui secara ilmiah. Temuan penelitian ini menetapkan Raja Ampat sebagai &lt;i&gt;greatest biodiversity ever registered&lt;/i&gt; untuk kehidupan bawah laut. 970 species bawah laut tercatat sebagai terbanyak yang pernah ada di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, liputan mengenai Raja Ampat di berbagai media televisi dan cetak makin melambungkan popularitas tempat ini. Untungnya, kawasan ini belum (dan mudah-mudahan tidak) layak dijadikan kawasan tujuan wisata umum karena beberapa sebab, antara lain: infrastruktur pariwisatanya secara khusus baru menampung kegiatan menyelam, harga penginapan yang di atas rata-rata, serta perjalanan menuju Sorong, kota terdekat dari kawasan Raja Ampat, masih termasuk kategori perjalanan 'penuh perjuangan' yang tidak mudah, seperti yang saya alami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Max Ammer&lt;/b&gt; adalah nama yang harus disebut sebagai 'penemu' dan pelopor kegiatan diving di kawasan Raja Ampat. Pria asal Belanda ini telah jatuh cinta dan menetap di kawasan ini lebih dari 15 tahun yang lalu. Dia membuka mata dunia terhadap kekayaan bawah laut Raja Ampat dan menjadikan kawasan ini sebagai semacam &lt;i&gt;ultimate destination&lt;/i&gt; bagi para penyelam di seluruh dunia melalui Kri Eco Resort (dan kemudian belakangan bertambah dengan Sorido Bay Resort dengan standard yang lebih mewah). Kedua resor ini sejak awal sudah dibangun dengan visi yang jelas: kapasitas dibuat sangat terbatas agak kegiatan penyelaman di kawasan ini tidak terlalu mengganggu ekosistemnya, mengajak masyarakat sekitar menjadi sumber daya, dan bekerjasama dengan pemerintah daerah menerapkan sistem pemeliharaan lingkungan dan dukungan ekonomi kepada nelayan setempat untuk membatasi eksplorasi keanekaragaman sumber laut Raja Ampat. Tidak heran bila biaya &lt;i&gt;entrance fee&lt;/i&gt; di kawasan ini sangat mahal. Sebagai WNI saja saya harus membayar Rp 500.000,-, separuh dari yang dibayar para penyelam asing.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kini, Raja Ampat bisa dibilang adalah permata paling bersinar di kawasan &lt;i&gt;coral triangle&lt;/i&gt; dunia. Tidak heran bila kebanyakan penyelam tidak sabar untuk memasukkan kawasan ini ke dalam &lt;i&gt;diving log book &lt;/i&gt;mereka, begitu kesempatan datang. Termasuk saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk kategori penyelam pemula seperti saya, perjalanan menyelam ke Raja Ampat memang bisa dianggap terlalu cepat. Bagaimana tidak, di dalam log book saya pada saat itu, baru ada Lombok dan Bali. Belum ada Bunaken, Komodo, Wakatobi, Derawan, bahkan Kepulauan Seribu dan sekitarnya yang sangat dekat dari Jakarta. Saya dianggap mengambil 'jalan pintas' menuju lokasi terbaik yang ada di tanah air, hehehehe.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4ysnYWryOI/AAAAAAAAAao/EZHdbnG97EA/s1600-h/IMG_1289.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 243px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4ysnYWryOI/AAAAAAAAAao/EZHdbnG97EA/s400/IMG_1289.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443915842136557794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kri Eco Resort&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4yz08PeoZI/AAAAAAAAAaw/vGMo230XSeY/s1600-h/IMG_2542.jpg" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4yz08PeoZI/AAAAAAAAAaw/vGMo230XSeY/s400/IMG_2542.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443923771689705874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jetty Sorido Bay Resort&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Jakarta - Sorong: Perjalanan Ringan Jadi Berat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Jakarta - Sorong lewat Makasar seharusnya perjalanan yang biasa saja. Dengan transit kurang dari 1 jam, Jakarta - Sorong dapat dicapai kurang dari 5 jam. Itu sebabnya, dengan jadwal berangkat pukul 5 pagi dengan Merpati, saya sudah dijadwalkan untuk mulai menyelam sore hari. Apa lacur, perjalanan ke Sorong harus saya tempuh lebih panjang dari perjalanan Jakarta - London. Terbang dari Jakarta jam 5 pagi di hari Sabtu saya tiba di Sorong baru hari Minggu pukul 9 pagi. Total 28 jam perjalanan. Pesawat dari Makasar ke Sorong yang rencananya berangkat 1 jam setelah kami mendarat di Makasar, dipakai untuk tujuan lain. Dan kami pun terlunta-lunta di Bandara Hasanudin sampai pukul 7 malam akhirnya digelandang ke sebuah hotel melati yang lebih mirip motel esek-esek. Pukul 2 pagi kami mendadak dibangunkan untuk berangkat ke bandara karena pesawat akan berangkat pukul 5 pagi. Ternyata kami baru diberangkatkan ke Sorong pukul 7 pagi. Jadi, siapa bilang Merpati tak pernah ingkar janji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru menyadari kemudian, bahwa bandara di Sorong tidak bisa mendaratkan pesawat di malam hari karena lampu bandaranya dicuri. Itu sebabnya kami pun tidak bisa diterbangkan dari Makasar malam hari. Bandara yang sungguh seadanya ini ternyata tidak menyurutkan ribuan penyelam datang ke Raja Ampat untuk menikmati wisata menyelam kelas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Beberapa menit setelah berada di atas kapal motor cepat milik Papua Diving yang akan membawa kami ke Pulau Kri tempat Kri Eco Resort berada, di tepi laut kota Sorong baru terlihat betapa Raja Ampat adalah sebuah kawasan wisata menyelam terkenal. Jajaran kapal-kapal &lt;i&gt;liveaboard&lt;/i&gt; yang bertarif ribuan dollar untuk satu trip berkumpul di sini. Sudah jelas tentu pasar dari wisata ini bukanlah wisatawan lokal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti tahu bahwa kami telah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, Raja Ampat tidak menunggu hingga kami turun ke dalam laut untuk memamerkan kekayaan alam lautnya. Sepanjang perjalanan 2 jam, kami bertemu dengan 3 ekor ikan paus yang sedang melintas. Pemandangan yang cukup langka ini sedikit menghibur kami yang kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4UsTjeFANI/AAAAAAAAAZ0/iRqGADNgqC4/s1600-h/paus+06.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4UsTjeFANI/AAAAAAAAAZ0/iRqGADNgqC4/s320/paus+06.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441804439197647058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Kri Eco Resort: Lebih Indah dari yang Terlihat di Internet&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiburan kedua terbesar setelah menempuh perjalanan yang melelahkan adalah tempat saya menginap: &lt;a href="http://www.papua-diving.com/Resort-Kri-Eco.html"&gt;&lt;b&gt;Kri Eco Resort&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Ketika berencana ke Raja Ampat dan melakukan riset kiri-kanan, harga Kri Eco Resort adalah tempat yang paling terjangkau buat saya, dibanding&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.papua-diving.com/Resort-Sorido-Bay.html"&gt;&lt;b&gt;Sorido Bay Resort&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; (yang pemiliknya sama dan terletak satu pulau dengan Kri Eco Resort) serta &lt;a href="http://www.misoolecoresort.com/"&gt;&lt;b&gt;Misool Eco Resort&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; yang bisa membuat setiap penggemar liburan ke laut meneteskan air liurnya. Namun sayang, harganya berlipat kali lebih mahal. Untuk orang dengan pendapatan rupiah seperti saya, tarif 4000an Euro untuk  sungguh sangat berat. Bisa buat DP mobil dong, hehehe (catatan: saat ini mungkin di Raja Ampat sudah ada beberapa tempat baru di luar ketiga ini).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari melihat foto-foto Kri Eco Resort di internet, saya berangkat dengan ekspektasi yang tidak tinggi. Bersiap tinggal di sebuah tempat khas untuk backpacker bule yang seadanya. Kenyataannya, Kri Eco Resort adalah sebuah resort alami yang memiliki standar pemeliharaan dan pelayanan tidak kalah dengan resort berbintang lima sekalipun. Tempatnya sungguh lebih nyaman, bersih dan menyenangkan dari yang saya lihat di internet. Jadi dengan nyaman, para penyelam yang tinggal di sini bisa hilir mudik tanpa sandal. Setiap kali mau memasuki kamar atau tempat makan, sudah disediakan baskom besar di pinggir untuk membilas kaki dari pasir-pasir yang menempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQZeWp1JI/AAAAAAAAAbY/om9n066M4L4/s1600-h/IMG_2445.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQZeWp1JI/AAAAAAAAAbY/om9n066M4L4/s200/IMG_2445.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450640216344351890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQY3SWp5I/AAAAAAAAAbQ/jai7y0KRckc/s1600-h/IMG_2337.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQY3SWp5I/AAAAAAAAAbQ/jai7y0KRckc/s200/IMG_2337.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450640205857335186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQYZEAvOI/AAAAAAAAAbI/1gydIm9Ri5I/s1600-h/IMG_2333.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQYZEAvOI/AAAAAAAAAbI/1gydIm9Ri5I/s200/IMG_2333.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450640197744114914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQX69CFsI/AAAAAAAAAbA/XgXfpZHH00c/s1600-h/IMG_1705.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SQX69CFsI/AAAAAAAAAbA/XgXfpZHH00c/s200/IMG_1705.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450640189661779650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SOYXnVbAI/AAAAAAAAAa4/_4j4orMJOLQ/s1600-h/IMG_0704.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SOYXnVbAI/AAAAAAAAAa4/_4j4orMJOLQ/s200/IMG_0704.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450637998332144642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Kri Eco Resort yang nyaman dan bersih&lt;/i&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Bukan Tempat bagi Penyelam Pemula&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya adalah seorang penyelam berlisensi Open Water. Tergolong pemula. Hanya kebetulan saya sudah melakukan lebih dari 20 kali menyelam, makanya diperbolehkan ikut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain banyak &lt;i&gt;dive site&lt;/i&gt; yang arusnya deras, lanskap bawah laut Raja Ampat yang penuh dengan koral hidup yang sangat luas, membutuhkan ketrampilan menyelam sangat baik untuk menghindari rusaknya koral oleh para penyelam yang belum mampu menguasai keseimbangan tubuh di bawah laut. Itulah alasan kenapa kawasan Raja Ampat memprioritaskan para penyelam dengan lisensi &lt;i&gt;advanced&lt;/i&gt; dan jumlah penyelaman yang cukup banyak (minimal 20 kali).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terbukti, pada penyelaman pertama di sore hari di tempat berarus deras, saya langsung terpisah dari kelompok. Beruntung, Papua Diving membekali setiap penyelam dengan pengait darurat. Alhasil, saya harus mengaitkan diri ke karang keras supaya tidak terbawa arus lebih jauh, untuk kemudian naik sendiri setelah menunggu 5 menit tidak melihat kelompok. Inilah sambutan pertama di Raja Ampat: pengalaman pertama saya terbawa arus kencang sampai terpisah dengan kelompok (anggota kelompok saya terdiri dari para penyelam kelas instruktur).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain situs-situs yang masih bagus dan sangat kaya dengan spesies bawah laut, lokasi menyelam yang paling mengesankan dan unik untuk saya di Raja Ampat adalah The Passage. Di tempat ini kita menyelam ke semacam gua di pulau kecil hingga kedalaman 18 meter dan menemukan palung terbuka di dalamnya yang menjadi semacam lagoon untuk bersantai. Lebih menarik lagi, penyelaman di The Passage diakhiri dengan meloncat ke arus kencang yang membawa kita 'terbang' ke laut lepas untuk mengakhiri penyelaman. Ingat ketika Nemo mengikuti rombongan penyu melintasi samudera dengan 'membonceng' arus deras? Ya, kurang lebih seperti itulah rasanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagai penyelam yang belum terlalu banyak menjelajah wilayah di Indonesia, saya juga sangat terkesan dengan Manta Point. Situs yang berada di tengah laut ini adalah cleaning station untuk puluhan manta ray. 2 macam manta berdada putih dan hitam berukuran raksasa (terbesar bentang sayapnya bisa mencapai 5 meter) hilir mudik ke tempat 'parkir' untuk membiarkan puluhan ikan kecil membersihkan badan mereka. Sama sekali tidak terganggu kehadiran para penyelam yang sedang mengabadikan mereka. Bahkan kita bisa berada dekat sekali (kurang lebih jarak 50 cm saja) dan tidak membuat mereka melarikan diri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara keseluruhan, dari tanggal 19 sampai dengan 25 Januari 2009 tinggal di Kri Eco Resort, saya hanya menyelam di 11 spots yaitu Cape Kri, Chicken Reef, Five Rocks, Mios Kon, Sardine Reef, Manta Point (2 kali), Merpati Reef, Mike's Point, Wasrer, The Passage dan West Mansuar. Berarti, pengalaman menyelam di Raja Ampat bagi saya masih sangat jauh dari cukup mengingat kawasan ini memiliki ratusan spots dengan keunikannya masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SkZyLxdkI/AAAAAAAAAd4/7Kqd-YejmXg/s1600-h/IMG_2088.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SkZyLxdkI/AAAAAAAAAd4/7Kqd-YejmXg/s200/IMG_2088.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450662211899979330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj2OuhxWI/AAAAAAAAAdw/lmAYZTF6Rz4/s1600-h/IMG_2118.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj2OuhxWI/AAAAAAAAAdw/lmAYZTF6Rz4/s200/IMG_2118.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450661601086653794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1hRww4I/AAAAAAAAAdo/451OOvPrSW8/s1600-h/IMG_1450.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1hRww4I/AAAAAAAAAdo/451OOvPrSW8/s200/IMG_1450.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450661588886406018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1QnOypI/AAAAAAAAAdg/Txld7ttypc8/s1600-h/IMG_1436.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1QnOypI/AAAAAAAAAdg/Txld7ttypc8/s200/IMG_1436.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450661584413051538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1PDERHI/AAAAAAAAAdY/wkYlHhKOSJA/s1600-h/IMG_1389.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sj1PDERHI/AAAAAAAAAdY/wkYlHhKOSJA/s200/IMG_1389.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450661583992931442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjDrhokuI/AAAAAAAAAdQ/6wycYVK7gxY/s1600-h/IMG_1457.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjDrhokuI/AAAAAAAAAdQ/6wycYVK7gxY/s200/IMG_1457.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450660732643873506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjDI_DH8I/AAAAAAAAAdI/tyRVOxqRKs4/s1600-h/IMG_1765.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjDI_DH8I/AAAAAAAAAdI/tyRVOxqRKs4/s200/IMG_1765.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450660723372007362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjCwWb-XI/AAAAAAAAAdA/Vzigofjqo_g/s1600-h/IMG_1614.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjCwWb-XI/AAAAAAAAAdA/Vzigofjqo_g/s200/IMG_1614.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450660716759218546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjCb9ePhI/AAAAAAAAAc4/2hZYYKcQebQ/s1600-h/IMG_1066.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjCb9ePhI/AAAAAAAAAc4/2hZYYKcQebQ/s200/IMG_1066.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450660711285800466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjB9FDKmI/AAAAAAAAAcw/-kPSxuN81Nw/s1600-h/IMG_1154.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SjB9FDKmI/AAAAAAAAAcw/-kPSxuN81Nw/s200/IMG_1154.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450660702996081250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfoXccTYI/AAAAAAAAAco/0iekBHcc76o/s1600-h/IMG_1216.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 164px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfoXccTYI/AAAAAAAAAco/0iekBHcc76o/s200/IMG_1216.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450656964862037378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sfn586jHI/AAAAAAAAAcg/H3IXW9sqen0/s1600-h/IMG_1197.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sfn586jHI/AAAAAAAAAcg/H3IXW9sqen0/s200/IMG_1197.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450656956945173618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfnR6OXBI/AAAAAAAAAcY/KKjjMcVoRys/s1600-h/IMG_0716.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfnR6OXBI/AAAAAAAAAcY/KKjjMcVoRys/s200/IMG_0716.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450656946196470802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sfm_UyY4I/AAAAAAAAAcQ/6i8nTVU-MT8/s1600-h/IMG_2376.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6Sfm_UyY4I/AAAAAAAAAcQ/6i8nTVU-MT8/s200/IMG_2376.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450656941207610242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfmEzyHmI/AAAAAAAAAcI/TOSnFAKPxZg/s1600-h/IMG_2257.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SfmEzyHmI/AAAAAAAAAcI/TOSnFAKPxZg/s200/IMG_2257.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450656925499924066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdUMiSLAI/AAAAAAAAAcA/_QBOBkbab5I/s1600-h/IMG_2235.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdUMiSLAI/AAAAAAAAAcA/_QBOBkbab5I/s200/IMG_2235.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450654419313110018" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdT1T5tdI/AAAAAAAAAb4/cUmvhfQFtNo/s1600-h/IMG_2216.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdT1T5tdI/AAAAAAAAAb4/cUmvhfQFtNo/s200/IMG_2216.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450654413078771154" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdTHyWYfI/AAAAAAAAAbw/GbikZh44PVQ/s1600-h/IMG_2207.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdTHyWYfI/AAAAAAAAAbw/GbikZh44PVQ/s200/IMG_2207.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450654400858448370" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdSqKcCPI/AAAAAAAAAbo/fSidRG7Tnlw/s1600-h/IMG_0913.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdSqKcCPI/AAAAAAAAAbo/fSidRG7Tnlw/s200/IMG_0913.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450654392906418418" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdSOEUA6I/AAAAAAAAAbg/xPU9Kb97BfM/s1600-h/IMG_0806.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S6SdSOEUA6I/AAAAAAAAAbg/xPU9Kb97BfM/s200/IMG_0806.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450654385364534178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salah satu wilayah yang masih mengundang keinginan untuk saya kunjungi di kawasan ini adalah wilayah Misool yang berjarak 4 jam dari kota Sorong yang terkenal dengan dive resort kelas atas: Misool Eco Resort. Sudah pasti harus masuk agenda menyelam saya berikutnya. Tapi entah kapan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pilihan untuk melakukan jelajah ke lebih banyak dive site memang lebih baik dilakukan dengan liveaboard, atau tinggal di kapal yang membawa berkeliling. Hal ini tidak saya lakukan, ketika pertama kali ke Raja Ampat, karena saya lebih memilih berada di antara lingkungan setempat. Kurang elok rasanya mendatangi sebuah tempat pertama kali tapi kita hanya berada di kapal terus menerus tanpa menyatu dengan lingkungan. Dengan tinggal di Kri Eco Resort, saya banyak ngobrol dan berinteraksi dengan para pegawai lokal di sana dan sedikit banyak mendapat banyak pengetahuan mengenai berbagai kondisi dan kearifan lokal masyarakat Raja Ampat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Catatan Penutup: Perjalanan Ini Jadi Lebih Mahal&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu perbuatan yang sungguh bodoh, saya lakukan dalam perjalanan ini. Sore menjelang gelap, setelah minum 2 botol bir saya berjalan ke arah jetty untuk bersantai menikmati matahari tenggelam yang sungguh indah. Begitu santainya suasana, ketika bermaksud kembali ke kamar, saya sibuk ber-sms tanpa sadar bahwa langit sudah gelap, penerangan sangat minim dan jembatan dari jetty menuju kamar tidak memiliki pembatas. Alhasil, saya tiba-tiba sudah berada setengah di udara dengan tangan memegang telepon genggam. Kemudian sayapun nyemplung dari ketinggian 1 meter ke laut bersama sebuah Blackberry Bold. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebuah keteledoran yang sungguh mahal karena air laut langsung membuat telepon genggam saya tidak bisa berfungsi, sekalipun segala macam teknik pengeringan sudah dilakukan: membasuh dengan air tawar, mengeringkan dengan angin dari tabung selam yang sangat kuat, merendam di dalam beras, dan lain sebagainya. Omel istri kepada saya, harga sebuah&lt;i&gt; bold&lt;/i&gt; itu sama dengan mengajak dia ke Raja Ampat. Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, hehehehe.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-8697503010933799961?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/8697503010933799961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=8697503010933799961&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/8697503010933799961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/8697503010933799961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2010/02/terlalu-cepat-ke-raja-ampat.html' title='Terlalu Cepat ke Raja Ampat'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/S4ysnYWryOI/AAAAAAAAAao/EZHdbnG97EA/s72-c/IMG_1289.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-4505153251356913188</id><published>2010-01-08T18:22:00.002+07:00</published><updated>2010-01-08T18:32:18.543+07:00</updated><title type='text'>mari saling berbagi dan mendukung harapan</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://www.myhope2010.com/hopes/badges/48" width="254" height="300" scrolling="auto"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situs &lt;a href="http://myhope2010.com"&gt;myhope2010.com&lt;/a&gt; ini kita bisa mencantumkan harapan kita dan berbaginya bersama harapan orang-orang lain. Selain itu kita dapat pula memberi dukungan kepada harapan orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang lain dapat mendukung harapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs ini memang diniatkan menjadi ruang terbuka bersama. Sebuah dunia baru yang partisipatif, berbagi dan terbuka. Bila anda tertarik, silakan kunjungi &lt;a href="http://myhope2010.com"&gt;myhope2010.com&lt;/a&gt; dan mari berbagi dan saling mendukung sesama kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-4505153251356913188?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/4505153251356913188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=4505153251356913188&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/4505153251356913188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/4505153251356913188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2010/01/mari-saling-berbagi-dan-mendukung.html' title='mari saling berbagi dan mendukung harapan'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-5787341513793013306</id><published>2007-09-23T17:57:00.000+07:00</published><updated>2007-09-23T18:16:48.434+07:00</updated><title type='text'>Dejavu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RvZHXPy5eOI/AAAAAAAAAEM/ofxbAX9Ylwk/s1600-h/Andra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RvZHXPy5eOI/AAAAAAAAAEM/ofxbAX9Ylwk/s320/Andra.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113352891628353762" /&gt;&lt;/a&gt;'Sempurna' dari Andra and The Backbones. Sebagian besar pasti sudah pernah mendengar lagu yang sedang hits di tanah air. Atau malah mungkin sudah bercokol di playlist iPod anda.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu lagu dari album perdana grup musik yang dimotori oleh Andra (Dewa 19) ini memang sangat populer dan kerap diputar berkali-kali di radio. Buat cewek lagu ini lebih populer lagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, entah sengaja atau tidak, kuping saya agak menemukan kemiripan intro melodi lagu Sempurna dengan intro melodi dari lagu Homesick dari album Riot On An Empty Street dari grup musik Kings of Convenience.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kedua lagu yang bergaya akustik ini mengandalkan kekuatan 'sound' gitar. Hanya lagu Homesick terasa lebih akustik. Mungkin saya salah. Tapi cobalah simak baik-baik bila kebetulan anda menyimpan kedua album ini di iPod anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RvZKmfy5ePI/AAAAAAAAAEU/h9OBMql5-wc/s1600-h/Kings.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RvZKmfy5ePI/AAAAAAAAAEU/h9OBMql5-wc/s200/Kings.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113356452156242162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-5787341513793013306?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/5787341513793013306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=5787341513793013306&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/5787341513793013306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/5787341513793013306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/09/dejavu.html' title='Dejavu?'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RvZHXPy5eOI/AAAAAAAAAEM/ofxbAX9Ylwk/s72-c/Andra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-7228979006606006564</id><published>2007-07-31T18:33:00.000+07:00</published><updated>2007-08-03T15:08:46.907+07:00</updated><title type='text'>Gadget yang asik: Ergorapido</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RrLiGwuaSYI/AAAAAAAAAEE/QoHIIM3pPAI/s1600-h/Ergo+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RrLiGwuaSYI/AAAAAAAAAEE/QoHIIM3pPAI/s320/Ergo+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094382734296107394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika pergi belanja ke Home Cientro di Kemayoran, saya dan isteri menemukan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gadget&lt;/span&gt; baru yang sangat menyenangkan. Mainan baru ini bukan laptop, hape, pemutar musik atau perangkat hiburan, tapi 'cuma' sebuah alat penyedot debu/kotoran alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vacuum cleaner&lt;/span&gt;. Namanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ergorapido&lt;/span&gt; dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Electrolux&lt;/span&gt; yang menurut penciptanya, berasal dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ergonomic&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rapid&lt;/span&gt;. &lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika melihat desainnya, mata kami langsung terpikat. Terutama karena tidak nampak adanya gulungan kabel dan bentuk langsingnya agak berbeda dari kebanyakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vacuum cleaner&lt;/span&gt; yang ada. Ergorapido secara cerdas dirancang dengan menggunakan tenaga baterai yang dapat diisi ulang di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;station&lt;/span&gt; yang disediakan. Lebih oke lagi, Ergorapido ternyata adalah perangkat 2in1. Artinya, dia dapat digunakan secara umum seperti penyedot debu rumah, tapi tanpa kabel, juga bisa dilepas tengahnya dan berfungsi menjadi penyedot debu portabel di tangan. Desain Ergorapido memang berbasis pada penyedot portabel. Bagi pemilik rumah yang besar, Ergorapido mungkin kurang cukup karena daya tampungnya. Tapi buat kami yang hanya tinggal di sebuah apartemen yang ukurannya cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seuprit&lt;/span&gt;, dan tidak memiliki orang yang tinggal dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standby&lt;/span&gt; setiap hari untuk membersihkan rumah, Ergorapido seperti sebuah 'pencerahan' untuk masalah domestik. Apalagi desain dan fungsinya yang ciamik, rasanya seperti sedang menikmati karya-karya rancangan Apple Computer saja. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RrLg8AuaSXI/AAAAAAAAAD8/8vJ0J0GcjUg/s1600-h/Ergo+6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RrLg8AuaSXI/AAAAAAAAAD8/8vJ0J0GcjUg/s320/Ergo+6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094381450100885874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan penyedot debu bebas kabel untuk membersihkan lantai memang sangat menyenangkan. Kami tak perlu repot-repot memindahkan colokan kabelnya untuk mendekati area yang ingin dibersihkan. Bentuknya yang langsing juga memudahkan penggunaan karena relatif jarang terantuk benda-benda yang memenuhi ruangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seuprit&lt;/span&gt; di apartemen kami. Ujungnya pun mampu berputar 360 derajat, membuatnya lincah menjangkau sudut-sudut sulit. Mau membersihkan sofa dan meja di bagian atas? Tinggal copot saja portabelnya. Enak banget deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan dari Ergorapido -- selain kapasitasnya yang hanya ukuran portabel -- menurut saya adalah tidak adanya indikator kapasitas baterei tersisa. Kalau saja perancangnya mau meniru laptop Mac yang menaruh indikator baterei di baliknya, tentu akan sangat membantu pemakainya untuk mengetahui kapasitas baterei yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Ergorapido sangat menarik untuk Anda yang tinggal di apartemen kecil macam kami. Untuk desain dan fungsi semenarik ini, Ergorapido juga bisa dibilang cukup terjangkau. Harganya sekitar 1 juta beberapa puluh ribu perak. Jauh dari harga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vacuum cleaner&lt;/span&gt; robot yang harganya masih puluhan juta. Jadi tidak ada salahnya kalau mau 'mengintipnya' ke Home Cientro. Sayang, warna yang tersedia cuma merah. Padahal Ergorapido sebenarnya memiliki 4 macam warna yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-7228979006606006564?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/7228979006606006564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=7228979006606006564&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/7228979006606006564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/7228979006606006564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/07/gadget-yang-asik-ergorapido.html' title='Gadget yang asik: Ergorapido'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RrLiGwuaSYI/AAAAAAAAAEE/QoHIIM3pPAI/s72-c/Ergo+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-2941219021740457354</id><published>2007-07-17T23:22:00.000+07:00</published><updated>2007-07-18T01:24:13.244+07:00</updated><title type='text'>Merayakan Kehadiran Naskah-naskah Iklan Hebat!</title><content type='html'>Sebagai seorang copywriter afkiran, sudah lama saya tak menikmati kehadiran naskah-naskah iklan hebat di jagat periklanan nasional yang membuat saya 'iri' pada penulisnya. Tapi bulan Juli ini, saya dapat 'hadiah' 2 iklan sekaligus! Senangnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya saya ingin memberi judul topik ini 'Celebrating Craftmanships in Copywriting.' Tapi rasanya lebih mantap kalau judul di atas. Dengan bahasa kandang kita sendiri, hehehe.&lt;br /&gt;Topik ini saya hadirkan memang untuk menyampaikan salut setinggi-tingginya kepada para pekerja iklan yang terlibat melahirkan iklan-iklan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengirim ke Negeri Matahari Terbit sebelum  terbit matahari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rpz_53kmGjI/AAAAAAAAADU/80OdpZM8in8/s1600-h/Fedex.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rpz_53kmGjI/AAAAAAAAADU/80OdpZM8in8/s400/Fedex.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088223048656886322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Billboard&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Federal Express &lt;/span&gt;(&lt;a href="http://www.fedex.com/"&gt;FedEx&lt;/a&gt;) ini saya temukan di jembatan penyeberangan di jalan Warung Buncit Raya. Rasanya belum lama terpasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FedEx adalah salah satu perusahaan yang keberhasilan membangun identitas globalnya banyak dijadikan studi kasus. Mereka berhasil menerapkannya secara konsisten di seluruh dunia. Bila kita melihat cara penulisan naskahnya yang tanpa spasi, itu adalah satu konsistensi yang mereka terapkan untuk memperkuat pesan mereka, yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;We Live To Deliver&lt;/span&gt; (yang ditulis dengan teknik sama seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;billboard&lt;/span&gt; tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah maraknya iklan-iklan kampanye global yang kebanyakan terpuruk hanya menjadi iklan terjemahan tanpa jiwa, iklan ini berhasil membebaskan diri dari kekakuan dan kemalasan. Menilik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crafting&lt;/span&gt;bahasanya, iklan ini jelas bukan terjemahan mentah-mentah. Biro iklannya berhasil menangkap esensi merek dan menemukan jiwa baru yang relevan dalam bahasa Indonesia. Jadi siapa bilang, mentang-mentang citra global, harus di-londo-kan juga bahasanya? Kerja keras tim kreatif FedEx membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini Kandang Kita!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rp0BiHkmGkI/AAAAAAAAADc/-7OdZaRC5JM/s1600-h/kandang+kita+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rp0BiHkmGkI/AAAAAAAAADc/-7OdZaRC5JM/s400/kandang+kita+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088224839658248770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rp0Bu3kmGlI/AAAAAAAAADk/TFF7N8DIGRY/s1600-h/kandang+kita+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rp0Bu3kmGlI/AAAAAAAAADk/TFF7N8DIGRY/s400/kandang+kita+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088225058701580882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua penggila bola tentu akrab dengan jargon hebat satu ini. Apalagi sore nanti, Tim Nasional Indonesia akan mempertaruhkan nasibnya di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piala Asia 2007&lt;/span&gt; melawan raksasa sepak bola Asia, semifinalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, inilah sebuah platform kampanye global yang sukses dilokalkan oleh kerja keras tim dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Publicis Indonesia&lt;/span&gt; (info bocoran dari AdDiction) untuk &lt;a href="http://nikefootball.nike.com"&gt;Nike&lt;/a&gt;. Sumpah, waktu melewati jalan Asia Afrika dan melihat billboard raksasa ini terpasang di sepanjang jalan, saya menyumpah dalam hati: berharap sayalah copywriter dari iklan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Kandang Kita! Sungguh sebuah pesan yang dahsyat di momen yang tepat. Meneguhkan keyakinan di belahan mana pun di dunia, dalam olah raga, ketika kita bermain di kandang sendiri, 50% kemenangan sudah di tangan. Menangkap kerinduan yang sungguh terpendam dari pecinta sepakbola terhadap prestasi Tim Nasional. Mengungkap kepekatan fanatisme. Headline semacam ini hanya akan keluar dari orang-orang yang mau memahami benar kedalaman jiwa para penggemar sepakbola di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, silakan simak saja euphoria luar biasa yang sedang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) minggu ini dari liputan media. Iklan ini seperti sedang bekerjasama sempurna dengan semangat luar biasa Ponaryo Astaman cs. untuk membuktikan: nama Indonesia masih layak diteriakkan dan Indonesia Raya dinyanyikan dengan bangga secara bersamaan oleh 100 ribu lebih pendukung di GBK. Membuat siapa pun yang berada di tengahnya, pasti merinding dan meneteskan airmata haru. Hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, para pengiklan dan penulis iklan, masih menganggap bahasa londo lebih enak dan keren untuk berkomunikasi dengan bangsa sendiri? Makanya, jangan kebanyakan main di mal... hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-2941219021740457354?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/2941219021740457354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=2941219021740457354&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/2941219021740457354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/2941219021740457354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/07/merayakan-kehadiran-naskah-naskah-iklan.html' title='Merayakan Kehadiran Naskah-naskah Iklan Hebat!'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rpz_53kmGjI/AAAAAAAAADU/80OdpZM8in8/s72-c/Fedex.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-947527272756913518</id><published>2007-06-14T11:19:00.000+07:00</published><updated>2007-06-17T19:58:12.247+07:00</updated><title type='text'>Menghadap Tuhan Kemana? Kemana Tuhan Menghadap?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RnDEuQD7zYI/AAAAAAAAAC0/Mza0qiEaWYs/s1600-h/Meutia.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RnDEuQD7zYI/AAAAAAAAAC0/Mza0qiEaWYs/s400/Meutia.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075773078911044994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika melihat pemandangan yang tidak biasa seperti ini di sebuah rumah makan Aceh bernama Meutia di kawasan pasar Bendungan Hilir, tidak aneh bila pikiran saya yang menyaksikannya tiba-tiba menjadi sok politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian Selasa siang seminggu lalu ini, persis saya saksikan ketika sedang menyusul &lt;a href="http://www.pakde.com"&gt;Totot Indrarto&lt;/a&gt; (Strategic Planning Director Satucitra yang juga Chief Editor AdDiction) bersama beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;client service&lt;/span&gt; dari Satucitra (Marissa, Nancy, Ronald dan Indra Juwono) sedang makan siang bersama &lt;a href="http://kopilova.blogspot.com"&gt;Gandhi Suryoto&lt;/a&gt; (Creative Director Dentsu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak-anak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;client service&lt;/span&gt; Satucitra pamit pulang lebih dulu, saya tinggal bersama Totot dan Gandhi sambil ngobrol-ngobrol menikmati kopi khas Aceh.  Totot yang menangkap dulu 'kelainan' momen ini sambil senyum-senyum langsung memberitahu saya dan Gandhi. Juga seorang pelayan yang sedang menghitung makanan kemudian mengetahuinya. Kami sama-sama senyum-senyum simpul sendiri sambil tak satu pun ada yang merasa memiliki 'otoritas' untuk memberitahukan langsung kepada orang yang paling kanan, bahwa posisi sholatnya salah hadap. Di momen ini, saya sempat meminjamkan Totot telepon genggam berkamera untuk mengabadikannya seperti yang terlihat di atas. Selanjutnya, saya (sangat mungkin juga Totot dan Gandhi) menjadi sok politis: menduga bahwa perbedaan arah menghadap ini jangan-jangan memang terjadi secara sengaja. Mengingat tentang segala hal yang selama ini terjadi di Serambi Mekah, tak heran bila saya sendiri berpikiran mungkin ada 'penjelasan politis' terhadap perbedaan arah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata salah besar. Pikiran saya saat itu ternyata sama salah besarnya dengan pikiran kebanyakan politisi dan orang awam di luar Aceh dalam menangani segala konflik di Aceh selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemilik restoran, nampaknya, setelah dipanggil dan diperlihatkan oleh pelayan yang mencatat makanan kami, dengan penuh otoritas kemudian memerintahkan seorang pelayan lainnya untuk menghentikan bapak di sebelah kanan untuk menghentikan sholatnya. Dengan mata kepala sendiri kami menyaksikan, si bapak kemudian menghentikan sholatnya, lalu mengubah arah sholat dan memulainya lagi dari awal. Beliau sama sekali tidak menyadari telah salah arah menghadap, dan ia pun mengulangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma bisa cengegesan malu pada pikiran sendiri. Kejadian ini ternyata hanyalah sebuah kealpaan semata. Tak lebih dan tak kurang. Si bapak pun melanjutkan sholatnya dengan khusuk ke arah barat ketika kami berlalu meninggalkan rumah makan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-947527272756913518?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/947527272756913518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=947527272756913518&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/947527272756913518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/947527272756913518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/06/menghadap-tuhan-kemana-kemana-tuhan.html' title='Menghadap Tuhan Kemana? Kemana Tuhan Menghadap?'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RnDEuQD7zYI/AAAAAAAAAC0/Mza0qiEaWYs/s72-c/Meutia.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-3835627163957896128</id><published>2007-06-09T18:21:00.000+07:00</published><updated>2007-06-09T18:43:31.124+07:00</updated><title type='text'>Kenangan tentang Pelacur-Pelacurku yang Melankolis</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RmqHHAD7zVI/AAAAAAAAACU/JgTqAbFgsDs/s1600-h/P1040069.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RmqHHAD7zVI/AAAAAAAAACU/JgTqAbFgsDs/s320/P1040069.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074016484531621202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jangan dulu terkecoh. Ini sama sekali bukan judul cerita porno semacam stensilan. Judul di atas adalah terjemahan saya untuk judul novel terbaru dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gabriel Garcia Marquez &lt;/span&gt;(dikenal juga dengan panggilan Gabo). Judul asli dalam bahasa Spanyol novel terbaru peraih Nobel Sastra 1982 asal Kolombia ini adalah &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Memorias de Mis Putas Tristes&lt;/span&gt;. Sedangkan judul terjemahan bahasa Inggris yang saya baca adalah &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Memories of My Melancholy Whores&lt;/span&gt; yang diterjemahkan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Edith Grossman&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peraih Nobel Sastra, Gabo tentu bukan sembarang penulis. Ia disetarakan dengan penulis dunia seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Leo Tolstoy&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Charles Dickens&lt;/span&gt;, bahkan dinobatkan oleh para pengamat sastra dunia sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Peoples' Writer in The Hispanic World&lt;/span&gt;. Novel-novel hebatnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dua karya beliau yang paling populer diterjemahkan adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;One Hundred Years of Solitude&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Love in The Time of Cholera&lt;/span&gt;. Selain novel, Gabo yang sekarang telah berusia 78 tahun dan bermukim di Mexico ini banyak menulis esai-esai politik tentang Amerika Latin. Selain novelis, sahabat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fidel Castro&lt;/span&gt; ini juga dikenal sebagai jurnalis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;publisher&lt;/span&gt; dan aktivis politik. Kita dapat menemukan kesamaan 'kelas' Gabo dengan seorang penulis Indonesia yang berkali-kali menjadi kandidat peraih Nobel Sastra, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pramoedya Ananta Toer&lt;/span&gt;. Karya populer keduanya juga sama-sama sedang dalam proses pembuatan film layar lebar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bumi Manusia &lt;/span&gt;dari Pramoedya. Love in The Time of Cholera dari Gabo yang dikerjakan oleh sutradara Inggris, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mike Newell&lt;/span&gt;. Gaya bercerita Gabo dalam novel-novelnya yang khas dan dianggap sebagai pelopor cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;magical realism&lt;/span&gt; juga pernah dianggap sejumlah pengamat sastra di tanah air sangat mempengaruhi gaya menulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ayu Utami&lt;/span&gt; dalam menulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saman&lt;/span&gt;, salah satu novel kontemporer terbaik yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke novel terbaru Gabo ini, Memories of My Melancholy Whores (MMMW) adalah novel terbaru Gabo dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Jauh lebih pendek dari novel-novel sebelumnya, MMMW juga terasa lebih ringan dan mudah dicerna bagi penikmat novel biasa seperti saya. Tanpa kehilangan sentuhan bertuturnya yang khas, Gabo bercerita tentang 'penemuan' cinta yang justru terjadi di penghujung hayat seorang lelaki yang sepanjang hidupnya hanya membeli kebutuhan seksualnya dari para pelacur langganannya, justru pada momen ia tak sanggup meniduri pelacur muda yang 'dipesannya' untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 90.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RmqSMwD7zXI/AAAAAAAAACs/QE0jmUJbW_M/s1600-h/P1040070.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RmqSMwD7zXI/AAAAAAAAACs/QE0jmUJbW_M/s400/P1040070.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074028677943774578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;On the night of her birthday I sang the entire song to Delgadina, and I kissed her all over her body until I was breathless: her spine, vertebra by vertebra, down to her languid buttocks, the side with the mole, the side of her inexhaustible heart. As I kissed her the heat of her body increased, and it exhaled a wild, untamed fragrance. She responsed with new vibrations along every inch of her skin, and on each one I found a distinctive heat, a unique taste, a different moan, and her entire body resonated inside with an arpeggio, and her nipples opened and flowered without being touched&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong kutipan novel di atas memperlihatkan detil tutur MMMW yang sangat sensual dan dalam. MMMW memang banyak dinilai pengamat karya-karya Gabo bukan sebagai pencapaian terbaiknya. Namun, untuk orang sekaliber Gabo justru menarik karena di usia senja ia bersedia menjadi lebih 'santai' dan membumi dalam bercerita. Tanpa kehilangan sentuhannya pada kedalaman dan kejujuran pemahamannya terhadap kehidupan. Ia tak jadi mengeras dan membeku karena kelegendaan dirinya, sebaliknya bahkan mencair dan mengalir ke ranah yang lebih mudah dijangkau. MMMW adalah novel kelas Nobel yang paling nge-pop bagi saya. Enak dibaca dan mudah dinikmati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-3835627163957896128?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/3835627163957896128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=3835627163957896128&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3835627163957896128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3835627163957896128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/06/kenangan-tentang-pelacur-pelacurku-yang.html' title='Kenangan tentang Pelacur-Pelacurku yang Melankolis'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RmqHHAD7zVI/AAAAAAAAACU/JgTqAbFgsDs/s72-c/P1040069.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-5189499121063778771</id><published>2007-06-08T17:46:00.001+07:00</published><updated>2007-06-08T18:30:49.205+07:00</updated><title type='text'>Moga-moga Bukan.</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rmk8MAD7zTI/AAAAAAAAACE/32aXEPLO0J0/s1600-h/Gedung+KPK.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rmk8MAD7zTI/AAAAAAAAACE/32aXEPLO0J0/s400/Gedung+KPK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073652632082173234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mendadak saya jadi gusar berat dengan urusan mengartikan tanda-tanda yang tidak ilmiah dan rasional. Apa pasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin lalu, 4 Juni 2007 saya berputar balik dari arah menuju Menteng ke arah menuju Mampang di ujung jalan HR Rasuna Said. Tepat di putaran, berdiri kokoh sebuah gedung yang hampir selesai pembangunannya. Inilah gedung Komisi Pemberantasan Korupsi yang kita kenal dengan singkatan KPK. Gebrakan KPK selama ini, setuju atau tidak, cukup memberi harapan bahwa masih ada upaya kita untuk mengatasi masalah korupsi yang sudah berurat berakar di bangsa kita. Gedung ini adalah gedung baru dimana KPK akan berpusat nantinya. Nyaris selesai. Nah, hanya saja, belum lagi gedungnya selesai dan diresmikan -- mustinya oleh RI 1 ya -- nantinya, tulisan gagah di pucuk gedung baru catnya sudah nampak luntur. Lebih mengkhawatirkan lagi, dari kata Komisi Pemberantasan Korupsi, hanya kata Pemberantasan Korupsi yang cat-nya luntur, sementara kata Komisi cat-nya tetap mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja fakta ini tidak punya arti apa-apa. Bisa saja, sebenarnya, tulisan tersebut belum beres dicat semuanya. Tapi, seperti kata saya di awal, hal-hal seperti ini dapat dianggap 'tanda' yang macam-macam. Apalagi masyarakat kita paling doyan melakukan 'utak-atik gathuk' urusan segala hal yang kerap tak logis dan rasional. Saya pun jadi ikut-ikut gusar dan khawatir, melihat tulisan di gedung itu, moga-moga ini bukan 'tanda' buruk soal tekad pemberantasan korupsi di negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-5189499121063778771?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/5189499121063778771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=5189499121063778771&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/5189499121063778771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/5189499121063778771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/06/moga-moga-bukan.html' title='Moga-moga Bukan.'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rmk8MAD7zTI/AAAAAAAAACE/32aXEPLO0J0/s72-c/Gedung+KPK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-3523125696352375802</id><published>2007-05-06T12:49:00.000+07:00</published><updated>2007-05-06T17:57:24.515+07:00</updated><title type='text'>Roti Bakar 'Mantap Surantap'</title><content type='html'>Siapa sih yang tak pernah makan roti bakar? Kalau belum ya kelewatan banget. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wong &lt;/span&gt;ini makanan 'standar' yang sering dinikmati sambil mengisi kebersamaan dengan teman-teman di waktu malam. Baik ketika masih sekolah sampai masa kerja. Anak nongkrong Jakarta pasti tidak bisa menyandang gelar anak nongkrong kalau belum pernah nongkrong di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Roti Bakar Eddy&lt;/span&gt; yang kondang itu. Tapi saya bukan sedang mau membicarakan Roti Bakar Eddy, tapi Roti Bakar 'Mantap Surantap' yang ada di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, setiap orang minimal pernah menikmati roti bakar dari puluhan tempat berbeda. Kadang sulit menentukan mana yang paling enak. Tempat seperti Roti Bakar Eddy bisa dibilang 'enak' secara sosial. Soal rasa, banyak saingannya. Tapi bila harus menilai roti bakar paling enak yang pernah saya nikmati selama hidup, maka saya memilih sebuah tempat yang berada di Bandung. Nama 'Mantap Surantap' adalah istilah fiktif khas plesetan Sunda saja. Ekspresi superlatif untuk mengatakan ini roti bakar paling mantap buat saya (masih ingat plesetan terkenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cecep Gorbacep&lt;/span&gt;, kan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe....&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2yp8j1BvI/AAAAAAAAABc/goS9IXvGtxQ/s1600-h/rb+234.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2yp8j1BvI/AAAAAAAAABc/goS9IXvGtxQ/s200/rb+234.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061397989935089394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Orang-orang Bandung menyebutnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Roti Bakar Gang Kote&lt;/span&gt; (huruf e dibaca dengan lafal e pada kata enak). Namanya sendiri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Roti Bakar 234&lt;/span&gt;. Saya tidak tahu sejarah nama ini digunakan. Mungkin pemiliknya penggemar rokok kretek 234 alias Dji Sam Soe. Berbeda dengan tempat berjualan roti bakar yang biasanya sekaligus menjadi tempat nongkrong, dari dulu sampai sekarang Roti Bakar 234 a.k.a Roti Bakar Gang Kote tidak pernah menyediakan kursi dan meja duduk. Tempatnya persis di ujung sebuah gang kecil yang terletak di jalan utama kota Bandung. Tapi tak usah khawatir, karena di sepanjang jalan itu mudah sekali untuk parkir. Orang Bandung yang ke sini, biasanya selalu membeli untuk dibawa pulang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Take away&lt;/span&gt;, kerennya sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2zLcj1BxI/AAAAAAAAABs/DhD4N0uhVFY/s1600-h/roti+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2zLcj1BxI/AAAAAAAAABs/DhD4N0uhVFY/s200/roti+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061398565460707090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mantapnya rasa Roti Bakar Gang Kote buat saya tidak pernah berubah. Dari jaman SMA 20 tahun lalu (Waduh ketahuan produk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jadul&lt;/span&gt; ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;) sampai sekarang. Isi yang ditawarkan sih sama saja dengan lainnya. Ada keju, selai kacang, kornet dan coklat. Lalu apa istimewanya? Menurut saya karena si penjual memproduksi rotinya sendiri dengan standar yang berbeda dari roti bakar lainnya. Sehingga roti yang dipakai selalu tebal berisi dan 'segar'. Kita bisa memilih 2 model roti yang tersedia. Isinya juga selalu 'royal'. Mungkin karena rotinya yang tebal berisi, maka isinya pun harus dibuat lebih banyak agar terasa benar dalamnya. Teknik membakarnya kurang lebih ya sama saja, seperti yang bisa dilihat di foto.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2y5cj1BwI/AAAAAAAAABk/LDUGd_efai4/s1600-h/roti+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2y5cj1BwI/AAAAAAAAABk/LDUGd_efai4/s200/roti+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061398256223061762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya, tidak banyak turis domestik akhir pekan yang mengenal Roti Bakar Gang Kote. Sama seperti tempat makan enak lainnya di Bandung. Pengetahuan turis domestik akhir pekan memang lebih banyak dipenuhi oleh tempat-tempat makan yang menjual suasana tempat dan panorama. Apalagi lokasinya yang bukan berada di kawasan tujuan wisata Bandung. Tapi tidak ada salahnya bila ingin mencoba. Saran saya, pergilah ke sana sekitar pukul 7-9 malam. Karena laku, mereka sering sudah kehabisan stok roti sebelum pukul 10 malam. Coba rasakan sendiri kedahsyatan rotinya yang tidak bakal dijumpai di tempat roti bakar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2yYsj1BuI/AAAAAAAAABU/w3-2ldKriZs/s1600-h/gang+kote.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2yYsj1BuI/AAAAAAAAABU/w3-2ldKriZs/s320/gang+kote.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061397693582345954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tertarik mencobanya? Ini dia petunjuk jalannya. Moga-moga cukup untuk memandu buat anda yang tidak kenal kota Bandung. Letak Gang Kote berada di tepi jalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sudirman&lt;/span&gt; yang berada di dekat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alun-Alun Bandung&lt;/span&gt;. Jalan Sudirman sangat terkenal. Jadi mudah meminta petunjuk orang di sana. Gang Kote tepat berada di antara perempatan jalan Sudirman dengan jalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pasar Baru&lt;/span&gt; (dari arah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banceuy&lt;/span&gt; atau stasion KA) dan perempatan jalan Sudirman dengan jalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gardu Jati&lt;/span&gt; yang banyak berjualan makanan pada malam hari, seperti jalan Pecenongan di Jakarta. Karena jalan Sudirman adalah jalan se arah menuju Barat, maka anda harus datang dari arah Alun-Alun atau perempatan Sudirman - Pasar Baru untuk mencapainya. Dari lampu merah perempatan Sudirman - Pasar Baru, kira-kira 100 meter di sebelah kiri, anda bisa temukan Roti Bakar Gang Kote ini. Selamat berburu dan menikmatinya rame-rame!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-3523125696352375802?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/3523125696352375802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=3523125696352375802&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3523125696352375802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3523125696352375802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/05/roti-bakar-mantap-surantap.html' title='Roti Bakar &apos;Mantap Surantap&apos;'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rj2yp8j1BvI/AAAAAAAAABc/goS9IXvGtxQ/s72-c/rb+234.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-9162628490295773693</id><published>2007-05-02T20:00:00.000+07:00</published><updated>2007-05-04T17:56:23.619+07:00</updated><title type='text'>Nonton Film Bagus Bersama Pembuat Film Bagus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rjr5J8j1BsI/AAAAAAAAABE/qqS0Da0a31I/s1600-h/tiket+kala.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rjr5J8j1BsI/AAAAAAAAABE/qqS0Da0a31I/s200/tiket+kala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060631080574715586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah nyaris luput, akhirnya Selasa kemarin (1 Mei) berhasil juga nonton &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.kalathemovie.com/"&gt;Kala&lt;/a&gt; di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIM 21&lt;/span&gt;. Tepat sehari sebelum menghilang. Di pasar, Kala memang terhitung tidak terlalu berhasil menyerap penonton sehingga jatahnya untuk bercokol di jaringan bioskop 21 sangat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nonton, saya patut bersyukur tidak luput menonton. Cuma sayangnya kelancaran menikmati karya kedua &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Joko Anwar&lt;/span&gt; ini harus terganggu oleh sistem tata suara yang 'busuk' banget sehingga rasanya seperti sedang nonton di 'gerimis bubar' alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;misbar&lt;/span&gt;. Suaranya keras sekeras-kerasnya dan memekakkan gendang telinga sampai di akhir film. Sayang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam mengikuti cerita yang mengalir lancar dan menegangkan, saya dapat merasakan bahwa gaya artistik dan bercerita dari film ini seperti gaya film dari sutradara terkenal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wong Kar-Wai&lt;/span&gt;. Seperti film &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;In The Mood for Love&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;2046&lt;/span&gt;, dua dari trilogi film Wong Kar-Wai yang sudah saya tonton, Kala menciptakan 'ruang' sendiri untuk ceritanya. Penonton tak perlu mencari 'konteksnya' karena 'ruang' adalah intepretasi bebas sang pencipta untuk menyampaikan gagasan utamanya. Kemampuan si pencipta kemudian menjadi sangat menentukan untuk membuat penonton dapat menikmati rangkaian cerita dan gambar yang disajikan tanpa perlu mengrenyitkan dahi melulu. Joko Anwar tergolong sukses, sekali pun belum sesempurna Wong Kar-Wai. Pujian tentu perlu disampaikan juga kepada tim produksi Kala. Dalam urusan melihat kesamaan gaya dengan Wong Kar-Wai, tentu saja saya bisa salah. Referensi tontonan film saya juga terbatas. Tapi, ya itulah yang langsung terbayang di kepala saya begitu melihat Kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu, gagasan cerita film ini sendiri memikat. Didukung oleh sinematografi yang apik, film bisa bercerita tanpa 'kotbah' yang ceriwis atau sebaliknya sampai memerlukan selera artistik tingkat tinggi untuk memahaminya. Walau terhitung tidak berhasil secara komersial, kehadiran film Kala cukup menyenangkan bagi penonton seperti saya untuk lebih optimis dapat menikmati film-film Indonesia yang semakin baik ke masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rjr5ocj1BtI/AAAAAAAAABM/K3ykxBTVuiA/s1600-h/tiket+naga+bonar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rjr5ocj1BtI/AAAAAAAAABM/K3ykxBTVuiA/s200/tiket+naga+bonar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060631604560725714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lebih menyenangkan lagi karena sebulan sebelum saya juga telah disodori film bagus lainnya: &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.nagabonar2.com/"&gt;Naga Bonar Jadi 2&lt;/a&gt; karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Deddy Mizwar&lt;/span&gt;. Ini film yang tidak cuma sangat bagus dan menghibur, tapi juga sangat sukses secara komersial. Hingga hari ini jumlah penontonnya sudah mendekati angka 1 juta penonton dan masih diputar terus di bioskop dan dipadati penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Naga Bonar Jadi 2, saya tentu tak perlu cerita banyak karena pasti sudah banyak orang yang menonton dan sepaham soal bagusnya film ini. Tapi yang membuat saya kagum justru pada saat menonton Kala, begitu selesai film dan lampu menyala saya bertemu dengan dua wajah yang familiar sekali di antara total 9 penonton di TIM 2. Salah satunya saya kenal karena pernah memproduksi salah satu karya iklan kantor saya dan ia mengenakan kaos Naga Bonar Jadi 2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zairin Zain&lt;/span&gt;, yang di Naga Bonar Jadi 2 menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Associate Producer&lt;/span&gt;. Satunya lagi? Deddy Mizwar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;himself&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, asyik juga nonton film bagus bersama pembuat film bagus. Mumpung bertemu, rasanya sangat tepat untuk menyampaikan apresiasi langsung. Dengan sok akrab (saya tidak kenal beliau secara pribadi, apalagi beliau tentu lebih tak mengenal saya, hehehe) di antara suara 'misbar' dari musik pengantar title film Kala, saya harus setengah berteriak sambil menyalami beliau, "Bung Deddy, terima kasih banyak ya. Saya sangat suka sekali film Anda." Lalu saya pun mengacungkan dua jempol. Reaksi beliau hanya terbahak kecil sambil bercanda mengibas tangannya. Sungguh jauh dari kesan seorang aktor dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;film maker&lt;/span&gt; sombong yang telah memberi banyak kepada kemajuan perfilman tanah air. Sebagai penonton dan penggagum Naga Bonar Jadi 2, sungguh beruntung saya dapat menyampaikan apresiasi langsung kepada pembuatnya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;humble&lt;/span&gt; dan membumi. Pantas saja bisa melahirkan film bagus sekelas itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehehe&lt;/span&gt;....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-9162628490295773693?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/9162628490295773693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=9162628490295773693&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/9162628490295773693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/9162628490295773693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/05/nonton-film-bagus-bersama-pembuat-film.html' title='Nonton Film Bagus Bersama Pembuat Film Bagus'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/Rjr5J8j1BsI/AAAAAAAAABE/qqS0Da0a31I/s72-c/tiket+kala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-3530804253458108291</id><published>2007-04-29T15:13:00.000+07:00</published><updated>2007-04-29T17:53:11.504+07:00</updated><title type='text'>Knuckle yang Super Maknyusss...</title><content type='html'>Ekspresi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bondan Winarno&lt;/span&gt; di acara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wisata Kuliner&lt;/span&gt; untuk menggambarkan kelezatan makanan yang dinikmatinya ini sangat cocok dipinjam untuk menggambarkan kelezatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt; pork &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;knuckle&lt;/span&gt; yang secara tidak sengaja saya temukan di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjR3Wsj1BrI/AAAAAAAAAA8/5eLg10DJCEk/s1600-h/magma+02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjR3Wsj1BrI/AAAAAAAAAA8/5eLg10DJCEk/s320/magma+02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058799513246172850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak sengaja saya temukan karena, tadinya, saya pikir makanan se-otentik ini baru bisa dinikmati kalau kebetulan kita beruntung bisa berkunjung ke negeri Jerman. Itu saya alami ketika berkunjung ke kota Munchen, 4 tahun silam. Lepas dari situ, saya tak pernah lagi menikmati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;knuckle&lt;/span&gt; ini. Padahal, nikmatnya bisa dibilang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;super maknyusss&lt;/span&gt;. Tentu buat anda yang bisa menikmatinya. Eh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilalah&lt;/span&gt;, di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukit Pasoh Road&lt;/span&gt; di kawasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chinatown Singapura&lt;/span&gt; saya menemukan sebuah restoran makanan otentik Jerman dan dimiliki oleh orang Jerman. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jackpot&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging &lt;span style="font-style: italic;"&gt;knuckle&lt;/span&gt; (bagian kaki) yang tebal dan besar hampir seukuran satu ekor ayam ini sangat gurih dan sedikit sekali daging lemaknya. Bagian kulit luarnya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crispy&lt;/span&gt; dan dagingnya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tender&lt;/span&gt; menciptakan sensasi ketika anda menikmatinya, terutama bila 'dibantu' dengan bir Jerman yang istimewa. Menurut pemilik restoran yang tampang dan potongan rambutnya sangat mirip Albert Einstein (Jerman banget, hehehe) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pork knuckle &lt;/span&gt;Jerman ada 2 ciri cara memasak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;R&lt;span&gt;oasted&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (panggang) adalah ciri cara memasak orang Jerman dari kawasan Bavaria (Munchen dan sekitarnya). Sementara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span&gt;boiled&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (rebus) adalah ciri dari kawasan Berlin dan sekitarnya. Favorit saya yang panggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjR2IMj1BqI/AAAAAAAAAA0/Y-Ee9l6A9AU/s1600-h/magma.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjR2IMj1BqI/AAAAAAAAAA0/Y-Ee9l6A9AU/s200/magma.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058798164626441890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Restoran ini saya temukan hanya berjarak 30 meter dari hotel saya menginap, &lt;a href="http://www.newmajestichotel.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;New Majestic Hotel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Lokasinya berada di kawasan Chinatown. Buat teman-teman kreatif era 90an yang sering mondar-mandir ke VHQ di Duxton Hill Road, kawasan ini tentu sudah tak asing lagi. Sekarang, di kawasan ini banyak bermunculan hotel-hotel butik yang khas hasil renovasi ruko-ruko kuno yang tidak boleh dirubuhkan. Restoran bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Magma German Wine Bistro &amp; Restaurant&lt;/span&gt; yang berada di salah satu ruko kuno ini dimiliki oleh orang Jerman dengan chef yang juga orang Jerman. Selain menyajikan makanan Jerman otentik, Magma juga mengedepankan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wine cellar&lt;/span&gt; mereka yang mempromosikan jenis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wine&lt;/span&gt; asal Jerman. Bahkan mereka membuka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wine club&lt;/span&gt; bagi para penggemar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wine&lt;/span&gt; asal Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjRfIsj1BpI/AAAAAAAAAAs/aPIpqt6ibOE/s1600-h/magma+06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjRfIsj1BpI/AAAAAAAAAAs/aPIpqt6ibOE/s200/magma+06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058772884448937618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jadi, buat anda yang kebetulan beruntung sempat bertandang ke negeri jiran ini dan ingin berpetualang kuliner, tidak ada salahnya untuk mencoba. Sekali lagi tentu bila boleh makan makanan jenis ini. Daripada melulu berkeliaran di Orchard Road menghabiskan limit kartu kredit, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;. Satu porsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;knuckle pork roasted&lt;/span&gt; di Magma juga tergolong ekonomis untuk standar harga hidangan di Singapura. Tidak lebih dari 25 dollar Singapura seporsinya. Bahkan, bisa dibilang, lebih murah dari harga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ribs&lt;/span&gt; di resto Amerika terkenal yang ada di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mencapai Restoran Magma ini relatif mudah, bila anda sudah akrab menggunakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MRT&lt;/span&gt;. Bahkan kalau pun belum pernah, percaya deh petunjuk MRT Singapura, yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia, tidak akan membuat anda nyasar. Cari saja tujuan ke stasiun MRT &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Outram Road&lt;/span&gt;. Turun dari sini, cari arah pintu keluar ke &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;North Bridge Road&lt;/span&gt;. Setelah keluar langsung saja ke arah kanan. Anda akan ketemu tempat parkiran kecil dan deretan ruko. Lihat saja ke deretan ruko di seberang pintu keluar MRT North Bridge Road, kalau ketemu KTV bernama unik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kinky Pink&lt;/span&gt; dan di sebelahnya terdapat kantor &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Singapore Amoy Association&lt;/span&gt; berarti sudah berada di jalan yang betul. Anda tinggal berjalan lurus ke arah kanan, kurang lebih 100 meter akan bertemu dengan New Majestic Hotel di sebelah kanan dan gedung ruko kuno 1928. Ini sudah di jalan Bukit Pasoh Road, tinggal berjalan sekitar 30 meter lagi di sebelah kiri, anda ketemu dengan Restoran Magma. Tentunya waktu makan malam lebih tepat untuk berkunjung ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah mencoba, silakan ceritakan ke saya, apakah saya bohong atau tidak. Soalnya, kalau kata teman-teman di kantor, saya ini tipe penikmat makanan yang hanya punya dua kategori: Enak dan Enak Sekali. Tapi Bondan Winarno di Wisata Kuliner kan sama juga, bukan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-3530804253458108291?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/3530804253458108291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=3530804253458108291&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3530804253458108291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/3530804253458108291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/04/knuckle-yang-super-maknyusss.html' title='Knuckle yang Super Maknyusss...'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjR3Wsj1BrI/AAAAAAAAAA8/5eLg10DJCEk/s72-c/magma+02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-1571177093779451763</id><published>2007-04-22T14:32:00.000+07:00</published><updated>2007-04-26T14:41:53.213+07:00</updated><title type='text'>Biji Kopi Pilihan (saya)</title><content type='html'>Kayak bunyi iklan ya? hehehe. Memang sih, sebagai penggemar kopi yang bisa menyeruput sampai 5-6 cangkir per hari, saya punya sedikit pengalaman membeli biji kopi dari berbagai sumber. Pabrik Koffie Aroma adalah salah satu tempat favorit di Bandung yang pernah saya tulis. Sekarang saya mau nambahin daftarnya. Siapa tahu ada yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pengen&lt;/span&gt; mencobanya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koffie Flores&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjBMFsj1BmI/AAAAAAAAAAU/qIIh91R8DhI/s1600-h/kopi+flores.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjBMFsj1BmI/AAAAAAAAAAU/qIIh91R8DhI/s200/kopi+flores.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057626042281559650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini kopi yang paling sering saya beli akhir-akhir ini. Setahu saya hanya ada satu tempat untuk membelinya, di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Matahari Supermarket&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CITOS&lt;/span&gt; (Cilandak Town Square). Koffie Flores ini ada di belakang deretan kasir menempati 'stand' sendiri dan dilayani hanya oleh seorang penjaga. Katanya kopi yang sama bisa Anda nikmati di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mister Bean&lt;/span&gt; yang juga ada di CITOS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di 'stand' itu dijual berbagai jenis racikan biji kopi. Ada yang original dengan label &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Premium Gold&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gold&lt;/span&gt;. Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Italian Roast&lt;/span&gt;. Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Toraja&lt;/span&gt;. Ada pula yang sudah dicampur dengan rasa, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hazelnut&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinnamons&lt;/span&gt;. Favorit saya justru yang sudah dicampur rasa, yakni Hazelnut. Bila sudah diseduh dan dihidangkan, aroma Hazelnut-nya yang khas dapat tercium dari jarak yang cukup jauh. Ini mengingatkan saya pada salah satu ciri khas sebuah coffee shop global paling ternama yang kini hadir hampir di semua mal kelas menengah kota besar Jakarta. Keistimewaan aroma yang memancing indera penciuman adalah juga ciri khasnya. Saya juga menyukai biji kopi dari merek ini. Hanya saja, untuk satu bungkus biji kopi di sini, saya bisa mendapat 5 bungkus di Koffie Flores. Jadi, yah dibela-belain deh ke CITOS secara rutin dua bulan sekali, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he..he..he&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coffee Tree&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjBODsj1BnI/AAAAAAAAAAc/Tf71Gvf3DUw/s1600-h/coffeetree.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjBODsj1BnI/AAAAAAAAAAc/Tf71Gvf3DUw/s200/coffeetree.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057628206945076850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tampaknya tempat ini baru ada satu. Letaknya ada di lantai 3 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mal Artha Gading&lt;/span&gt;, persis di sebelah pintu masuk ACE Harware. Saya baru 2 kali berkunjung ke sini. Dan 2 kali pula mencoba biji kopi yang dijual. Harganya cukup pantas, walau tidak semurah Koffie Flores. Namun, jenis biji kopi yang dijual di sini memperlihatkan bahwa negeri ini adalah 'surga' kopi dunia. Coffee Tree menawarkan biji kopi dari tempat-tempat terbaik di Indonesia, seperti Toraja, Sidikalang dan Flores. Termasuk kopi houseblend yang menjadi andalannya. Bila ingin menikmati rasa otentik body kopi yang kuat, datanglah ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menarik lagi adalah sikap penjualnya yang punya passion kuat terhadap kopi. Seorang pria muda berkacamata akan mendatangi dengan ramah dan mengajak berbincang. Dua kali saya ke sana membeli biji kopi, dua kali saya diberikan kartu nama dan diminta menghubungi setiap saat untuk mengomentari kekurangan atau memberi masukan terhadap kopi yang saya beli. Sebuah sikap yang sungguh simpatik buat setiap penggila kopi yang mampir ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tornado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coffeeshop&lt;/span&gt; kecil ini tadinya berlokasi di Bangka Raya, persis di sebelah Pasir Putih. Ini nampaknya tempat yang cukup favorit jadi tempat nongkrong kalangan kreatif periklanan, perfileman dan pekerja lepas kreatif lainnya. Bahkan tak jarang saya 'memergoki' tim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sidejob&lt;/span&gt; di sini, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Tornado ini sudah pindah ke Kemang Utara, sebelum jalan belok kanan menuju Kemang Timur bila dari arah Kemang Raya (McD). Dan membuka satu outlet lagi di Wolter Monginsidi, dekat Ciragil. Masih tetap menjadi tempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kongkow-kongkow&lt;/span&gt; komunitas yang saya sebut di atas. Di Tornado Kemang, seorang senior copywriter sebuah biro iklan multinasional besar bahkan hampir bisa dijumpai setiap hari di sini. Sudah seperti rumah keduanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he..he..he&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis biji kopi yang dijual di sini memang lebih terbatas. Dari nama pilihan jenis kopi yang ada jelas sekali yang dijual adalah bji kopi '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffeeshop&lt;/span&gt;'. Namun begitu rasanya tetap istimewa karena ini datang dari sebuah coffeeshop yang 'serius' jualan kopi. Saya yakin pasti banyak teman-teman saya di dunia periklanan sudah cukup akrab dengan tempat ini. Sekali-sekali boleh dicoba itu biji kopinya untuk dinikmati di rumah atau kantor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-1571177093779451763?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/1571177093779451763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=1571177093779451763&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/1571177093779451763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/1571177093779451763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/04/biji-kopi-pilihan-saya.html' title='Biji Kopi Pilihan (saya)'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RjBMFsj1BmI/AAAAAAAAAAU/qIIh91R8DhI/s72-c/kopi+flores.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-4192938998810046032</id><published>2007-04-22T13:56:00.000+07:00</published><updated>2007-04-22T14:07:23.590+07:00</updated><title type='text'>Kegembiraan Penggila Apple memang Ga Ada Matinye</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RisJdenIBNI/AAAAAAAAAAM/TqPrWhwOfkM/s1600-h/iPhone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RisJdenIBNI/AAAAAAAAAAM/TqPrWhwOfkM/s320/iPhone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5056145408691537106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Steve Jobs &lt;/span&gt;memang pantas ‘diagungkan’oleh para penggila &lt;a href="http://www.apple.com/"&gt;Apple&lt;/a&gt;. Karena Apple seperti tak habis-habis memanjakan penggemarnya dengan hal-hal baru yang ‘mencerahkan’. Lebih hebatnya, perkembangan Apple kini bukan lagi sekedar urusan komputer belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu masih ingat gebrakan revolusioner iPod yang membuat semua produsen penguasa pasar perangkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;audio player&lt;/span&gt; kelimpungan habis. Steve Jobs cs nampak akan terus menebar ‘ancamannya’ ke bidang lain. Secara tegas Apple telah memproklamirkan diri tidak lagi berpijak di bidang komputer belaka dengan mencabut nama Computer pada nama perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebaran ‘ancaman’ selanjutnya dari Apple kini masuk ke bidang perangkat telekomunikasi. Steve Jobs secara resmi telah memperkenalkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;iPhone&lt;/span&gt; yang telah mulai dipasarkan di Amerika Serikat awal tahun ini. Inilah perangkat yang mungkin akan segera mengubah peta pasar telepon genggam dunia sekaligus memberi kegembiraan baru bagi setiap penggila Apple.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti karya Apple lainnya, dari tampangnya saja iPhone dapat membuat kita kesengsem berat. Mengusung konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;multi-touch screen&lt;/span&gt; yang canggih, desain iPhone jadi simple dan keren tanpa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keypad&lt;/span&gt; menonjolkan semata-mata layar besar berukuran 3,5 inch. Pas seukuran genggaman tangan. Secara resmi iPhone dikategorikan oleh Apple sebagai kombinasi 3 macam produk: sebuah telepon bergerak yang revolusioner, sebuah iPod berlayar lebar dengan kendali sentuh, dan sebuah terobosan perangkat internet dengan fasilitas desktop. Dengan mengusung sistem operasi Mac OS X, iPhone menjanjikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;features desktop&lt;/span&gt; dengan kemampuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;multi-tasking&lt;/span&gt; layaknya di komputer Mac. Plus semua standar kebutuhan koneksi seperti Wi-Fi dan Bluetooth. Kehebatan desain teknologi iPhone terpamer jelas pada kemampuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;advance sensor&lt;/span&gt;, dimana layar secara otomatis dapat mengubah diri mengikuti gerak pandang pemakainya. Jadi bila kita ubah posisi layar horizontal ke mata kita, maka secara otomatis layarnya akan berubah menjadi horizontal. Demikian pula sebaliknya. Semua kehebatan iPhone bisa Anda simak lengkap di &lt;a href="http://apple.com/iphone/"&gt;www.apple.com/iphone/&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat para pemakai Mac komputer dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;notebook&lt;/span&gt;, kehadiran iPhone ini juga – pastinya - akan sangat-sangat mempermudah sinkronisasi data karena sistem operasi dan semua piranti lunaknya persis sama. Saat ini, pasti banyak penggila Apple yang sudah tidak sabar ingin segera memiliki iPhone segera. Seperti penjelasan salah seorang rekan yang mendeskripsikan iPhone sebagai sebuah gadget yang kabar kesaktiannya sudah mampu mensugesti konsumen untuk segera memiliki benda ‘keramat’ ini. Sayangnya, iPhone baru akan dipasarkan di Asia pada tahun 2008. Sementara di Amerika Serikat sendiri, sekalipun iPhone menggunakan GSM, ia masih dijual paket dengan sebuah operator di sana. Jadi penggila Apple masih harus bersabar setahun lagi, kecuali Apple berubah pikiran. Moga-moga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ditulis untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;free magazine&lt;/span&gt; AdDiction edisi 7, Maret 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-4192938998810046032?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/4192938998810046032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=4192938998810046032&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/4192938998810046032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/4192938998810046032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/04/kegembiraan-penggila-apple-memang-ga.html' title='Kegembiraan Penggila Apple memang Ga Ada Matinye'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_cI2rWbqzdrY/RisJdenIBNI/AAAAAAAAAAM/TqPrWhwOfkM/s72-c/iPhone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-117449778481873778</id><published>2007-03-22T01:22:00.000+07:00</published><updated>2007-03-22T11:20:48.544+07:00</updated><title type='text'>Nasib orang mati lebih 'beruntung' dari orang sekarat (di Jakarta)</title><content type='html'>Postingan ini sama sekali tidak berniat mengeluarkan pernyataan kurang ajar. Kalau anda adalah warga Jakarta yang sering berjibaku dengan kemacetan di Jakarta, mungkin setuju dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; postingan saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, berulang kali di tengah kemacetan Jakarta kita menjumpai mobil ambulans bernasib sama dengan kita. Tanpa pengawalan ekstra dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;voorider&lt;/span&gt;, raungan sirine ambulans yang -- pastinya -- mengangkut pasien yang membutuhkan pertolongan segera di rumah sakit merambat berjibaku dalam hambatan kemacetan tanpa daya. Bahkan kendaraan-kendaraan di depannya yang cukup santun untuk memberikan jalan pun, kerap tak berdaya. Sirine ambulans tak lebih sekedar jadi peramai kekacauan lalu lintas Jakarta bersama bunyi klakson kendaraan lainnya. Dalam kasus ini, bahkan metro mini atau bis kota bisa jauh lebih berjaya di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bandingkan dengan kendaraan pengangkut jenasah yang hampir selalu dikawal oleh pasukan bermotor 'berani mati'. Kita pasti pernah mengalaminya. Ajaib. Dengan sehelai bendera kuning, para pengendara motor pengawal mobil jenasah berlipat-lipat keberaniannya untuk memotong jalan kendaraan yang melaju, menghadang kemacetan, mengebuk-gebuk kendaraan agar menyingkir dan menghadang perempatan jalan dengan gagah berani. Tanpa helm. Kadang berbonceng bertiga sekaligus. Seolah-olah, dengan menjadi pengawal 'gagah berani' mereka otomatis mewarisi lapisan nyawa berlipat kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup akrab dengan situasi tersebut, bukan? Ternyata, memang naas nasib orang sekarat di Jakarta. Tidak lebih baik dari jenasah yang, notabene, hidupnya tak perlu diselamatkan lagi sekalipun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-117449778481873778?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/117449778481873778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=117449778481873778&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/117449778481873778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/117449778481873778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2007/03/nasib-orang-mati-lebih-beruntung-dari_22.html' title='Nasib orang mati lebih &apos;beruntung&apos; dari orang sekarat (di Jakarta)'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-115946511593758121</id><published>2006-09-29T00:32:00.000+07:00</published><updated>2006-09-29T00:38:36.900+07:00</updated><title type='text'>Blog ini berdebu sekali</title><content type='html'>Tentu saja. Dari bulan April blog sama sekali tidak diisi. Ditengok pun tidak. Males banget sih. Kalo rumah, debunya pasti menumpuk luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo mulai menulis lagi. Mulai dari mana? Cerita pengalaman diving? Cerita sibuk lagi di Citra Pariwara yang baru selesai? Cerita setengah mati memenuhi kaul untuk berhenti merokok? Cerita pusingnya ngurusin kerjaan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok deh. Pelan-pelan menata otak dulu. Mencari awal untuk menulis blog lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-115946511593758121?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/115946511593758121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=115946511593758121&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/115946511593758121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/115946511593758121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/09/blog-ini-berdebu-sekali.html' title='Blog ini berdebu sekali'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-114563750302351103</id><published>2006-04-21T23:33:00.000+07:00</published><updated>2006-04-21T23:38:25.340+07:00</updated><title type='text'>Tanpa Shout Box</title><content type='html'>Mohon maaf kepada para pengunjung. Karena saya tidak ngerti bagaimana mengatasi spam komentar di Shout Box (mudah-mudah Anda tak mengalaminya), terpaksa Shout Box saya buang dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara waktu, blog saya cuma mengandalkan Comment sebagai ruang untuk berkomentar. Lebih aman, karena bisa disetting dengan memasukkan word verification untuk menghindari spam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas pengertiannya ya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-114563750302351103?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/114563750302351103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=114563750302351103&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114563750302351103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114563750302351103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/04/tanpa-shout-box.html' title='Tanpa Shout Box'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-114527296677255872</id><published>2006-04-17T18:08:00.000+07:00</published><updated>2006-04-18T16:57:30.513+07:00</updated><title type='text'>Sneaker Pimps Snapshots</title><content type='html'>Sekilas sneakers yang dipamerkan di Sneaker Pimps di Semanggi Expo pada tanggal 9 April lalu. Di foto pakai hape, harap maklum sama kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00005.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00005.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00007.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00007.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00008.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00008.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00009.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00009.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00010.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00010.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00012.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00012.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00015.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00015.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00018.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00018.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/DSC00023.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/DSC00023.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-114527296677255872?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/114527296677255872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=114527296677255872&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114527296677255872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114527296677255872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/04/sneaker-pimps-snapshots.html' title='Sneaker Pimps Snapshots'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-114398050069261664</id><published>2006-04-02T19:10:00.000+07:00</published><updated>2006-04-04T08:58:29.623+07:00</updated><title type='text'>Pattaya yang Sepi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/adfest%20sign%201.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/adfest%20sign%201.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah catatan ringan dari gegap-gempita pesta kreatif periklanan se Asia Pacific di Pattaya yang berlangsung tanggal 9-11 Maret 2006 yang lalu. Telat banget ceritanya sih, tapi daripada tidak sama sekali. Toh cerita bukan oleh-oleh makanan yang bisa busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali ketiga berturut saya pergi ke &lt;a href="http://www.asiapacificadfest.com"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asia Pacific Advertising Festival&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; – biasa disingkat AdFest – di Pattaya. Ini tahun ke 9 penyelenggaraan. Bagi para pekerja kreatif iklan di kawasan Asia Pacific, AdFest sudah menjadi semacam ritual rutin tempat karya-karya mereka unjuk gigi. Kalau masih belum bisa unjuk gigi, ya belajar sama mereka yang sedang unjuk gigi, tentunya. Untuk urusan unjuk gigi ini, Indonesia memang termasuk paling payah. Sepanjang penyelenggaraan AdFest, belum ada satu pun karya dari Indonesia yang meraih satu pun metal. Bronze sekali pun. Prestasi tertinggi karya iklan Indonesia hanya pada tahun 2004 ada 1 iklan cetak dari Ogilvy yang jadi finalis, dan tahun lalu ada 7 karya (6 di antaranya iklan televisi) yang menjadi finalis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;That’s it&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan tahun ini? Mengingat prestasi tahun lalu dengan 7 finalis tak heran bila rombongn ‘umroh’ pekerja iklan Indonesia di AdFest 2006 yang berjumlah 100an orang berharap banyak. Mimpi melihat karya Indonesia disebut di panggung sebagai penerima metal AdFest 2006. Harapan kian membuncah, ketika siang hari di hari pertama, meluncur kabar luar biasa: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Owen&lt;/span&gt; (dari Lowe) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lia&lt;/span&gt; (dari David) yang mewakili Indonesia di Young Lotus Award 2006 menjadi finalis! Young Lotus Award adalah lomba bagi pekerja iklan di bawah usia 28 tahun. Pesertanya adalah pemenang dari lomba sejenis yang diselenggarakan di masing-masing negara. Owen dan Lia, pasangan luar dalam ini (mereka ternyata juga sepasang kekasih yang sebelumnya sama-sama kerja di BBDO Komunika) adalah pemenang &lt;a href="http://www.citrapariwara.com"&gt;Daun Muda Award&lt;/a&gt; di Citra Pariwara 2005. Sebagai hadiah, mereka berdua dikirim &lt;a href="http://www.pppi.or.id"&gt;PPPI&lt;/a&gt; mewakili Indonesia di Young Lotus Award 2006.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/lita-owen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/lita-owen.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta Young Lotus mendapat tugas menyiapkan kampanye tentang AdFest sebagai festival periklanan kelas dunia untuk kalangan periklanan di kawasan Asia Pacific. Karena itu 2 pesan menjadi kunci kampanyenya: Cannes Asia (Cannes adalah festival iklan dunia yang reputasinya sangat tinggi) dan Truly Asia. Ketiga pasangan finalis – dari Malaysia, Indonesia dan Korea – mendapat kesempatan mempresentasikan karya mereka di hadapan peserta AdFest 2006 di sore hari. Gemuruh dukungan dari kontingen meramaikan tempat acara. Apalagi buat Owen dan Lia. Selesai Owen dan Lia presentasi, setelah pasangan Malaysia, timbul optimisme bahwa Owen dan Lia akan jadi orang Indonesia pertama yang membawa pulang metal AdFest ke negerinya. Namun presentasi terakhir dari pasangan Korea yang tak kalah menarik membuat persaingan merebut pemenang Young Lotus makin ketat bagi Owen dan Lia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Welcome party&lt;/span&gt; AdFest 2006 digelar malam harinya di kolam renang Hotel Royal Cliff yang menjadi tempat penyelenggaraan AdFest, sekaligus tempat sebagian besar peserta menginap. Hotel dan tempat konferensi di kawasan pinggir pantai yang berbukit ini memang megah dan luas sekali. Bahkan paling besar di Pattaya karena kawasan ini dulu dibangun untuk APEC. Tapi di acara yang meriah dan makanannya luar biasa enaknya ini, selera makan kontingen Indonesia pun terpaksa berkurang setelah juri Young Lotus memutuskan pasangan dari Korea Selatan lebih berhak atas metal Young Lotus Award 2006. Sayangnya, di kategori ini hanya ada 1 pemenang, tidak ada peraih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;silver&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bronze&lt;/span&gt;. Di pesta ini juga diumumkan para pemenang lomba untuk kategori Direct Marketing dan Interactive. Sekali lagi, tidak ada satu pun karya Indonesia yang lolos. Bahkan sebagai finalis sekali pun. Hari pertama berlalu dengan sepi bagi karya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua adalah kesempatan buat saya menikmati karya-karya iklan media cetak, poster, media luar ruang dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;direct marketing&lt;/span&gt; yang dipamerkan di sepanjang koridor gedung kenferensi PEACH sepanjang kurang lebih 500 meter. Ribuan karya iklan dari kawasan Asia Pasifik saling pamer kekuatan ide dan kreatifitas. Karena relatif sudah terjadi swa-seleksi di masing-masing negeri (umumnya mereka tak akan mengirim karya yang tidak memenangkan lomba iklan di negerinya sendiri), kualitas iklan-iklan relatif nyaman untuk dinikmati. Iklan “sampah” (istilah untuk iklan-iklan butut yang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; geer&lt;/span&gt; dan nekat disertakan) relatif sedikit. Hari ini saya memilih berkonsentrasi menikmati pameran iklan dan mengabaikan sejumlah pembicara di hari ini. Apalagi mendengar acara &lt;a href="http://www.gunnreport.com"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gunn Report&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (rekapitulasi iklan-iklan peraih award di berbagai festival iklan) yang sudah 2 kali saya ikuti. Saya memilih beli bukunya saja deh, toh Donald Gunn juga niatnya ‘dagang’ bukunya kok, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enaknya menikmati pameran di hari kedua, kita sudah bisa melihat karya-karya yang menjadi finalis yang ditandai dengan stiker putih pada iklan yang dipamerkan. Menikmati dan belajar dari karya-karya yang meraih posisi finalis, lagi-lagi saya harus mengakui bahwa Indonesia sungguh jauh tertinggal dari Thailand. Bukan dalam hal prestasi yang telah dicapai, tapi sungguh pada bagaimana cara mereka mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang. Perkembangan kemajuan Thailand mampu menunjukkan progresi yang sangat jelas. 4 tahun lalu mereka mengejutkan semua orang dengan karya-karya iklan televisi yang khas. Sejak itu mereka selalu mendominasi kemenangan kategori iklan televisi. Tapi Thailand tidak berpuas diri. Mereka sungguh belajar dari Singapore yang selalu mendominasi kategori iklan media cetak bertahun-tahun. Sejak tahun lalu, Thailand mulai menyaingi Singapura dari dominasi mereka di kategori media cetak dengan merebut Best Print. Tahun ini, Thailand semakin menggila di kategori ini. Separuh lebih finalis kategori ini datang dari Thailand. Dan harus diakui, seperti karya mereka di televisi, dominasi ini jauh dari sekedar factor keuntungan sebagai tuan rumah. Karya-karyanya sendiri telah bicara sebagai karya iklan kelas dunia dengan ide yang sungguh mengejutkan. Bagaimana dengan Indonesia? Hari kedua, Pattaya terasa makin sepi buat saya. Tak satu pun karya iklan Indonesia menjadi finalis. Kemana iklan-iklan peraih Citra Pariwara 2005 dan pemenang ADOI Award yang diumumkan seminggu lalu di Gedung Arsip Nasional minggu lalu ya? Pengumuman pemenang kategori Print, Poster dan Outdoor malam hari semakin meneguhkan kemajuan pesat yang dicapai Thailand. Mereka mendominasi peraihan metal di kategori Print dan Poster. Sekaligus menyudahi tradisi Singapura di kategori ini. Sementara di media luar ruang, Jepang lagi-lagi tak terkalahkan. Tapi 2-3 tahun lagi, bukan tak mungkin Thailand akan menyaingi mereka di kategori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/closing%20party%204.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/closing%20party%204.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ketiga sekaligus hari terakhir. Luput menonton &lt;span style="font-style: italic;"&gt;short list&lt;/span&gt; finalis iklan televisi yang pemenangnya akan diumumkan di Closing Ceremony sekaligus Gala Dinner AdFest 2006 malam ini. Tapi kabar buruk sudah merebak di siang hari memastikan Pattaya semakin sepi prestasi bagi kontingen Indonesia: tidak ada satu pun iklan televisi Indonesia yang masuk short list finalis. Jadilah Indonesia cuma jadi penggembira di kategori ini. Makanan mewah yang tersaji di Closing Ceremony hanya jadi pengudap hambar yang menemani kami mengagumi ‘loncatan kejut’ iklan-iklan televisi Thailand yang merajai AdFest 2006 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada ‘pesta’ untuk Indonesia di Pattaya. Saya pribadi pun sudah kehilangan ‘selera’ untuk membahas ujung pangkal kemandulan kreatif kita di AdFest kali ini. Karena – menurut hemat saya – sudah tak ada lagi celah untuk mencari sebab musabab kegagalan Indonesia di AdFest. Selain mengakui bahwa daya kreativitas kita memang tertinggal cukup jauh. Jenis initiative ad (iklan inisiatif biro iklan yang dirancang untuk memenuhi standar kualitas lomba periklanan) tak kurang banyak sudah dibuat oleh kita, tetap tak mampu bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kesempatan toh tidak akan hilang. AdFest masih akan berlangsung setiap tahun. Saya cuma berharap tahun depan Pattaya bisa terasa lebih ramai dari tahun ini. Paling tidak Indonesia, dari tahun ke tahun, tidak hanya mencetak ‘prestasi’ dalam jumlah kontingen. Atau sekedar punya wakil di jajaran juri. Dua insan muda periklanan, Owen dan Lia, sudah ‘membuka jalan’. AdFest 2007 menunggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-114398050069261664?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/114398050069261664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=114398050069261664&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114398050069261664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114398050069261664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/04/pattaya-yang-sepi.html' title='Pattaya yang Sepi'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-114034665915614197</id><published>2006-02-19T17:56:00.000+07:00</published><updated>2006-02-19T21:22:32.886+07:00</updated><title type='text'>Koffie Fabriek Aroma Bandoeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/aroma%20toko.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/400/aroma%20toko.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pecinta kopi sejati, pabrik kopi Aroma bukanlah nama asing. Penggemarnya bahkan datang dari berbagai belahan dunia. Tak heran, karena puluhan tahun pabrik kopi Aroma memasok kopinya ke hotel-hotel dan kafe-kafe ternama di manca negara. Setahu saya, &lt;a href="http://finebrew.blogspot.com/"&gt;Gandhi Suryoto&lt;/a&gt;, kawan saya sesama praktisi periklanan, adalah salah seorang penikmat dan pecinta Kopi Aroma. Di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog&lt;/span&gt;-nya malah ada cerita ia memperoleh pengetahuan pembuatan kopi di pabrik kopi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu kemarin (18 Februari) saya bersama isteri berkesempatan datang lagi ke Pabrik Kopi Aroma yang berlokasi di jalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banceuy 51&lt;/span&gt;, Bandung. Menelusuri kenangan 20 tahun lalu ketika saya terakhir membeli kopi di sana saat masih duduk di kelas 3 SMA. Waktu itu memang belum ada yang namanya Starbucks, Segafredo, dan sejenisnya. Belum ada juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;café&lt;/span&gt; yang menjanjikan suasana menikmati kopi dengan gaya ‘priyayi’ di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mall&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shopping center&lt;/span&gt;. Kopi Aroma adalah ‘kemewahan’ yang terjangkau buat saya dan rekan-rekan sekolah sesama pecinta kopi. Di awal-awal tahun bekerja, saya masih sempat menikmati kembali kopi Aroma dengan gaya yang sedikit menak. Waktu itu, Sidewalk Café yang berada di sayap kiri depan Hotel Savoy Homann hanya menyajikan kopi Aroma buat pengunjungnya. Sayangnya sudah lama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;café&lt;/span&gt; ini tutup, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffee shop&lt;/span&gt; Homann yang sekarang tidak lagi menjual kopi Aroma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/aroma%20plakat.2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/aroma%20plakat.2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Sama sekali tak ada yang berubah dari pabrik kopi Aroma. Semuanya masih tetap terlihat sama. Di mata saya, 20 tahun lalu saja, pabrik yang sekaligus merangkap toko ini sudah terlihat klasik. Apalagi sekarang. Berada di deretan toko bergaya bangunan dari zaman kolonial, Aroma memang makin teguh citranya sebagai merek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;heritage&lt;/span&gt;. Hanya kepadatan kawasan Banceuy yang terasa makin ruwet. Arah jalan menuju Banceuy juga sudah berubah sehingga harus agak memutar bila kita datang dari arah Utara. Pabrik kopi Aroma memang berada di kawasan penjualan peralatan dan asesoris kendaraan bermotor dan di lingkungan kawasan niaga sejak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bangunan luar dan dalam yang tak berubah, satu hal penting yang tak pernah berubah – dan karenanya kopi Aroma tetap menjadi salah satu kopi terbaik sampai hari ini – adalah &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;passion&lt;/span&gt; pemiliknya pada kopi. Ketika sedang menanti butir kopi di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;grind&lt;/span&gt;, kami sempat dihampiri oleh pemiliknya. Beliau – entah generasi ke berapa, walau saya menduga beliau adalah generasi kedua atau ketiga – dengan antusias menjelaskan tentang sifat dua jenis kopi yang kami pesan: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arabica&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robusta&lt;/span&gt;, tanpa diminta. Robusta, katanya, untuk meningkatkan stamina. Berguna untuk tetap melek dan konsentrasi, seperti kalau mau kerja lembur atau mennyetir jarak jauh. Disarankan untuk tidak meminumnya pada saat malam hari ketika kita hendak beristirahat. Sementara jenis Arabica nikmat diminum saat kita sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;happy&lt;/span&gt;, rileks dan santai. Kami juga memperoleh tips bagaimana cara menyimpannya. Beliau menyarankan kopi disimpan di tempat kedap udara dan disimpan di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frezzer&lt;/span&gt; di kulkas. Untuk membawa pulang ke Jakarta, beliau malah wanti-wanti jangan diletakkan di bagasi mobil, tapi di bagian depan dekat AC. Katanya, bagian bagasi belakang mobil yang sering kemasukan bau oli bisa mengganggu aroma kopi. Sayang, kami tidak sempat terlibat pembicaraan lebih lama. Bahkan tidak sempat berkenalan. Beliau sudah disibukkan oleh urusan lain. Satu info penting yang kami dapat, ternyata, sudah banyak tempat minum kopi di Bandung dan Jakarta yang menyajikan kopi Aroma. Sayangnya, beliau juga tak sempat memberitahu kami lebih detail dimana saja di Jakarta kami bisa menikmati kopi Aroma. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/aroma%201.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/aroma%201.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Kami akhirnya memesan masing-masing 3 bungkus kopi (@ 250 gram) jenis Arabica dan Robusta. Ketika membayar, kami cuma bisa ternganga karena harganya. Untuk 6 bungkus kali 250 gram salah satu kopi terbaik di dunia ini kami mengeluarkan uang yang nilainya kurang lebih sama dengan pesanan 2 gelas kopi di coffee shop di mal-mal di Jakarta. Gaya hidup memang mahal ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he.. he.. he..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Anda para penikmat kopi kelas berat dan belum pernah merasakan nikmatnya kopi Aroma, saya sungguh menyarankan – bila mengunjungi Bandung – sempatkan membeli kopi Aroma. Biar sedikit padat dan ruwet, jalan Banceuy adalah jalan terkenal yang sangat mudah dicari di Bandung. Bila sudah sampai di kawasan itu, tanyakan saja pada para tukang parkir, mereka pasti tahu dimana letak pabrik kopi Aroma yang legendaris itu. Dan silakan buktikan sendiri kedahsyatan rasa dan aromanya yang luar biasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-114034665915614197?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/114034665915614197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=114034665915614197&amp;isPopup=true' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114034665915614197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114034665915614197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/02/koffie-fabriek-aroma-bandoeng.html' title='Koffie Fabriek Aroma Bandoeng'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-114034541401036286</id><published>2006-02-19T17:32:00.000+07:00</published><updated>2006-02-19T21:25:28.536+07:00</updated><title type='text'>Sebuah ‘Jalan Kebanggaan’</title><content type='html'>Rabu, 15 Februari 2006 harian &lt;a href="http://www.kompas.com"&gt;Kompas&lt;/a&gt; menurunkan tulisan bertajuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasib Supir Taxi: Tarikan Sepi, Sarapan “Ngutang", Makan Siangnya Ubi&lt;/span&gt;. Liputan yang muncul di halaman pertama ini mengungkap kesulitan para supir taxi di Jakarta bertahan hidup di tengah dampak kenaikan harga BBM. Beratnya kondisi ekonomi membuat para supir taxi bahkan sampai harus menghemat pendapatannya dengan mengisi perut dengan ubi ala kadarnya yang lebih murah dari ongkos makan nasi dan lauk di warteg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan ini, Kompas mewawancarai dan memuat foto supir-supir taxi yang biasa nongkrong di sebuah jalan di sebelah Waduk Setiabudi di kawasan Jakarta Pusat. Mungkin banyak yang belum tahu dimana tepatnya letak jalan tersebut. Jalan yang yang panjangnya mungkin tak lebih dari 100 meter ini persisnya terletak di antara Gedung Landmark di jalan Jendral Sudirman dan Hotel Four Seasons yang terletak di jalan HR Rasuna Said (Kuningan). Kebetulan, inilah jalan yang saya lewati setiap hari dari tempat tinggal saya di Kuningan menuju kantor di kawasan Pejompongan. Jalan ini memang sudah bertahun-tahun jadi tempat supir-supir taxi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;break&lt;/span&gt; narik untuk sesaat. Saya tidak tahu sejak kapan sebenarnya kebiasaan ini dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/jalan3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/jalan3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin yang juga tidak banyak diketahui banyak orang – kecuali mereka yang berkantor di sekitar sana atau punya rutinitas melalui jalan ini seperti saya – bahwa jalan ini merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt;. Di lanjutan jalan ini ke arah Sudirman yang letaknya persis di antara Gedung Landmark dan Wisma Indocement, juga terdapat sebuah jalan yang kurang lebih sama panjangnya. Bedanya, di jalan ini terdapat pemisah jalan selebar kurang lebih 1 meter yang ditanami pepohonan dan rumput yang dirawat. Pemisah jalan bertaman ini merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taman Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt;. Dua ruas jalan yang hanya dipisahkan oleh sebuah bundaran kecil ini merupakan jalan dan taman kebanggaan Kelurahan Setiabudi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Statement&lt;/span&gt; ini diperkuat dengan dipasangnya tulisan tersebut dalam bentuk seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plang&lt;/span&gt; nama jalan di kedua ruas jalan yang menyatakan hal tersebut. Entah kenapa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt; sekarang tidak terlihat lagi. Barangkali rubuh tertabrak kendaraan. Entahlah. Tapi plang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taman Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt; masih terpampang gagah di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/jalan2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/jalan2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kembali ke &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt; yang menjadi tempat mangkal para supir taxi, banyak juga yang tentu tidak tahu bahwa di jalan ini para supir taxi tidak hanya menjadikan sebagai tempat beristirahat – kadang untuk tidur sesaat di dalam mobil, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngobrolin&lt;/span&gt; nasib, makan ubi untuk menghemat penghasilan, tapi juga tempat mereka buang air kecil. Benar, buang air kecil alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pipis&lt;/span&gt;! Entah sejak kapan juga kebiasaan ini dimulai. Tapi jelas, salah satu pemandangan yang bisa Anda lihat jika melalui jalan ini adalah adegan seorang supir taxi sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pipis&lt;/span&gt; sambil berdiri di balik pintu taxi yang dibuka lebar untuk menutupi auratnya dari pandangan kendaraan lain yang lewat. Memang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Kebanggaan Kelurahan Setiabudi&lt;/span&gt; ini sungguh multifungsi buat para supir-supir taxi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan tersebut benar-benar jalan yang bisa dibanggakan karena ternyata -- tanpa sengaja – telah memberi ruang buat para supir taxi beristirahat, berkumpul, makan yang murah sampai buang hajat gratisan di kota yang segala-galanya sudah serba bayar ini. Mudah-mudahan juga para petinggi negeri ini tidak pernah dan tidak perlu melalui jalan ini. Agar para supir taxi tak kehilangan jalan kebanggaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-114034541401036286?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/114034541401036286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=114034541401036286&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114034541401036286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/114034541401036286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/02/sebuah-jalan-kebanggaan.html' title='Sebuah ‘Jalan Kebanggaan’'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113870530096098205</id><published>2006-01-31T17:31:00.000+07:00</published><updated>2006-01-31T18:04:54.073+07:00</updated><title type='text'>Belajar Moral Profesi dari Adi Purnomo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/relativitas.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/relativitas.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya menemukan buku ini di &lt;a href="http://www.aksara.com/"&gt;Aksara&lt;/a&gt;, Plaza Indonesia kemarin. Ini bukan buku yang mengupas teori Relativitas-nya Albert Einstein yang super-susah, tapi mengungkap pikiran penulisnya tentang berbagai persoalan dan tantangan praktik profesi arsitek di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pengarang: Adi Purnomo, merupakan seorang arsitek penuh prestasi yang telah meraih berbagai penghargaan. Termasuk penghargaan Arsitek Muda dari Ikatan Arsitek Indonesia dan terpilih sebagai Tokoh Arsitek 2004 oleh majalah Tempo. Adi Purnomo lahir di Jogja tahun 1968 dan belajar arsitektur di UGM. Sekarang ia memiliki studio arsitektur sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang tidak memiliki pengetahuan arsitek ataupun disiplin lain yang mepet-mepet dengan ilmu arsitektur, tentu punya alasan sendiri kenapa akhirnya memutuskan membeli buku ini. Sebuah penjelasan singkat di belakang buku yang diterbitkan oleh Penerbit Borneo ini mengantar saya untuk mencoba membaca buku ini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Buku ini merupakan penggalan pendek perjalanan sebuah praktek arsitek yang sedang menyelami itu semua. Sebuah praktek yang masih menyimpan banyak ketidakmengertian dan sejumput kegentaran menghadapi gerak zaman ini. Buku ini bebas dibaca sebagai sebuah jurnal pribadi, meski tetap berharap bisa mengambil bagian yang lebih jauh dalam telaah arsitektur di negeri ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca separuh isi buku semalam, saya makin asyik menyelami pikiran, kegelisahan, pertanyaan dan sikap penulisnya dalam berprofesi. Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Lebih jauh, penulisnya menciptakan konteks sosial ke dalam setiap bahasannya. Penulis bahkan meninggalkan impresi bahwa peran arsitek (seharusnya) bisa menjangkau lapis kebutuhan terbesar terhadap perumahan di negeri ini, jenis perumahan tipe sangat sederhana dan sederhana. Memang, melalui buku ini, penulis jelas-jelas melakukan pemihakan kepada kebutuhan masyarakat kebanyakan terhadap perumahan yang layak dan baik di negeri ini. Tidak heran bila di buku ini kita menjumpai telaah arsitektur tentang rumah susun, rumah ‘kampung’ sampai sekolah dan rumah ibadah. Kita juga bisa menjumpai sebuah rumah yang dibangun di kawasan Ciganjur dengan visi yang jelas untuk tetap menjadikan keluarga yang hidup di sana sebagai keluarga ‘Indonesia’. &lt;a href="http://mocoloco.com/archives/000759.php"&gt;Rumah Ciganjur&lt;/a&gt; yang dianggap sebagai model rumah modern abad 21 justru jauh dari gaya 'wah'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dan kegelisahan penulis terhadap kondisi perumahan urban di kota macam Jakarta, sebenarnya adalah pertanyaan dan kegelisahan kita semua. Problem pemukiman yang layak bagi masyarakat miskin kota menjadi sorotan besar penulis (sekalipun buku ini juga diperkaya dengan sejumlah bahasan tentang desain arsitektur di luar negeri). Menjadi sebuah refleksi kritis profesi yang ditekuni oleh sang penulis yang dapat dikunjungi oleh pembaca yang tidak memahami profesi ini sekalipun. Inilah sebuah buku yang memberikan optimisme kepada kita tentang pentingnya moral profesi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, menurut saya, juga mampu menjadi inspirasi buat mereka yang sedang berencana membangun rumah sendiri – tidak peduli seberapa besar ukuran lahan dan rumah yang akan dibangun -- dengan konsep yang ‘waras’ dan ‘membumi’. Buku ini rasanya cukup meyakinkan kita untuk tidak minder maupun keder terhadap 'biaya arsitek'. Bahkan siapa tahu Adi Purnomo sendiri bisa membantu mewujudkan angan Anda tentang rumah yang baik? Siapa tahu! Kecuali kalau Anda sudah 100% yakin ingin punya rumah bergaya ‘istana’ Julius Caesar macam di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boulevard-boulevard&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt; mewah, ya sebaiknya jangan buang-buang waktu membaca buku ini. Apalagi menemui Adi Purnomo. Jangan-jangan nanti malah jengkel pada si penulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113870530096098205?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113870530096098205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113870530096098205&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113870530096098205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113870530096098205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/01/belajar-moral-profesi-dari-adi-purnomo.html' title='Belajar Moral Profesi dari Adi Purnomo'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113853323212157993</id><published>2006-01-29T18:12:00.000+07:00</published><updated>2006-01-29T18:13:52.390+07:00</updated><title type='text'>Ramalan Tahun Anjing Api (Dijamin Bener)</title><content type='html'>Karena kondisi ekonomi negeri ini yang makin berat akibat kenaikan BBM, PHK dimana-mana, harga beras dan gula meroket, listrik dan telepon bakal ikut-ikutan naik juga, segala-galanya pokoknya bakal naik sementara pendapatan tetap jalan di tempat -- diramalkan dengan pasti akan makin banyak orang stress di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan dan di tempat-tempat publik kita bakal (makin) sering menemui orang-orang bersitegang karena menganggap dirinya lebih benar. Antara sesama pengendara sepeda motor. Antara sesama pengendara mobil. Antara sesama pengendara angkutan umum. Antara pengendara mobil-motor-angkutan umum. Antara penagih utang dan yang berutang. Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun Anjing Api ini, diramalkan kita bakal makin sering mendengar makian: “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANJING&lt;/span&gt; LU!” dilontarkan dimana-mana dengan mata marah menyala seolah menyemburkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;API&lt;/span&gt;. Saya jamin 100% ramalan ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; bakalan meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan serius-serius &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ah&lt;/span&gt;! Ini cuma guyonan garing gara-gara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; terima&lt;span style="font-style: italic;"&gt; angpao&lt;/span&gt;. Saya bukan paranormal kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gong Xie Fat Choi. Selamat tahun baru. Selamat tahun Anjing Api. Penjaga lapo-lapo mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngucapinnya&lt;/span&gt; begini: Selamat tahun ‘Barbeque Saksang’, Bung! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he.. he… he…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113853323212157993?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113853323212157993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113853323212157993&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113853323212157993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113853323212157993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/01/ramalan-tahun-anjing-api-dijamin-bener.html' title='Ramalan Tahun Anjing Api (Dijamin Bener)'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113767942150317752</id><published>2006-01-19T20:41:00.000+07:00</published><updated>2006-01-21T11:50:11.363+07:00</updated><title type='text'>Paradoks Prius di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/prius.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/prius.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Iklannya muncul di harian Kompas berkali-kali. Mengungkap segala nilai terobosan Toyota di bidang pengembangan mobil &lt;a href="http://www.edmunds.com/insideline/do/Features/articleId=45188?tid=edmunds.a.advicelanding.advice.tech.2.*"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang ramah lingkungan. &lt;a href="http://www.toyota.com/prius/"&gt;Toyota Prius&lt;/a&gt;, mobil  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; pertama yang diproduksi secara massal oleh Toyota berhasil menjadi salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;best-selling car&lt;/span&gt; di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toyota Prius yang dijual seharga US$ 21,725 di Amerika sana (senilai 206,6 juta rupiah untuk kurs 9.500 perak per &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dollar&lt;/span&gt;) memang pionir kendaraan masa depan. Teknologi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; selain sangat ramah lingkungan juga menjanjikan efisiensi bahan bakar yang luar biasa karena memadukan secara canggih dua sistem energi penggerak: bahan bakar bensin dan listrik. Alhasil, daya hemat bahan bakarnya mencapai 1:25. Untuk 1 liter bensin menempuh jarak 25 kilometer. Kesuksesan Prius membuat semua produsen lain berlomba-lomba menyiapkan versi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; pada kendaraan keluaran tahun ini. Honda, Ford, Chevrolet, Lexus dan sejumlah merek sudah siap berebut pasar mobil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt;. Termasuk Toyota sendiri untuk jenis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, teknologi ini merupakan sebuah solusi hebat untuk masyarakat Indonesia yang sanggup membeli mobil. Bisa mengakali harga BBM yang semakin melangit sekaligus berperan dalam mengurangi polusi yang makin menggila di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, Prius akan dijual di Indonesia dengan harga sekitar 450 juta rupiah. Di kelompok harga ini, Prius akan berada sejajar dengan sedan mewah sekelas Audi A4 2.0, BMW 320i, Mercedes C200 dan Volvo S60 2.0. Bahkan lebih mahal dari Toyota Camry, Honda Accord dan Nissan Teana yang tampil sangat mewah. Berapa orang yang sanggup membelinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aneka mobil mewah berseliweran di jalan-jalan, khususnya Jakarta. Bahkan yang harganya berlipat kali Prius. Namun -- tetap saja -- dari jutaan mobil yang beredar di negeri ini, populasinya didominasi oleh mobil jenis Toyota Kijang, Xenia, Avanza, APV, Atoz, Karimun, Zebra, Carry, Jazz, Ceria dan semua jenis mobil di kisaran harga 60 – 150 juta. Ini mencerminkan daya beli masyarakat yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kehadiran Prius menurut saya sebuah paradoks. Kelompok masyarakat yang sanggup beli mobil seharga 450 juta adalah justru kelompok yang kebal terhadap kenaikan harga BBM. Nilai penghematannya juga mungkin tidak akan terasa sama sekali jika dibandingkan penghasilan bulanan mereka. Kalau pun iya, itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sih&lt;/span&gt; lebih karena pelit ketimbang beneran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; mampu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hahaha&lt;/span&gt;. Sementara, kelompok masyarakat yang sebenarnya sangat membutuhkan kendaraan yang lebih hemat BBM agar pendapatan bulanannya tidak tersedot ke sana, bisa dipastikan cuma bisa meneteskan air liur saja melihat Prius. Sambil bermimpi agar selekasnya muncul Carry Hybrid, Zebra Hybrid, Xenia Hybrid, Avanza Hybrid, Karimun Hybrid, Jazz Hybrid, APV Hybrid, dan sejenisnya yang mampu dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya paradoks ini jelas bukan salah Toyota. Dari dulu kita tahu harga mobil di Indonesia memang sudah paradoks. Dengan segala macam alasan, kita harus membayar pajak kendaraan jauh lebih besar dibanding rata-rata penduduk di negara lainnya, termasuk negara yang jauh lebih maju macam Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa (kecuali mungkin Singapura dan beberapa negara kecil lainnya). Jadinya, rasio pendapatan dengan harga mobil betul-betul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jomplang&lt;/span&gt;. Perbandingan sederhananya adalah harga jual Prius di Amerika. Coba kita hitung begini: bila kita anggap batas kewajaran seseorang untuk memiliki sebuah mobil adalah harga mobil miliknya wajarnya berada di bawah total pendapatan setahun, maka memang Prius di Amerika bisa dibilang mobil yang relatif murah (pendapatan seorang tukang listrik biasa saja di sana sekitar US$ 25,000 per tahun). Tak heran bila Prius menjadi begitu popular di sana. Kalau di Indonesia? Ya bayangkan saja sendiri berapa banyak orang yang punya penghasilan lebih dari 450 juta setahun. Barangkali tak sampai 1% dari populasi. Apa mungkin Prius menjadi mobil 'sejuta umat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas sudah, Prius akan menjadi ‘hak eksklusif’ kelompok menengah atas di Indonesia. Padahal, menurut saya, ini benar-benar perkara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;political will&lt;/span&gt; dari pemerintah. Bila pemerintah mau melihat mendesaknya kebutuhan terhadap kendaraan yang hemat energi dan mampu mengurangi dampak lingkungan secara signifikan di negeri ini, teknologi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; atau teknologi kendaraan elektrik lainnya harusnya mendapat potongan pajak yang besar agar dapat dijual dengan harga lebih terjangkau, karena konon komponen harga mobil terbesar di negeri ini adalah segala macam jenis pajak yang dikenakan. Atau lebih jauh lagi, pemerintah mendorong produsen mobil-mobil kelas harga yang saya sebut di atas untuk mengembangkan versi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt; dengan kompensasi pengurangan pajak yang besar. Lebih-lebih lagi kalau semua bis kota, metro mini, mikrolet dan segala jenis angkutan umum didukung juga keberadaan versi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid&lt;/span&gt;nya. Mantap bener tuh! Mustinya visi seperti ini yang segera diusung, bukan hanya sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kir&lt;/span&gt; emisi yang sekarang sedang ramai dibicarakan di Jakarta. Sepertinya sederhana ya? Saya juga tidak mengerti susahnya dimana. Sumpah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/marlip.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/marlip.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Padahal, di Indonesia sebenarnya sudah ada dua pihak yang  punya niat besar untuk mengembangkan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; city car&lt;/span&gt; berbasis energi elektrik. Satu karya peneliti &lt;a href="http://www.inovasi.lipi.go.id/website/"&gt;LIPI&lt;/a&gt; yang dinamai&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/26/humaniora/2156755.htm"&gt;MARLIP&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (dari kata Marmut dan LIPI. Nama yang aneh! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;). LIPI juga perancang KANCIL yang sekarang jadi pengganti bajaj. Satu lagi dari PT Dirgantara Indonesia yang dinamai &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0305/01/daerah/288546.htm"&gt;Gang Car&lt;/a&gt; (Ini maksudnya mobil yang bisa masuk ke gang-gang kali ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;). Sayangnya pakai &lt;a href="http://www.goggle.com"&gt;goggle&lt;/a&gt;, saya cuma ketemu 1 fotonya, sedang dikendarai oleh Presiden dan Aa Gym. Padahal, Marlip sendiri katanya sudah punya 8 model. Prius saja tidak sebanyak itu. Aduh, mudah-mudahan idenya tidak bernasib seperti liputannya yang cuma jadi berita seremonial saja. Terus terang saya tidak tahu rencana besar apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap 2 usulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini, sesaat lagi, kita nikmati saja dulu kehadiran Prius di jalan-jalan. Mudah-mudahan Prius dibeli – oleh mereka yang sanggup membelinya – dengan kesadaran terhadap perbaikan kondisi lingkungan yang tinggi. Dan semoga, kita tidak perlu menemukan paradoks berikutnya di jalanan: seorang majikan melempar sampah ke jalanan dari kaca jendela mobil Toyota Prius yang mulus dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kinclong&lt;/span&gt;. Itu sih namanya mobil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hybrid &lt;/span&gt;dengan konsumen 'hybrid' dong, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hahahaha&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113767942150317752?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113767942150317752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113767942150317752&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113767942150317752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113767942150317752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/01/paradoks-prius-di-indonesia.html' title='Paradoks Prius di Indonesia'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113680806918965631</id><published>2006-01-09T18:50:00.000+07:00</published><updated>2006-01-09T23:50:51.216+07:00</updated><title type='text'>Andai Peter Jackson Penggemar RA Kosasih</title><content type='html'>Mungkin kita juga akan menyaksikan di layar lebar hebatnya kisah Mahabharata dan perang Bharata Yudha yang kolosal tampil sedahsyat kisah trilogi &lt;a href="http://www.lordoftherings.net"&gt;The Lord of The Rings&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.kingkongmovie.com"&gt;King Kong&lt;/a&gt;, film teranyar karya Peter Jackson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/LOTR.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/LOTR.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/king_kong_ver5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/king_kong_ver5.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai nonton King Kong, kesimpulan saya memang makin mantap. Peter Jackson sulit dicari tandingannya di muka bumi ini dalam urusan menciptakan imajinasi yang spektakuler jadi ‘nyata’ ke layar lebar. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eh&lt;/span&gt;, berlebihan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; ya? Tapi coba bayangkan, dari trilogi The Lord of The Rings plus King Kong, siapa coba saingan terdekat Peter Jackson sekarang dalam urusan menghidupkan ‘imajinasi kolosal’ sepresisi dia? Mungkin George Lucas dan Steven Spielberg bisa dianggap ‘pesaing’ terdekat dalam urusan tersebut. Tapi – menurut saya sih – tetap beda jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengakuan Peter Jackson terlihat sekali bahwa dia punya kedekatan emosional dengan kisah-kisah yang diangkat ke layar lebar. Buku The Lord of The Rings karya JRR Tolkien adalah cerita kegemarannya dari kecil. Film King Kong yang dibuat tahun 1933 adalah penyebab dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kebelet&lt;/span&gt; jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmmaker&lt;/span&gt; saat dia berusia 8 tahun. Jadi tak heran obsesi besarnya didukung oleh kedekatan yang sangat dengan kisah yang difilmkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita berandai-andai sejenak. Seandainya si Peter Jackson ini tinggal di Indonesia pada tahun 70-80an, tentu dia akan menjadi salah satu anak muda pelahap komik-komik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt; lokal macam Gundala Putera Petir, Godam, Maza, dan lain-lain. Dia juga mungkin akan jadi pembaca kelas berat cerita silat (cersil) karangan Asmaraman Kho Ping Hoo yang terkenal dengan serial cersil tentang Pendekar Super Sakti, Suma Han. Terakhir, dia juga mungkin akan menjadi pengagum berat kisah-kisah wayang dalam bentuk komik yang legendaris karya RA Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/komik.0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/komik.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/komik2.0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/komik2.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari 3 macam komik/cerita populer di era itu (sebenarnya ada satu lagi bacaan populer yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stensilan&lt;/span&gt; Ennie Arrow. Tapi untuk yang satu ini biarlah Vivid Enterprise yang menggarapnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ha… ha… ha…&lt;/span&gt;), komik wayang legendaries RA Kosasih, utamanya kisah perang Bharata Yudha yang kolosal dan dramatik dalam cerita Mahabharata, menurut saya, bakal jadi tantangan yang sangat menggiurkan bagi orang sekaliber Peter Jackson untuk ‘dihidupkan’ ke layar lebar. Di dalam cerita perperangan besar Bharata Yudha terkandung kisah tentang percintaan, kesetiaan, pengkhianatan, keberanian, kepengecutan, politik, dan segala macam unsur utama yang diperlukan untuk membuat film menjadi cerita yang menarik. Saya yakin kalau saja seorang Peter Jackson menggemari komik wayang RA Kosasih, kita bakal menikmati versi layar lebarnya yang dahsyat. Sayang seribu sayang, dia besar di Selandia Baru. Tak ada wayang di sana. Apalagi seri komik wayangnya RA Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, kebetulan, termasuk salah satu anak di era itu (masih SMP) yang menyukai kisah perwayangan berkat jasa komik wayang RA Kosasih. Bukan dari novel kelas berat. Bukan pula dari pertunjukan wayang kulit atau wayang orang. Pada masa itu, ilustrasi perang Bharatha Yudha betul-betul tergambar di ‘otak’ saya berkat komik wayang ini. Saya pun masih menyimpan koleksi komik tersebut sampai hari ini. Sementara cerita silat Kho Ping Hoo dari seri Bu Kek Siansu si manusia setengah dewa, seri Pendekar Suling Emas diteruskan ke kisah Istana Pulau Es yang menjadi tempatnya Pendekar Super Sakti sampai lanjutan kisah kedua putera kembarnya. Saking &lt;span style="font-style: italic;"&gt;getolnya&lt;/span&gt; membaca cerita-cerita tersebut saya pun tidak naik kelas di tahun tersebut, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ha… ha… ha… &lt;/span&gt;dasar&lt;span style="font-style: italic;"&gt; bego&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/cthd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/cthd.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/hero.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/hero.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Imajinasi saya tentang kehebatan ilmu silat di cersil Kho Ping Hoo terbayar ketika saya menonton film Crouching Tiger Hidden Dragon karya Ang Lee. Ingat adegan kesaktian para pendekar berkejar-kejaran di pohon-pohon bambu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;? Itulah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ginkang&lt;/span&gt; ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dalam gambaran cersil Kho Ping Hoo. Gambaran cersil di otak saya semakin jelas lagi ‘hidup’ ketika saya menonton film Hero karya Zhang Yimou. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/promise.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/promise.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dan kesaktian pesilat yang saking saktinya bisa terbang baru-baru ini saya nikmati di film terbaru Chen Kaige berjudul The Promise. Saat ini, filmnya masih diputar di jaringan 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk kisah-kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt;, biar pun bukan cerita soal Gundala, Godam dan Maza, tapi serial film seperti Batman dan Superman (tahun ini ada lanjutan Superman baru nih) sudah sejak lama berhasil ‘menghidupkan’ rekaman di otak saya tentang gambaran komik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superhero&lt;/span&gt; yang dulu saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah rekaman di otak saya dari komik wayang RA Kosasih inilah yang belum ‘hidup’ di layar lebar. Itulah sebabnya saya pun jadi berandai-andai: andai saja si Peter Jackson ini juga menjadi penggemar komik RA Kosasih, mungkin kita bisa nonton kisah dramatis Mahabharata dan perang akbar Bharata Yudha sedahsyat perang The Lord of The Rings di layar lebar. Sekali lagi, sayang seribu sayang! Apa saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;email&lt;/span&gt; saja ya si Bung Peter Jackson ini? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he...he...he...&lt;/span&gt; Nekat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113680806918965631?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113680806918965631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113680806918965631&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113680806918965631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113680806918965631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/01/andai-peter-jackson-penggemar-ra.html' title='Andai Peter Jackson Penggemar RA Kosasih'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113617160578519316</id><published>2006-01-02T10:04:00.000+07:00</published><updated>2006-01-02T10:13:26.053+07:00</updated><title type='text'>Kantor Saya Juga Punya Resolusi</title><content type='html'>Satucitra, perusahaan tempat saya bekerja -- &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tumben-tumbenan&lt;/span&gt; -- bikin resolusi yang ingin dicapai tahun 2006 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa resolusinya? Jelas bukan nambah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;billing&lt;/span&gt;. Atau nambah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;profit&lt;/span&gt;. Kalau urusan itu, namanya perusahaan ya jelas salah satu tujuan utamanya. Resolusi ini nggak ada urusannya sama ‘isi dompet’ perusahaan. Resolusinya juga sama sekali nggak ada urusannya dengan prestasi kreatif atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;award-award&lt;/span&gt;an. Jadi apa dong resolusi Satucitra untuk 2006?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi yang ingin dicapai Satucitra di tahun 2006 adalah sesuatu yang sudah lama diandai-andai bersama oleh anak-anak Satucitra kalau sedang jenuh badai otak alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brainstorming&lt;/span&gt;. Kita pengen punya sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fitness center&lt;/span&gt;. Bukan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fitness center&lt;/span&gt; sekelas klub-klub keanggotaan yang canggih dan lengkap, tapi sebuah ruang khusus yang akan menyediakan beberapa peralatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fitness&lt;/span&gt; standar yang bisa digunakan oleh semua karyawan. Beberapa&lt;span style="font-style: italic;"&gt; treadmill&lt;/span&gt;, sepeda statis, paket barbel dan beberapa peralatan standar lain. Mungkin kurang tepat bila disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fitness center&lt;/span&gt;. Lebih tepat barangkali disebut saja Ruang Olah Raga. Seperti di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi ini memang akumulasi harapan anak-anak kantor. Sebagian anak-anak cewek sedang semangat berombongan ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aerobik&lt;/span&gt;. Sebagian lagi termasuk rombongan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; jogging&lt;/span&gt; ke Senayan. Rombongan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jogging&lt;/span&gt; yang sering mengistilahkan kegiatan mereka sebagai kegiatan lari ‘dari kenyataan hidup’ ini juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anget-anget tai ayam&lt;/span&gt;. Lebih banyak ide dan keinginan dari prakteknya. Makanya bila ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;treadmill&lt;/span&gt; di kantor tentu mereka tentu akan lebih mudah buat merealisir keinginan buat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jogging&lt;/span&gt;. Resolusi ini juga didukung oleh kecemasan sebagian anak-anak cowok di kantor yang makin gelisah melihat besaran perutnya. Nah, saya pun ternyata termasuk dalam rombongan terakhir ini, ha… ha… ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah angan-angan ini suatu siang di awal Desember ketika kami sedang duduk ramai-ramai di lobi kantor, tercetus jadi sebuah resolusi. Tempat Ruang Olah Raga Satucitra pun sudah dialokasikan. Tepatnya di ruang depan sebelah kanan lobi, persis di depan taman. Rencananya Ruang Olah Raga ini akan dilengkapi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;locker&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shower room&lt;/span&gt; dan tentu saja peralatan. Ruangannya akan ditata sedemikian rupa sehingga anak-anak akan berolah raga sambil menghadap ke taman biar tambah segar (sekilas di foto terlihat tamannya). Lumayan muluk nih angan-angannya. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/fitness%20future.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/fitness%20future.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi sudah ditetapkan. Cara mewujudkan juga akan menempuh langkah khas Satucitra. Pelan-pelan asal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kelakon&lt;/span&gt;. Seperti langkah Satucitra membangun jaringan intranet lima tahun lalu yang biayanya bisa jauh di bawah standar kebanyakan perusahaan lain. Juga seperti teknik Satucitra membuat jaringan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wi-fi&lt;/span&gt; murah meriah untuk seluruh kantor. Urusan membangun Ruang Olah Raga ini juga akan dilakoni dengan cara yang sama. Perusahaan tidak akan membangun sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gabruk&lt;/span&gt; dengan duit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seabreg&lt;/span&gt;, tentunya. Ruang Olah Raga ini akan dibangun dari hasil ‘keringat’. Artinya, peralatan akan dicicil pelan-pelan kelengkapannya berdasarkan kondisi 'dompet' perusahaan. Yang terpenting, ‘budaya’ sehat pelan-pelan juga bisa tumbuh di kantor kami. Supaya keberadaan Ruang Olah Raga ini kehadirannya juga tidak mengalami – maaf – ‘ejakulasi dini’. Cuma semangat di awal keberadaan, tak berapa lama kemudian cuma jadi pajangan gengsi perusahaan belaka. Ini jauh dari angan-angan kami, sebab Satucitra juga bukan perusahaan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tajir&lt;/span&gt; luar biasa, he… he… he….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113617160578519316?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113617160578519316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113617160578519316&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113617160578519316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113617160578519316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2006/01/kantor-saya-juga-punya-resolusi.html' title='Kantor Saya Juga Punya Resolusi'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113565823234619652</id><published>2005-12-27T11:23:00.000+07:00</published><updated>2005-12-27T11:37:12.573+07:00</updated><title type='text'>Selamat Natal 2005: Piss!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/slank%20%26%20ryp.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/400/slank%20%26%20ryp.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113565823234619652?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113565823234619652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113565823234619652&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113565823234619652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113565823234619652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/12/selamat-natal-2005-piss.html' title='Selamat Natal 2005: Piss!!'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113533888098686903</id><published>2005-12-23T18:43:00.000+07:00</published><updated>2005-12-23T18:56:58.116+07:00</updated><title type='text'>Ini Bukan Ujian yang Sesungguhnya!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/untar%202.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/untar%202.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rabu, 14 Desember 2005. 57 mahasiswa/i Semester 7 jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) Universitas Tarumanegara (Untar) mengikuti Ujian Akhir Semester. Mereka menerima selembar soal berisi 3 pertanyaan sederhana dari saya untuk mata kuliah Periklanan II yang harus mereka selesaikan selama 1,5 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah jawaban mereka di atas selembar atau dua lembar kertas kosong tersebut dapat dipakai untuk mengukur tingkat keberhasilan mereka memahami dunia periklanan? Sudah pasti tidak! Bahkan waktu satu semester pun – kurang lebih 12 kali pertemuan setiap Rabu pagi selama 1,5 jam – saya yakin tidak mampu menjamin hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa saya menerima tawaran untuk jadi dosen di Untar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mas Adiet (Arief Adityawan), kenalan saya yang juga adalah Ketua Jurusan DKV Untar menawarkan, dalam kapasitas sebagai seorang praktisi periklanan, untuk ikut mengajar agar para mahasiswa/i dapat mengenal dunia periklanan langsung dari para pelakunya, saya pikir tidak ada salahnya saya coba. Apalagi saya tak sendiri. Gandhi Suryoto, Creative Director Dentsu; Randy Rinaldi, Creative Director Leo Burnett Kreasindo; Nico Owen, Art Director BBDO dan pemenang Daun Muda Award 2005, juga berhasil ‘dirayu’ oleh Mas Adiet untuk mengajar atau menjadi pembimbing Tugas Akhir di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyakan&lt;/span&gt;, saya malah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keder&lt;/span&gt; sendiri. Pertama: ini pengalaman pertama saya mengajar. Walau pernah beberapa kali jadi pembicara di seminar atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;workshop&lt;/span&gt; tentang periklanan, mengajar tentu persoalan berbeda. Kedua: saya ini kuliahnya saja DO alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;drop out&lt;/span&gt;. Bukan ‘contoh’ yang baik buat para mahasiswa/i. Anehnya di kotak surat ruang dosen saya malah dapat gelar ‘gratisan’: Ricky Pesik, S.Sn. hehehe. Ketiga: saya sama sekali tidak dibekali silabus. Bahkan tujuan memberi kuliah selama satu semester hanya dibekali dengan ucapan: “Terserah Mas Ricky. Mas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kan&lt;/span&gt; sudah pengalaman di industri ini, tentu tahu apa yang diperlukan oleh mahasiswa/i untuk masuk ke industri ini.” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nah lho&lt;/span&gt;! Jadi saja saya tambah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keder&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun coba menduga-duga. Sebagian besar mahasiswa/I tentu masuk DKV karena merasa memiliki bakat atau minat pada urusan gambar-menggambar. Sebagian lagi mungkin hanya ikut-ikutan saja memilih jurusan yang kian popular ini. Sebagiannya lagi, mungkin, pokoknya asal kuliah saja. Menyandang status mahasiwa/i. Dengan asumsi seperti ini saya pikir tidak semua mahasiswa/i akan tertarik untuk masuk ke dunia periklanan. Materi Periklanan apa yang sebaiknya saya sampaikan kepada mereka?&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/untar%203.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/untar%203.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat semua materi kuliah di jurusan ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bejibun&lt;/span&gt; mata kuliah siap mengasah ketrampilan teknis mereka untuk urusan visual. Termasuk ketrampilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;art direction&lt;/span&gt; dan penulisan naskah iklan. Jadi saya putuskan sendiri, sebaiknya saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;back to basic&lt;/span&gt;. Saya mau mencoba mengajak mereka untuk membiasakan diri berpikir menelusur. Maksudnya, di balik setiap iklan – dari yang canggih, keren, kreatif sampai yang kacangan, butut dan kampungan (mungkin) -- sejatinya terdapat proses panjang yang dapat mengurai pokok-pokok pikiran strategisnya. Dari sana bisa dikenali, dipelajari dan dipahami sistematika berpikirnya. Ujungnya, saya berharap mereka bisa mengerti bahwa setiap iklan itu memerlukan proses berpikir yang tidak ‘kacangan’ untuk sampai ke ide yang hebat. Syukur-syukur, kalau tertarik, berinisiatif untuk mempelajari sendiri lebih dalam tentang proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;strategic thinking&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;planning&lt;/span&gt;. Lebih hebat lagi bila ada 1 atau 2 saja dari mereka yang sanggup menjadikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;strategic thinking&lt;/span&gt; menjadi semacam ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;way of life&lt;/span&gt;’. Keanekaragaman kehidupan manusia sehari-hari akan menjadi tempat melakukan ‘riset’ yang tak ada habis-habisnya untuk digali, dipelajari dan dipahami, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, dengan niat seperti itu, saya tidak melihat lagi urgensi dari sebuah ujian formal seperti yang terlihat di foto. Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;objective&lt;/span&gt; di atas, ujian terberat justru akan mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Ujian terberat justru adalah bagaimana mereka menetapkan dan melakoni masa depan mereka dengan sikap yang lebih jelas. Termasuk memutuskan, apakah industri periklanan adalah masa depan mereka atau bukan. Ujian terberat ada di tangan mereka sendiri. Dalam waktu dekat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113533888098686903?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113533888098686903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113533888098686903&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113533888098686903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113533888098686903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/12/ini-bukan-ujian-yang-sesungguhnya.html' title='Ini Bukan Ujian yang Sesungguhnya!'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113464086136847400</id><published>2005-12-15T17:00:00.000+07:00</published><updated>2005-12-15T17:30:26.970+07:00</updated><title type='text'>10 Desember 2005 Tanpa Yap Thiam Hien Award</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/ytha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/400/ytha.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap tanggal 10 Desember, biasanya saya selalu menemukan tulisan dan berita yang dominan tentang persoalan hak-hak asasi manusia. Juga tentang peraih Yap Thiam Hien Award (YTHA), individu atau lembaga yang dinilai berperan besar dan konsisten dalam upaya penegakan hak-hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Tapi tidak di tahun ini. Kemana berita tentang peraih Yap Thiam Hien Award 2005?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap Thiam Hien Award tahun ini ditiadakan! Kepastian itu saya peroleh langsung dari Todung Mulya Lubis, Dewan Pendiri Yayasan Pusat Studi Hak-hak Asasi Manusia (Yapusham) sekaligus Ketua Komite Pengarah kepanitiaan Yap Thiam Hien Award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada publik, kabar ini disampaikan langsung oleh Bang Mulya, begitu biasa kita memanggil Todung Mulya Lubis, melalui acara konferensi pers di Klub Rasuna Jakarta tanggal 13 Desember kemarin. Intinya Komite Pelaksana menyampaikan bahwa semakin tahun kepedulian dan dukungan masyarakat kepada persoalan HAM semakin susut. Termasuk dukungan dari kalangan dunia usaha. Minimnya dukungan ini membuat YTHA 2005 tidak mungkin diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang pernah mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Komite Penyelenggara selama 5 tahun, sebelum resmi mundur dan tidak terlibat sama sekali di tahun 2005 ini, saya hanya bisa terdiam dan tercenung bisu. Hal ini sebenarnya setiap tahun sudah kami khawatirkan akan terjadi. Masalah susutnya dukungan ini, harus diakui, juga tak lepas dari keterbatasan kerja yang berbentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ad hoc&lt;/span&gt; setiap tahunnya. Padahal sebagaimana layaknya sebuah lembaga penghargaan yang kredibel, dibutuhkan kerja penuh untuk mengembangkannya. Di tingkat regional kita bisa belajar dari Magsaysay Award di Filipina. Di tingkat dunia, idealnya seperti anugerah Nobel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pihak yang terlibat di kepanitiaan bukannya tidak menyadari kelemahan ini. Sudah lama terpikir untuk mendirikan Yayasan Yap Thiam Hien yang akan bekerja sepenuhnya untuk menyelenggarakan sekaligus mengembangkan Yap Thiam Hien Award setiap tahun. Sayangnya, gagasan berdirinya yayasan terus terbentur berbagai kendala, sementara 'kekuatan' kerja kepanitiaan makin tahun makin menyusut. Bisa dimaklumi, mengingat sebagian besar anggota komite pelaksana adalah para karyawan di perusahaan maupun lembaga lain yang relatif bekerja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pro bono&lt;/span&gt; untuk penyelenggaraan YTHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, impian untuk mengembangkan YTHA sebagai lembaga yang mengambil peran penting dalam mempromosikan pentingnya penegakan dan perjuangan hak-hak asasi manusia di Indonesia semakin surut ke belakang. Padahal, sejak Soeharto lengser di tahun 1998, YTHA sudah mulai berhasil direposisi untuk menjadi 'ujung tombak' promosi kepedulian terhadap hak-hak asasi manusia dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;approach&lt;/span&gt; yang lebih popular ke khalayak yang lebih luas - di luar lingkungan aktivis dan LSM. 'Bibit' ke arah sana sudah mulai ditanam oleh komite pelaksana sejak tahun 2000. Ditandai dengan tampilnya perusahaan swasta sebagai pendukung resmi. Terpilihnya sosok-sosok 'non-aktivis' seperti Wiji Thukul dan Maria Hartiningsih yang dinilai memiliki peran sama besar dalam bidang HAM sebagai peraih YTHA. Melakukan kerjasama tahunan dengan Jakarta International Film Festival (JiFFest) untuk menampilkan film-film bertema hak asasi. Sampai partisipasi para pengusaha, professional, sampai kelompok musik Slank dalam acara penganugerahan YTHA dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila YTHA bisa dianggap sebagai salah satu ikon penting dari kegiatan promosi yang dapat mendorong masyarakat lebih luas untuk makin peduli dan sanggup menumbuhkan komitmen terhadap penegakan hak-hak asasi, sungguh akan menjadi sebuah persoalan besar sebenarnya bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;civil society&lt;/span&gt; bila YTHA gagal dipertahankan dan dikembangkan di tahun-tahun selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif yang lebih serius untuk segera melembagakan keberadaan YTHA memang harus segera dimulai. Agar ia tidak kembali ke titik nol dan hilang. Keberadaan lembaga resmi yang menaungi YTHA akan menghadirkan sebuah organisasi yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dedicated&lt;/span&gt; untuk mengembangkan berbagai program&lt;span style="font-style: italic;"&gt; promoting&lt;/span&gt; yang penting untuk menjangkau khalayak luas dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;approach&lt;/span&gt; yang popular. Dalam jangka panjang, menurut keyakinan saya, ini adalah sebuah tujuan yang sangat penting bagi bangsa ini untuk mengatasi berbagai persoalan pelanggaran hak asasi yang tetap marak bahkan, di tingkat konflik horisontal, cenderung meningkat dan budaya impunitas tidak juga pupus dari kamus penguasa yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga energi ini belum punah dari sosok-sosok penting seperti Bang Mulya, Rachland Nashidik, dan kawan-kawan lain yang selama ini 'menjaga' keberadaan YTHA dari tahun ke tahun. Pada 10 Desember 2006, mudah-mudahan kita akan melihat YTHA hadir kembali dengan peran yang lebih besar lagi dalam bidang promosi hak-hak asasi manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113464086136847400?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113464086136847400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113464086136847400&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113464086136847400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113464086136847400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/12/10-desember-2005-tanpa-yap-thiam-hien.html' title='10 Desember 2005 Tanpa Yap Thiam Hien Award'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113420656582091214</id><published>2005-12-10T16:17:00.000+07:00</published><updated>2005-12-11T01:26:28.020+07:00</updated><title type='text'>‘Oleh-oleh’ dari Pembukaan JiFFest 2005</title><content type='html'>Jumat malam, 9 Desember ini, JiFFest 2005 resmi dibuka di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Acara utama pembukaan khusus untuk undangan ini memutar film La Grand Voyage karya Ismael Ferroukhi, seorang sineas asal Maroko yang besar di Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sebagai kegiatan budaya tahunan di ibukota, pembukaan JiFFest pasti pula dihadiri oleh berbagai kalangan. Termasuk yang kategorinya ‘selebritis’. Utamanya dari kalangan perfilman. Syukurlah JiFFest juga sebuah ajang yang ‘egaliter’, sehingga saya dan banyak undangan lain yang masuk kategori ‘orang biasa’ bisa masuk lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;red carpet&lt;/span&gt; juga serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pating seliwer&lt;/span&gt; sama bebasnya di tempat acara, he.. he.. he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani makanan dan bir gratis yang dihidangkan oleh panitia, undangan bisa menikmati pameran foto-foto pembuatan film layar lebar Indonesia. Dari film Belahan Jiwa, Mirror, Cinta Silver, Ungu Violet yang sudah muncul di bioskop sampai film Berbagi Suami karya Nia Dinata yang akan diputar bulan Maret 2006 dan film Sinta Obong karya Garin Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sungguh memikat saya adalah hadirnya 3 poster film Garasi karya Agung Sentausa dari Miles Film (&lt;a href="http://www.garasithemovie.com/"&gt;www.garasithemovie.com&lt;/a&gt;). Menurut saya poster film Garasi termasuk salah satu poster film Indonesia yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;well done&lt;/span&gt;. Pameran ini sendiri masih akan berlangsung sampai JiFFest berakhir tanggal 18 Desember nanti. Jadi kalau pengen lihat, datang saja ke Graha Bakti Budaya TIM. Poster-poster film Garasi sendiri terpasang di paling ujung kanan ruang pamer sehingga agak tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/teaser_3_-_drummer.1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/teaser_3_-_drummer.1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/teaser_2_-_gitar.1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/teaser_2_-_gitar.1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/teaser_1_-_keyboard.3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/teaser_1_-_keyboard.3.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film pembuka JiFFest 2005 sendiri adalah sebuah film yang reflektif tentang hubungan ayah dan anak. Tentang persoalan hubungan antar generasi. Mengambil cerita tentang perjalanan bermobil seorang anak mengantar ayahnya naik haji sejauh 3.000 mil dari Perancis sampai Mekah di Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bukan tema baru, film ini sangat bagus. Ceritanya, walau berfokus pada ‘perjalanan spiritual’ seorang ayah bersama anaknya yang tidak peduli urusan keimanan, film ini bisa mengalir tanpa ‘ceramah’ dan tanpa ‘kotbah’ sedikitpun. Ironisnya, film ini justru dibuka oleh ‘kotbah’ panjang lebar berupa sambutan Gubernur DKI yang dibacakan oleh utusannya. Tapi ya sudahlah, namanya juga salah satu sponsor utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/mu-phi.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/200/mu-phi.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Terakhir, ada ‘oleh-oleh’ memikat satu lagi yang saya temukan di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;goodie bag&lt;/span&gt; Aksara yang dibagikan panitia. Saya menemukan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;free magazine&lt;/span&gt; bernama Mu-phi. Tampilan logo majalah ini sendiri cukup aneh karena menggunakan tanda ilmu pasti. Sekilas mengesankan sebuah majalah 'eksakta'. Majalah baru yang diterbitkan oleh PT JDC Sukses Kreasimax ini, menurut pengantar editorialnya, akan memfokuskan diri pada film-film ‘festival’. Saya sendiri tidak menemukan nama ‘seleb’ perfilman di daftar redaksinya. Menarik sekali ada orang-orang yang sungguh ‘bernyali’ memodali sebuah majalah gratisan dengan konsep editorial yang begitu fokus. Dari penyajian yang sangat rapi, terlihat penggagas dan tim yang mengerjakan menguasai sekali perkembangan JiFFest dari tahun ke tahun. Semoga para penonton JiFFest bisa mendapatkan majalahnya di sepanjang acara. Dan semoga juga Mu-phi bisa bernafas panjang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113420656582091214?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113420656582091214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113420656582091214&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113420656582091214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113420656582091214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/12/oleh-oleh-dari-pembukaan-jiffest-2005.html' title='‘Oleh-oleh’ dari Pembukaan JiFFest 2005'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113362946534125177</id><published>2005-12-03T23:59:00.000+07:00</published><updated>2005-12-04T11:36:48.146+07:00</updated><title type='text'>JiFFest Tidak Hanya Putar Film</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/P1010594.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/P1010594.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Di atrium Plasa Senayan, Jumat, Sabtu dan Minggu ini (2-4 Desember) ada JiFFest Film Music in Concert. Berturut-turut menyajikan musisi Dwiki Dharmawan, Thoersi Argeswara dan Jaya Suprana ‘berkolaborasi’ dengan 3 film bisu klasik hitam putih berjudul The Cameraman, Steamboat Bill Jr dan The General. Ketiganya dibintangi oleh Buster Keaton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser ini tentu bukan konser berformat serius macam pertunjukan orkestra. Tempatnya saja di atrium sebuah mal kelas menengah atas yang terbuka. Bagi pengunjung mal, konser ini tak ubahnya seperti rekreasi. Pertunjukan berlangsung dengan santai. Ada anak-anak yang lari kesana kemari. Kadang mendekati musisi dengan rasa ingin tahu yang besar. Ada yang terbahak-bahak menikmati film yang penuh dengan adegan slapstik, khas film bisu hitam putih jaman dulu. Ada yang duduk rapi jali dan mencoba serius mengapresiasi interpretasi sang musisi terhadap film. Ada yang sambil ngobrol dengan kawan-kawannya. Ada yang menonton sambil berdiri di lantai atas. Ada yang cuma lewat, tengok-tengok sebentar, lalu berlalu entah untuk shopping maupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kongkow&lt;/span&gt; di kafe. Semuanya sah-sah saja. Namanya juga pertunjukan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu, tanggal 3 Desember, saya sempat menikmati sepotong penampilan Thoersi untuk film Steamboat Bill Jr yang tampil bersama 2 rekan musisi. Kurang lebih separuh pertunjukan di bagian tengah. Terus terang saya bukan orang yang paham untuk mengulas pertunjukan macam begini. Secara subyektif, saya menikmati saja. Menurut saya, pertunjukan ini menarik dan gagasannya ‘original’ karena dibawa ke tengah area publik yang tidak datang dengan sengaja untuk menikmati pertunjukan (tentu berbeda dengan konser Addie MS dengan Twilite Orchestra untuk film-film karya Teguh Karya dan Star Wars baru-baru ini). Saya sendiri tidak bisa mengapresiasi dengan canggih sebagus apa Thoersi menginterpretasi film tersebut dengan komposisinya. Yang jelas, kuping saya kadang menangkap sang musisi seolah-olah sedang ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jam session&lt;/span&gt; dengan visual di layar. Terkadang, di bagian tertentu, saya seolah mendengar musisi membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;film scoring&lt;/span&gt; baru yang menghidupkan adegan di layar. Enak dan ringan untuk dinikmati sih buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada kelemahan pada pertunjukan ini adalah proyeksi film di layar yang tidak tajam. Wajar saja karena proyeksi ke layar harus melawan lampu terang Plasa Senayan yang tentu tidak bisa dimatikan macam di bioskop. Tapi namanya sebuah pertunjukan rekreasi, tentu bisa dimaklumi. Kekurangan lain, menurut saya, untuk pertunjukan semenarik ini, dukungan promosi khusus untuk acara ini sendiri terasa minim. Seingat saya hanya orang-orang yang sudah membaca buku program JiFFest atau membuka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;website&lt;/span&gt; JiFFest yang mendapat informasi tentang acara ini. Itupun kalau membacanya secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tahun kedua JiFFest menghadirkan Film Music in Concert. Keduanya di Plasa Senayan. Bagi pengunjung Plasa Senayan, berarti publik kelas menengah atas Jakarta, ini tentu alternatif hiburan yang menyegarkan. Gratis pula. Kalau mau nonton, masih ada kesempatan hari Minggu ini menikmati ‘kolaborasi’ Jaya Suprana dengan film berjudul The General. Kalau kelewatan waktunya, mudah-mudahan JiFFest Film Music in Concert masih akan datang di tahun-tahun mendatang buat anda. Semoga saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113362946534125177?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113362946534125177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113362946534125177&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113362946534125177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113362946534125177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/12/jiffest-tidak-hanya-putar-film.html' title='JiFFest Tidak Hanya Putar Film'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113325586141501314</id><published>2005-11-29T16:05:00.000+07:00</published><updated>2005-12-01T09:04:14.070+07:00</updated><title type='text'>JiFFest Datang Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/jiffest.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/jiffest.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jakarta International Film Festival (JiFFest) datang lagi. Tapi saya bukan mau cerita soal film-film yang bakal diputar. Soal itu, tengok saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blog&lt;/span&gt;nya Totot Indrarto (&lt;a href="http://www.pakde.com/"&gt;www.pakde.com&lt;/a&gt;), sahabat sekaligus sejawat kantor saya yang terkenal fasih sekali bicara tentang film. Atau kalau mau lihat film-film dan jadwal langsung saja klik ke &lt;a href="http://www.jiffest.org/"&gt;www.jiffest.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan ini, saya ingin mengungkap sedikit pandangan tentang problem JiFFest yang muncul di harian Kompas tanggal 27 November 2005 dengan tajuk “JIFFest menuju Antiklimaks”. JiFFest 2005 (9 - 18 Desember 2005) yang sudah memasuki tahun ke 7 ini kelihatan tidak jadi lebih mudah, walaupun untuk tahun ini akan menjadi kegiatan terbesar yang pernah diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang beruntung punya pengetahuan sedikit lebih tentang penyelenggaraan JiFFest. Pertama, karena selama 3 tahun, Yap Thiam Hien Award (YTHA) – sebuah lembaga yang memberi penghargaan tahunan kepada individu maupun institusi yang dinilai berperan besar dalam bidang penegakan hak-hak asasi manusia di Indonesia -- pernah menjadi mitra strategis JiFFest untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;section&lt;/span&gt; film-film Human Rights (2002-2004). Di YTHA saya pernah menjadi Ketua Komite Pelaksana selama 5 tahun (mulai tahun ini tidak lagi terlibat). Kedua, Penny, isteri saya, bekerja di Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia (YMMFI) yang menaungi kegiatan JiFFest. Penny di JiFFest 2005 menjadi Operational Manager. Jadi, sedikit-sedikit saya mengikuti keluh kesah mereka kerja berjibaku menyiapkan JiFFest dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkap Orlow Seunke (Director) maupun Shanty Harmayn (Chairman) kepada Kompas, problem mendasar JiFFest adalah upaya penggalangan dana, baik dari institusi maupun sponsor, selalu harus dimulai dari nol setiap tahun. Berbeda sekali dengan penyelenggara film festival di manca negara seperti Singapore, Bangkok, Pusan, dan lain-lain yang sudah memiliki dukungan dana yang tetap dari otoritas pemerintah terkait sehingga bisa berkonsentrasi menyiapkan kegiatan festival yang mumpuni, penyelenggara JiFFest ternyata harus berjibaku mencari dukungan dana setiap tahun. Sepanjang penglihatan saya, hal ini sangat menyita waktu terbesar dari aktivitas panitia. Fakta yang tidak aneh, karena selama 5 tahun terlibat dalam kepanitiaan penyelenggaraan YTHA, saya juga menghadapi problem serupa. Hanya porsinya saja yang lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak adanya dukungan dana yang signifikan dari pemerintah, salah satu titik pangkal adalah juga persoalan kompensasi nilai komersial yang dituntut pihak sponsor kepada panitia. Setiap sponsor, dengan kerangka berpikir bisnis belaka seperti layaknya menyelenggarakan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;below the line&lt;/span&gt; akan melakukan negosiasi ‘dagang’, membayar sekecil-kecilnya untuk mendapat sebesar-besarnya. Sementara JiFFest, yang sejatinya punya sasaran jangka panjang untuk menempatkan Jakarta dalam peta perfilman dunia sekaligus menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mengapresiasi kekayaan budaya dari berbagai belahan dunia melalui media film, hampir tak mungkin hidup dengan metode ‘dagang’ model begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JiFFest, sebagai sebuah film festival yang masuk dalam agenda festival-festival film dunia, harus mengalokasikan dana yang besar untuk membayar royalti film-film yang diputar. Dengan biaya mencapai kurang lebih 500 sampai 1500 euro per film untuk 3-4 kali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;screening&lt;/span&gt; (beberapa film bahkan hanya 1-2 kali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;screening&lt;/span&gt;), panitia jelas menerapkan subsidi bagi para penonton yang hanya membayar tiket 10.000 – 20.000 rupiah. Belum lagi biaya mendatangkan dan mengembalikan setiap film yang dipinjam. Belum juga biaya kerja kepanitiaan yang melibatkan lebih dari 100 tenaga relawan lepas dalam setiap penyelenggaraan. Bila setiap sponsor menuntut bentuk manfaat komersial yang mereka peroleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vis-à-vis&lt;/span&gt; dengan dana yang mereka berikan, darimana mereka memperoleh biaya untuk mendatangkan dan menyelenggarakan festival? Memang selama ini JiFFest juga mendapat dukungan dari lembaga donor asing (ironisnya komitmen terbesar dan kontinyu justru diperoleh JiFFest dari mereka), namun ini sungguh kondisi yang tidak ideal untuk jangka panjang. Ataukah memang kegiatan semacam ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;take it for granted&lt;/span&gt; hanya bisa berjalan di Indonesia bila mendapat dukungan penuh dari donor asing? Betapa ironisnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bila masih ada harapan, sejatinya penyelenggaraan kegiatan sosial atau kultural macam ini tidak bisa dilihat oleh para sponsor dalam kerangka keuntungan pemasaran semata-mata. Ajang semacam JiFFest, YTHA dan lainnya selayaknya didukung dalam kerangka program Corporate Social Responsibility (CSR), sebuah istilah yang kini sedang digandrungi oleh banyak perusahaan tapi pada kenyataannya masih diterapkan setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara maju dan berkesadaran untuk maju, kegiatan sosial dan kultural semacam JiFFest memang selalu menjadi agenda penting pemerintah/negara. Sementara pihak swasta umumnya mendukung dalam bentuk CSR. Komitmen dukungan juga bersifat jangka panjang karena mereka menyadari sepenuhnya hasil yang dicapai tidak akan terlihat dalam waktu singkat dan lebih bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intangible&lt;/span&gt;. Namun ujung dari semua hasil akan sangat berarti bagi kemajuan peradaban masyarakat dan bangsa itu sendiri. Kemajuan peradaban masyarakat tentu akan lebih memudahkan terjadinya peningkatan dan pemerataan kesejahteraan sehingga pada akhirnya membawa manfaat kepada para pendukungnya, baik pemerintah maupun perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, komitmen seperti inilah yang belum diperoleh oleh JiFFest setelah mereka bergelut selama 7 tahun. Saya yakin pasti sangat melelahkan buat mereka. Tak heran bila Orlow Seunke, yang saya dengar punya enerji ekstra besar dan persistensi yang luar biasa untuk menjadikan JiFFest sebagai festival penting di peta dunia, dengan muka lelah dan agak frustasi mengatakan tahun depan akan mengundurkan diri sebagai Direktur JiFFest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi khawatir, masihkah kita bisa menikmati JiFFest di tahun-tahun mendatang bila kondisinya masih seperti ini? Bila orang sekaliber Orlow -- yang telah berjibaku mati-matian untuk meyakinkan ratusan pihak dengan segenap pikiran, tenaga dan waktunya – merasa frustasi dan tidak bisa melihat ‘titik terang’ di depan, bagaimana dengan kita yang notabene hanyalah sekedar para penonton setia JiFFest?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran ini sempat membuat saya berangan-angan, apakah mungkin puluhan ribu penonton setia JiFFest selama ini yang tetap ingin JiFFest datang terus setiap tahun – ramai-ramai menandatangani semacam petisi untuk diajukan ke pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata maupun Pemerintah Daerah DKI Jakarta menuntut mereka memastikan dukungan dan keberlangsungan JiFFest setiap tahun? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah&lt;/span&gt; sudahlah, namanya juga cuma angan-angan. Memangnya akan didengar dan diperhatikan juga bila 'segelintir' penonton JiFFest menuntut seperti itu? Jangan-jangan nanti malah dituduh 'kenes' dan 'genit' pula, hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau memang tidak perlu kita pusingkan. Ada JiFFest kita senang. Tidak ada, ya tidak apa-apa, toh hidup kita bakal baik-baik saja. Jakarta masih akan tetap berkembang. Masih banyak mal yang akan dibangun. Masih banyak&lt;span style="font-style: italic;"&gt; trade center&lt;/span&gt; yang akan berdiri. Masih banyak patung pahlawan yang sedang dibuat. Masih banyak taman yang sedang dipercantik. Dan masih banyak lain-lainnya yang membutuhkan biaya jauh berlipat-lipat daripada 'sekedar' sebuah festival film…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mumpung JiFFest datang lagi, mari kita nonton. Menjadi penonton &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toh&lt;/span&gt; juga merupakan bagian dari dukungan kita terhadap eksistensi JiFFest. Siapa tahu otoritas yang seharusnya berkepentingan lalu jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mudheng&lt;/span&gt;, kalau warga Jakarta juga memerlukan kegiatan semacam JiFFest sehingga mereka mau mendukung JiFFest setiap tahun dengan dana yang lebih pantas. Siapa tahu kan? Kalau ya, kan kita bisa menikmati film-film berkualitas dengan lebih banyak lagi. Untung kan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he..he..he..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113325586141501314?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113325586141501314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113325586141501314&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113325586141501314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113325586141501314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/jiffest-datang-lagi.html' title='JiFFest Datang Lagi'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113275220322921821</id><published>2005-11-23T20:00:00.000+07:00</published><updated>2005-11-24T12:35:49.350+07:00</updated><title type='text'>'Sogo Jongkok' Parking</title><content type='html'>Sudah lama saya penasaran dengan mobil-mobil yang sering parkir di jalan antara Hotel Indonesia dan Hotel Wisata (sekarang Hotel Wisata sudah rata dengan tanah dan Hotel Indonesia separuhnya juga sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bablas&lt;/span&gt;. Di kawasan ini sedang dibangun kompleks baru bernama Grand Indonesia). Di pinggir jalan tersebut, yang bukan kawasan parkir, kerap saya lihat puluhan mobil parkir. Mobilnya pun macam-macam. Saya bahkan sering melihat mobil Jaguar, Mercedes terbaru, BMW anyar sampai Range Rover Vouge yang gagah parkir di pinggir sana. Kenapa mereka parkir di sana?&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/parkiran%20HI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/parkiran%20HI.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan pertama: supir-supir mencari makan di warung-warung di sekitar situ, sementara bosnya sedang berada di Plaza Indonesia (PI). Anehnya, saya sering lihat mobil tersebut berjam-jam parkir di situ. Berarti si supir selesai makan tidak memarkir mobilnya ke dalam Plaza Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kedua: Selain mencari makan (maupun tidak), supir-supir itu sengaja tidak parkir di PI untuk menghemat uang parkir. Kalau bosnya punya acara sampai 5 jam di sana, berarti si supir berhasil menghemat 8.000 perak (uang parkir 5 jam di PI dikurangi 2.000 perak untuk 'jatah preman' di sana). Uang hasil penghematan boleh dikantongi oleh si supir. Syukurlah kalau begitu. Lumayan kalau bosnya tiap hari meeting/belanja/&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kongkow&lt;/span&gt; di PI. Moga-moga ini dugaan paling betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan ketiga: Si supir menjalankan perintah bosnya untuk parkir di sana guna menghemat uang parkir. Tapi hasil penghematan tidak dinikmati si supir. Walau saya tidak mau berpikiran sinis, tapi bukan tidak mungkin kemungkinan tersebut ada. Betapa keterlaluannya. Jangan-jangan benar guyonan yang bilang kalau mau kaya harus pelit. Tapi ya masa sampai musti sepelit itu ya? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wong&lt;/span&gt; mobilnya aja milyaran. Kalau benar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;edan&lt;/span&gt; juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan-kapan kepingin nongkrong di warung sana dan ngobrol sama supir-supir sambil 'investigasi' ah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113275220322921821?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113275220322921821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113275220322921821&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113275220322921821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113275220322921821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/sogo-jongkok-parking.html' title='&apos;Sogo Jongkok&apos; Parking'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113265169730174808</id><published>2005-11-22T16:27:00.000+07:00</published><updated>2005-11-22T16:28:17.400+07:00</updated><title type='text'>Dibuat 1994, Favorit 2005</title><content type='html'>Tanggal 30 September 2005 lalu, di milis para alumni Satucitra, Zaenul Muchtadien alumni Satucitra yang sekarang jadi Media Director di Hotline Advertising, mem&lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; pesan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemarin saya datang ke acara 3rd Elshinta Award 2005 ternyata&lt;br /&gt;Radio Alam Sutera (jingle ‘Armand Maulana’) - raih Elshinta award - iklan yang disukai pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat Pak Ricky, dkk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainul M&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/cd1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/cd1.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jingle&lt;/span&gt; tersebut dibuat oleh Satucitra pada tahun 1994. Pada saat itu saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;copywriter&lt;/span&gt;nya. Komposernya Doti Nugroho (Twodees) yang dikenal sebagai seorang musisi bertangan dingin yang banyak melahirkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; populer. Kliennya adalah Argo Manunggal Group, pemilik lahan 700 hektar lebih di kawasan Serpong yang bermaksud membangun sebuah pemukiman modern baru berkonsep Residential &amp; Lifestyle Community. Rancangan pemukiman dibuat oleh sebuah perusahaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;urban planning&lt;/span&gt; ternama dari Amerika Serikat, sedangkan logonya dibuat oleh sebuah biro desain Australia. Saat ini Alam Sutera sendiri bukan lagi klien Satucitra. Setelah ditangani lebih dari 7 tahun, mereka hijrah ke biro iklan lain. Kabarnya sekarang ditangani oleh Gama Ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If you have nothing to say, sing it!&lt;/span&gt;” Itulah nasehat legendaris dari nabi periklanan modern David Ogilvy di buku Ogilvy On Advertising. Sebuah kredo yang diamini oleh banyak sekali pekerja kreatif hingga hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; Alam Sutera juga bias dibilang mengikuti kredonya Ogilvy? Tidak sepenuhnya benar. Di masa itu, ketika ibukota Jakarta &lt;span style="font-style:italic;"&gt;booming&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt; baru, pilihan media massa favorit adalah iklan cetak di surat kabar (khususnya harian Kompas) dan radio. Pada saat itu, untuk iklan radio &lt;span style="font-style:italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; jadi semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mandatory&lt;/span&gt; (kewajiban). Biasanya dibuat dalam pola ‘donat’ alias ada ruang kosong di tengah tanpa suara penyanyi yang nantinya mudah diisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;voice over&lt;/span&gt; yang menyampaikan berbagai program atau kegiatan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt; tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/logo.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/logo.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Konsep Residential &amp; Lifestyle Community yang tertuang dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;masterplan&lt;/span&gt; Alam Sutera sendiri sesungguhnya memiliki banyak hal menarik, utamanya pada masa tersebut, untuk dikatakan. Desain pemukiman yang mengacu pada salah satu model perumahan terbaik di Los Angeles ini bahkan mengantar sejumlah tim untuk melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;photosession&lt;/span&gt; ke Los Angeles langsung. Enin Supriyanto (Creative Director), Ima Susanti (Art Director) dan Joyce Tenardhi (Account Manager) yang menangani kampanye berangkat bersama tim fotografer Lee Japp ke sana untuk pengambilan gambar. Sebuah ‘kemewahan’ yang mungkin takkan terulang untuk sebuah kampanye periklanan perumahan di masa sekarang. Sayangnya, kampanye iklan hasil pemotretan di sana nasibnya hanya jadi ‘pajangan’ di kantor pemasaran. Apa yang terjadi? Sebuah iklan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;launching&lt;/span&gt; 1 halaman yang hanya memuat ilustrasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;masterplan&lt;/span&gt; di harian Kompas membuat seluruh rumah yang tersedia habis terjual dalam waktu satu minggu. Seperti biasa, khas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt;, kegiatan periklanan pun harus dihentikan karena tidak ada lagi yang mau dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke urusan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; yang meraih Elshinta Award 2005 ini. Saya sendiri tidak menduga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; tersebut masih popular hingga sekarang. Pada saat diputar di berbagai radio di Jakarta tahun 1994, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; ini cukup popular di kalangan pendengar radio. Walau tidak memenangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;award&lt;/span&gt; apa pun pada saat itu, saya berani bilang dengan pede bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; ini dikenali dan disukai banyak orang. Menariknya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; yang disukai pendengar ini ternyata bukan pilihan utama Satucitra dan Twodees pada saat itu. Ini adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; kedua. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jingle&lt;/span&gt; yang pertama dan sekaligus unggulan dinyanyikan oleh Oppie. Dibuat dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mood&lt;/span&gt; yang lebih personal dan kontemplatif. Karakternya jauh lebih kuat. Klien bukannya tidak menyukai. Hanya mereka juga ingin menampilkan suasana yang lebih ‘megah’ dan riang. Pada saat versi kedua dibuat, tanpa perubahan lirik, klien senang tapi sempat juga ragu. Karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; pertama memang tak bisa dipungkiri memiliki kekuatan karakter yang lebih kuat. Akhirnya, selera orang banyak menjadi 'hakim'. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; kedua yang dinyanyikan oleh Armand Maulana (waktu itu belum mendirikan GIGI) yang diputuskan tayang. Entah apa yang terjadi bila &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; pertama ini yang tayang, apakah akan tetap disukai pendengar seperti yang sekarang? Yang jelas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; pertama ini kemudian diadopsi telak-telak untuk salah satu iklan televisi merek elektronik. Iklan itu berhasil meraih perunggu pada Citra Pariwara. Saya lupa tahun 1995 atau 1996. Selamat deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya bermaksud mengulas lebih jauh tentang lirik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; yang saya buat ini, dan beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; lain yang pernah saya buat bersama Doti pada masa itu. Saya memang sudah lama ingin menulis tentang lirik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; dari perspektif kerja kreatif periklanan, bukan semata sebuah kerja artistik seperti menulis lirik lagu. Tentu cuma berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami saja. Sayangnya, kurang afdol bila tulisan tersebut tidak bisa memperdengarkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jingle&lt;/span&gt; yang saya ulas. Sialnya, saya masih 'gaptek' urusan blog dan belum mengerti teknik memasang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;audio file&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blog&lt;/span&gt;. Maka rencana itu pun saya tunda dulu. Sabar ya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hehehe&lt;/span&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113265169730174808?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113265169730174808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113265169730174808&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113265169730174808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113265169730174808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/dibuat-1994-favorit-2005_22.html' title='Dibuat 1994, Favorit 2005'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113222817901598937</id><published>2005-11-17T18:49:00.000+07:00</published><updated>2005-11-19T00:14:24.406+07:00</updated><title type='text'>Berkat sepotong kabel</title><content type='html'>Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh di era 'baca-tulis' ketimbang 'tonton-dengar', saya menyadari sering mengalami 'lemah otak' menghadapi segala kecanggihan teknologi audio visual saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/Handycam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/Handycam.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Itu sebabnya, setelah hampir 3 bulan memiliki &lt;em&gt;handycam mini-DV&lt;/em&gt;, baru tadi malam saya berhasil 'mengawinkannya' dengan Powerbook 12 &lt;em&gt;inch&lt;/em&gt; saya. Padahal, di &lt;em&gt;operating system&lt;/em&gt; MacOS X jenis Tiger yang ter-&lt;em&gt;install&lt;/em&gt; di Powerbook sudah ada piranti lunak iMovies yang sangat &lt;em&gt;user-friendly&lt;/em&gt; bagi para &lt;em&gt;home-video makers&lt;/em&gt; (konon piranti lunak paling keren untuk editing video di Mac adalah Final Cut Pro. Tapi saya cukup belajar iMovies saja, karena saya cuma seorang amatiran yang lagi senang dengan 'mainan' baru). Ini berkat sebuah kabel &lt;em&gt;4 pin to 6 pin&lt;/em&gt; (itu istilah teknis yang bisa menghubungkan saluran iLink yang terdapat di handycam ke saluran Firewire yang terdapat di Powerbook) merek BAFO seharga 90 ribu perak. Beruntung, saya tidak membeli kabel sejenis merek Sony yang harganya 350 ribu perak. Padahal fungsinya sama saja. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/BAFO%20cable.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/BAFO%20cable.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar 'udik'nya, saya sungguh takjub dengan kemudahannya. Begitu kabel tersambung antara &lt;em&gt;dock handycam&lt;/em&gt; dengan Powerbook, saya tinggal buka iMovies dan &lt;em&gt;create new project&lt;/em&gt;. Kasih nama &lt;em&gt;file&lt;/em&gt;, lalu tekan IMPORT di iMovies, semua hasil rekaman di kaset mini DV masuk ke dalam iMovies. Hebatnya lagi, setiap hasil 1 shot kita di &lt;em&gt;handycam&lt;/em&gt;, di iMovies dianggap 1 clip. Memudahkan kita untuk memotong dan mengubah peletakan shot untuk pembuatan &lt;em&gt;home-video&lt;/em&gt; versi kita. Semua fasilitas standar seperti model transisi shot, penambahan audio, pembuatan &lt;em&gt;title&lt;/em&gt;, dan lain sebagainya sudah pula tersedia dalam berbagai bentuk &lt;em&gt;templete&lt;/em&gt;. Sebenarnya semua fasilitas tersebut sudah lama ada di ruang audio visual sederhana di kantor saya. Berbasis Windows di PC. Cuma saya benar-benar buta soal pengetahuan teknisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat sepotong kabel ini, sekarang saya semangat jadi &lt;em&gt;home-video maker&lt;/em&gt;. Hasil shot suasana lebaran di keluarga isteri kelihatannya bakal jadi 'kelinci percobaan' saya beberapa malam ini. Sekalian mengalami sendiri kalau bikin film itu - walau cuma dokumentasi amatiran - memang susah! Apalagi buat generasi 'baca-tulis' macam saya, hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113222817901598937?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113222817901598937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113222817901598937&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113222817901598937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113222817901598937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/berkat-sepotong-kabel.html' title='Berkat sepotong kabel'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113214111352801419</id><published>2005-11-16T18:34:00.000+07:00</published><updated>2005-11-18T09:35:57.920+07:00</updated><title type='text'>8 dari 10 blog</title><content type='html'>Coba periksa. 8 dari 10 blog milik &lt;em&gt;copywriter&lt;/em&gt; di Indonesia pasti memuat puisi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113214111352801419?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113214111352801419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113214111352801419&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113214111352801419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113214111352801419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/8-dari-10-blog.html' title='8 dari 10 blog'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113206403503517561</id><published>2005-11-15T20:57:00.000+07:00</published><updated>2005-12-01T09:06:44.850+07:00</updated><title type='text'>Namanya Matthew, panggilannya Memet</title><content type='html'>Adik perempuan saya satu-satunya, Laura, baru saja melahirkan anak pertama. Ini adalah keponakan saya yang ke empat. Sebentar lagi bahkan lima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua keponakan saya yang menarik adalah nama-nama yang diberikan oleh orangtuanya masing-masing. Termasuk keponakan terbaru saya yang dinamai Matthew Monang Sinaga. Jelas, anak Medan bung. Wong, suaminya Laura adalah pemuda Batak bernama Bohem Sinaga. Tapi, sambil bercanda, ibunya sudah punya panggilan sayang untuk si Matthew: Memet, hehehe. Mukanya, biar masih bayi, memang sudah kelihatan 'Batak pisan'. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/memet.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/memet.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nama-nama 'mentereng' dan 'panggilan sayang' yang biasanya tercipta secara alamiah ini yang paling menarik. Keluarga saya, dan cukup banyak keluarga lain di Indonesia, memang senang berkiblat pada nama-nama asing tanpa mempertimbangkan kalau nama-nama tersebut bisa tidak familiar dengan 'lidah' orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah keponakan saya nomor dua bernama Josephine. Tapi karena nenek dari pihak Ibu seorang Sunda tulen, alhasil Josephine mendapat 'panggilan sayang' Epin, tentu diucapkan dengan cengkok Sunda yang kental. Sementara, adiknya yang bernama Dave mendapat 'panggilan sayang' Apit atau Epit. Tentu juga dengan cengkok Sunda yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya tak heran bila Matthew sudah dibercandai dengan 'panggilan sayang' Memet. Paling 'beruntung' mungkin keponakan tertua saya yang namanya Angela. Panggilan sayangnya Angel. Cukup afdol buat lidah kita, jadi jarang 'kepeleset' pengucapannya. Tidak ada yang memanggilnya 'Angel' dengan cengkok Jawa yang artinya susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apalah arti sebuah nama, kata Shakespeare. Nama-nama itu tentu telah ditentukan dengan penuh cinta oleh ayah ibunya tercinta. Saya sendiri selaku oom akan memanggil mereka dengan pengucapan yang benar sesuai dengan harapan dari orang tua mereka, tentunya. Mudah-mudahan tidak sering 'terpeleset' lidah ini. Sayang saya sama mereka juga tidak ditakar dari nama kok, hehehe &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya sendiri nama siapa? Uniknya, sekalipun saya anak paling tua bagi ibu saya, saya adalah satu-satunya anak yang belum memberi cucu ke beliau. Jadi belum tahu juga deh -- apabila sampai dianugerahi oleh yang 'di atas' -- apakah saya akan mengikuti jejak adik-adik saya, atau malah memberi nama yang sangat Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113206403503517561?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113206403503517561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113206403503517561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113206403503517561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113206403503517561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/namanya-matthew-panggilannya-memet.html' title='Namanya Matthew, panggilannya Memet'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113206103346998630</id><published>2005-11-15T20:21:00.000+07:00</published><updated>2005-11-15T20:42:55.200+07:00</updated><title type='text'>Sepotong kalimat perpisahan untuk Ken Sudarto</title><content type='html'>Sabtu pagi, 5 November 2005, kalangan industri periklanan modern Indonesia kehilangan salah seorang perintisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken T. Sudarto, pendiri Matari Inc. biro iklan nasional papan atas, meninggal dunia di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satucitra tentu mengirim karangan bunga dan ucapan belasungkawa untuk keluarga beliau dan keluarga besar Matari. &lt;br /&gt;Untuk menghormati peran beliau yang sungguh besar dalam kelahiran dan pertumbuhan periklanan modern Indonesia, saya mencoba menulis pesan yang, kurang lebih, bisa mewakili perasaan kami semua - sesama praktisi periklanan - untuk beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pesan perpisahan dari keluarga besar Satucitra untuk beliau: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Terima kasih Pak Ken...&lt;br /&gt;Terima kasih telah meritis jalan dan mewariskan jejak bagi kita semua untuk terus berkarya.&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak Ken.&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dari 'atas sana', Pak Ken bisa menyaksikan kita semua masih terus bisa menghasilkan karya-karya sebesar impiannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113206103346998630?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113206103346998630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113206103346998630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113206103346998630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113206103346998630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/sepotong-kalimat-perpisahan-untuk-ken.html' title='Sepotong kalimat perpisahan untuk Ken Sudarto'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113205426540376882</id><published>2005-11-15T17:49:00.000+07:00</published><updated>2005-11-18T11:40:55.436+07:00</updated><title type='text'>cerita soal kamera idaman...</title><content type='html'>Biar bukan penggila fotografi, saya menyukai kegiatan memotret. Apalagi bila hasilnya bisa lebih bagus dari yang terekam di 'memori' saat menekan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shutter&lt;/span&gt;. Senang rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya saya bukan pengguna jenis kamera SLR atau sekarang DSLR. Saya cuma punya dan pakai jenis kamera saku (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;compact&lt;/span&gt;). Sebelum era digital, saya lama menggunakan kamera saku Fuji. Saya lupa tipenya, yang jelas secara manual bisa dibuat jadi format panorama. Kamera ini termasuk kualitas terbaik di kategorinya bila melihat harganya yang mencapai 1,5 juta rupiah pada tahun 1998. Menyenangkan karena bisa eksperimen memotret dengan format panorama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 4 tahun, kamera tersebut terjatuh secara tak sengaja. Penutup lensa dan baterenya hancur. Tidak rusak, tapi sungguh tak nyaman lagi menggunakannya. Hanya karena belum ada pengganti yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sreg&lt;/span&gt;, saya gunakan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan di akhir tahun 2003 isteri saya, Penny, dikirim kantornya ke Swedia lalu sempat mampir ke tempat oom-nya yang kerja di Jerman. Saya langsung ingat merek kamera Leica yang legendaris asal Jerman. Mulanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keder&lt;/span&gt; juga karena Leica juga terkenal mahal dan hanya 'layak' bagi para profesional. Beruntung saya, ternyata Leica juga sudah membuat jenis kamera saku dengan harga terjangkau. Bahkan sangat terjangkau untuk ukuran Leica. Sebuah kamera saku tipe C2 harganya 'cuma' 300an Euro (saat itu Euro masih 9000 perak). Kamera saku 35mm merek Fuji yang bagus juga harga sudah mendekati angka 3 juta perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya kirim seluruh informasi soal kamera dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;outlet&lt;/span&gt;nya ke Penny di Jerman, tepatnya di kota Hamburg. Dengan ditemani tantenya, menembus cuaca dingin dan hujan, mereka mencari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;outlet&lt;/span&gt; Leica. Setelah itu saya dapat omelan. Karena tempatnya kalau di Jakarta, seperti dari daerah Menteng ke sebuah ruko di Ciputat sana. Belum lagi dia dan tantenya cuma dipandang 'sebelah mata' oleh penjaga tokonya pada saat masuk. Mungkin dipikirnya, ini dua perempuan bertampang turis Asia 'lugu' kok berani-beraninya masuk ke toko Leica, hehehehehe. Untungnya, mereka membawa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;print out&lt;/span&gt; dari situs Leica. Langsung ditunjukkan dan penjaga toko cepat mafhum bahwa keduanya cuma turis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cheap&lt;/span&gt; yang mau beli kamera saku Leica termurah, hahahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dia kamera yang didapat dengan penuh 'perjuangan' itu. Entah ada atau tidak yang menjualnya di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/leica_c2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/leica_c2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Perjuangan' tak sia-sia. Hasilnya sungguh mengagumkan. Petugas di Fuji Image Plaza yang mencetak hasilnya, selalu mengira itu hasil kamera SLR. Teman-teman kantor pun, setelah tahu hasilnya, setiap kali ada acara kantor bersama selalu dengan senang hati bergaya di depan kamera. Karena hasilnya 'lebih indah dari aslinya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, popularitas penggunaan kamera digital memang sulit dielakkan. Faktor hemat biaya cuci-cetak sungguh signifikan, karena kita bisa memilih yang mau kita cetak. Pokoknya, kelewatan kalau tidak beralih ke digital. Sebenarnya saya sudah punya sebuah kamera digital 4MP yang saya beli pada awal era kamera digital muncul. Sayangnya saya jadi 'korban' kepeloporan. kamera bermasalah berat dengan daya tahan baterenya. Cuma tahan 15 menitan bila dihidupkan terus. Kelewatan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Sekarang saya mau cari kamera digital ganti. Hati kembali tertambat ke merek Leica. He, siapa tahu mereka mengeluarkan jenis kamera saku digital yang cocok di kantong, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil 'perburuan' pada kamera digital Leica bermuara pada tipe Digilux 2. Bukan sebuah kamera saku, tapi kategorinya pro-sumer. Artinya, walau ini jenis kamera &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fixed-lens&lt;/span&gt; seperti kamera saku tapi mampu dioperasikan secara manual seperti kamera DSLR. Jenis lensanya pun lebih canggih. Sayang seribu sayang... harganya membuat saya mundur teratur. Apalagi ia cuma mampu menangkap image 5MP saja. Ini nih kameranya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/specsview.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/specsview.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kadung jatuh cinta pada kehebatan lensa Leica, akhirnya saya membeli Panasonic Lumix FX-7. Sebuah kamera saku digital 5MP dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;preview screen&lt;/span&gt; yang memanjakan mata. Saya pikir, toh sekarang Leica sudah dibeli oleh Panasonic. Dan semua kamera Panasonic sudah menggunakan lensa Leica. Hasilnya? Tetap belum bisa menyamai hasil Leica C2 yang menggunakan seluloid 35mm. Cuma karena kepraktisan, kamera digital FX-7 tetap lebih sering saya gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu saya tetap menunggu kehadiran kamera saku digital dari Leica yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;budget-friendly&lt;/span&gt;. Siapa tahu? hehehehe&lt;br /&gt;Tunggu punya tunggu, datanglah pengumuman dari situs Leica kalau akhir November 2005 ini mereka akan mengeluarkan kamera saku 8.4MP. Harganya belum diumumkan. Tapi menilik kembarannya Panasonic LX-1 (ini kali kedua muncul kembaran produk Panasonic dan Leica, sebelumnya tipe Digilux 2 juga punya kembaran merek Panasonic) yang hanya dibandrol 5,3 juta perak, mudah-mudahan Leica D-Lux 2 ini harganya tidak terlampau jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menunggu harga, jadilah 'dia' kamera impian yang terpasang di layar monitor laptop dan id di YM, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah si 'dia' yang nampak 'sexy' dan canggih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/1600/leicadlux2-2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5415/851/320/leicadlux2-2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113205426540376882?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113205426540376882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113205426540376882&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113205426540376882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113205426540376882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/cerita-soal-kamera-idaman.html' title='cerita soal kamera idaman...'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-113197211432300500</id><published>2005-11-14T19:40:00.000+07:00</published><updated>2005-11-15T20:36:15.950+07:00</updated><title type='text'>Menulis lagi</title><content type='html'>Mudah-mudahan blog ini bukan hanya bisa saya isi dengan artikel yang 'terpaksa' ditulis karena pekerjaan. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-113197211432300500?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/113197211432300500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=113197211432300500&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113197211432300500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/113197211432300500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/11/menulis-lagi.html' title='Menulis lagi'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-110926017062349109</id><published>2005-02-24T22:41:00.000+07:00</published><updated>2005-02-24T22:49:30.630+07:00</updated><title type='text'>Mencari Mimpi Besar di Tengah Billing Besar</title><content type='html'>“&lt;em&gt;We believe that no one can understand and communicate with Indonesians, like other Indonesians&lt;/em&gt;…” Itulah prinsip utama Matari Advertising yang tertulis tegas di halaman website mereka. Ken T. Sudarto dan Paul Karmadi, yang memulai usahanya di era awal periklanan modern Indonesia, tentu sedang memimpikan sesuatu yang lebih besar dari sekedar masa depan Matari sendiri. Inilah – menurut pandangan saya -- mimpi besar para pendiri Matari untuk mewujudkan sebuah kondisi industri periklanan Indonesia, di mana biro-biro iklan lokal sanggup menjadi ‘tuan rumah’ di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah lebih dari 30 tahun industri periklanan modern Indonesia bergulir, sudahkah mimpi besar mereka itu menjadi kenyataan? Mari kita periksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktanya: Biro-biro Iklan Lokal Berjaya!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak asal ngecap. Coba kita periksa total belanja iklan nasional 5 tahun terakhir yang diterbitkan oleh PPPI. Rumusnya sederhana. Jumlahkan saja semua billing biro iklan 20 besar yang notabene sebagian didominasi oleh biro iklan multinasional. Adakah nilainya lebih dari 25% total belanja iklan nasional? TIDAK PERNAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bayangkan, ada berapa biro iklan multinasional yang posisinya berada di ranking 21 ke bawah? Mungkin tidak lebih dari 20. Artinya, saya hakul yakin, bagian terbesar dari kue belanja iklan nasional masih dikuasai oleh biro-biro iklan lokal. Bahwa kue iklan yang besar itu harus dibagi di antara ratusan atau bahkan ribuan biro iklan lokal, itu persoalan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya. Matari Advertising adalah contoh faktual dari kejayaan biro iklan nasional. Sekalipun pernah berafiliasi, cap Matari tetap biro iklan lokal. Sepanjang keberadaannya, Matari selalu menjadi biro iklan papan atas. Bahkan pernah menjadi biro iklan terbesar, dan selalu menjadi biro iklan lokal terbesar. Matari, harus diakui, telah menjadi landmark dari kejayaan biro iklan lokal di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Matari, berdasarkan Ranking Billing Tahunan PPPI, tidak sedikit biro-biro iklan lokal yang terus berada dalam mainstream bisnis periklanan nasional. Pendek kata, ‘kekuasaan’ belanja iklan nasional masih berada di tangan biro-biro iklan lokal. Lebih jelas lagi, perkembangan mutakhir industri periklanan pun menunjukkan kiprah biro-biro iklan lokal, baik pemain lama maupun baru, yang menunjukkan prestasi pertumbuhan bisnis sangat spektakuler karena mengalami kenaikan billing hingga ratusan persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja, kuat atau tidaknya peran biro iklan lokal dalam dinamika industri periklanan di negerinya sendiri tidak bisa hanya diukur dari 2 fakta di atas. Dengan kata lain, sekalipun penting, besar penguasaan billing bukanlah satu-satunya alat ukur. Apalagi periklanan jelas bukan jenis industri perdagangan komoditi yang semata-mata dapat diukur dari pencapaian kuantitatif belaka. Bukankah industri periklanan adalah sebuah industri jasa gagasan yang mengagungkan kreatifitas sebagai pencapaian? Dan urusan kreatifitas tidaklah ditentukan karena sebuah biro iklan lokal atau multinasional, apalagi kecil atau besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Industri Tanpa Indonesia Incorporated?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, sejumlah besar biro iklan lokal di berbagai negara, tumbuh menjadi kuat dan besar di negerinya sendiri, bahkan mendunia, karena adanya gagasan National/Global Incorporated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batey Advertising tidak mungkin bisa menjadi biro iklan terbesar di Singapura dan ternama di dunia tanpa dukungan mimpi besar Singapore Airlines untuk menjadi merek kelas dunia. Leo Burnett tidak mungkin jadi salah satu worldwide agency terbesar bila Marlboro tidak bermimpi menjadi merek global yang dominan. Begitu pula dengan McCann Erikson dan Coca Cola, Dentsu dan Toyota, Lowe (Lintas) dan Unilever, dan seterusnya. Tentu kita semua tahu bahwa mereka tidaklah memperoleh komitmen ‘till death do us part’ dari kliennya. Tanpa kemampuan dan kreatifitas yang terus berkembang untuk mengimbangi mimpi besar klien, mereka juga bisa ‘dicerai’ klien sejak jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak mutlak, secara umum terwujudnya gagasan Incorporated ini membuat kita mudah melihat bahwa negara-negara yang telah berhasil membangun merek berskala global juga melahirkan biro iklan global dari negerinya. Bagaimana dengan Indonesia sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ian Batey pendiri Batey Advertising dalam bukunya Asian Branding, A Great Way To Fly menyebutkan ada 5 kategori merek dari Indonesia yang sangat berpotensi untuk menjadi global brand yakni: kopi, mie instan, furnitur, batik dan sepeda motor. Penulis berpendapat Ian Batey luput mengamati dua kategori merek lagi, yakni rokok dan jamu/produk alami – dan terlalu optimis untuk kategori sepeda motor. Ian Batey bukanlah praktisi periklanan sembarangan. Optimisme beliau terhadap masa depan Indonesia untuk memiliki global brand tentunya membuat kita bertanya: akankah lahir global atau paling tidak regional agency dari Indonesia? Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, mari kita kesampingkan sejenak gagasan global incorporated. Bagaimana dengan Indonesia Incorporated? Masih adakah? Tanpa bermaksud menggugat atau menyalahkan siapapun, bagi klien gagasan ini mungkin sudah tidak lagi menjadi prioritas atau karena kondisi tertentu tidak relevan lagi untuk dilaksanakan. Sedikit banyak, beberapa fakta di industri periklanan dapat dijadikan contoh: Garuda Indonesia hanya bertahan 3 tahun di Matari. Bank Mandiri perlu ditangani oleh beragam biro iklan. Sejumlah bank pemerintah bahkan berganti biro iklan setiap selesai satu masa kampanye yang singkat. Ada juga yang hanya melakukan penunjukkan biro iklan dalam masa kontrak 3 bulan. Lebih edan lagi, cukup banyak pitching dilakukan hanya untuk storyboard saja. Alhasil, dengan mudah kita bisa melihat kampanye periklanan sebuah merek yang kerap berubah pesan dan pendekatannya. Padahal di muka bumi ini, merek-merek besar yang mampu bertahan hidup melewati berbagai jaman sudah mewarisi dan meneladani sebuah ‘kebenaran’ yang patut ditiru oleh semua merek yang berniat menjadi besar: konsistensi dalam jangka waktu yang panjang. Dengan kata lain, sulit sekali bagi setiap pengiklan untuk membangun kampanye merek yang kuat hanya dengan hubungan sepukul-duapukul dengan sebuah biro iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mencari Biro Iklan Lokal yang Creative-Driven&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kondisi yang tergambar di atas, bisa dikatakan biro-biro iklan multinasional menjalani ‘hidup yang lebih tenang’ dengan klien-klien prinsipal lewat penunjukkan global ketimbang biro-biro iklan lokal yang terus-menerus berada dalam posisi insecure untuk mempertahankan klien. Secara tidak langsung, hal ini sangat mempengaruhi perkembangan mutakhir industri periklanan kita. Melahirkan fenomena-fenomena baru. Lahirnya biro-biro iklan media buying driven dan production driven jauh lebih menonjol dibanding creative driven. Alamiah, di tengah situasi ini tentu ‘menguasai’ belanja media jauh lebih secure bagi setiap biro iklan ketimbang ‘sekedar’ menghasilkan iklan-iklan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kehadiran Cabe Rawit dan Macs 909 lebih dari 10 tahun silam, agaknya belum terlihat tanda-tanda kemunculan biro iklan creative-driven yang menonjol. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: sudah hilangkah daya pesona jenis biro iklan creative-driven karena dinilai tidak mampu lagi menjadi roda penggerak kemajuan bisnis sebuah biro iklan? Penulis sama sekali tidak memiliki analisa yang canggih-canggih untuk menjawab pertanyaan ini. Sejarah telah membuktikan bahwa biro-biro iklan besar yang telah berhasil membantu berbagai merek menjadi besar dan langgeng memimpin pasar dengan cara tetap memelihara dan meningkatkan creative-driven attitude yang terlihat jelas dari sikap penanganan klien dan karya-karya yang dihasilkan. Dunia periklanan berarti belum berubah. Barangkali kita saja yang sedang mengabaikannya, as long as our business running well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Regenerasi Biro-biro Iklan Lokal?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah penting dari persoalan semangat pencapaian kreatif setinggi langit, seperti yang dipesankan oleh almarhum Leo Burnett kepada setiap pegawainya di seluruh dunia, penulis juga melihat sebuah tantangan besar bagi biro-biro iklan lokal yang terdekat adalah faktor regenerasi. Coba kita periksa ada berapa biro iklan lokal yang sekarang telah dikelola manajemen generasi kedua atau ketiga di dalam organisasi perusahaan – baik oleh profesional maupun pewaris usahanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya regenerasi kepemimpinan dalam sebuah biro iklan yang karakter usahanya kuat bergantung pada reputasi dan kepercayaan terhadap individu jelas bukan hal yang sepele. Upaya melakukan transformasi dari individual-based ke organisation-based jelas merupakan keniscayaan bagi biro-biro iklan lokal yang ingin tetap menjaga kelanggengan hidupnya, memelihara pertumbuhan bisnisnya, dan membangun mimpi besar untuk menjadi biro iklan lokal papan atas atau bahkan biro iklan regional/global di masa depan. Di titik tersebut, yang mungkin tidak akan lebih dari 20 tahun lagi, sejarah periklanan Indonesia akan mencatat seberapa besar mimpi biro-biro iklan lokal yang ada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis untuk majalah Cakram&lt;br /&gt;dimuat tahun 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-110926017062349109?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/110926017062349109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=110926017062349109&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/110926017062349109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/110926017062349109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/02/mencari-mimpi-besar-di-tengah-billing.html' title='Mencari Mimpi Besar di Tengah Billing Besar'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11054310.post-110925926153483599</id><published>2005-02-24T22:31:00.000+07:00</published><updated>2005-11-15T12:05:30.186+07:00</updated><title type='text'>Kejarlah (Ilmu) Iklan Sampai ke Negeri Thailand</title><content type='html'>Pepatah yang mengatakan ‘Kejarlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina’ nampaknya tidak berlaku untuk dunia periklanan. Pada penyelenggarakan Asia Pacific Advertising Festival (selanjutnya disingkat Adfest) ke VII yang berlangsung dari 18 sampai 20 Maret 2004 lalu, Thailand semakin mengukuhkan diri sebagai negara di kawasan Asia Pasifik yang paling layak menjadi salah satu episentrum perkembangan kreativitas periklanan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘CANNES ASIA’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau Adfest hanya melombakan karya-karya iklan dari negara di kawasan Asia Pacific, kualitas penyelenggaraan dan standar penilaian lomba yang ditetapkan, makin tahun makin menunjukkan ambisi penyelenggara untuk menjadikan Adfest sebagai salah pusat perkembangan kreativitas periklanan global. Ambisi Thailand untuk menjadikan Adfest sebagai ‘Cannes Asia’ (merujuk pada lomba iklan internasional tahunan Cannes Lyon sebagai salah satu ajang lomba iklan paling bergengsi di dunia) dapat dikatakan kini makin mendekati kenyataan. Tak aneh bila sebagian besar karya iklan yang menyabet penghargaan di Adfest juga berjaya di berbagai lomba iklan kelas dunia, seperti Cannes, Clio, D&amp;AD, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 3 hari penyelenggaraan di Royal Cliff Beach Resort Hotel Pattaya yang megah dan luas, kurang lebih 1.000 peserta dari berbagai penjuru dunia, utamanya para praktisi iklan di kawasan Asia Pasifik, benar-benar difokuskan ke dalam sebuah forum yang reflektif tentang pencapaian kreativitas periklanan kawasan Asia Pasifik. Lepas dari sekedar acara seremoni pemberian penghargaan kepada para pemenang, acara utama Adfest lebih mengedepankan sebuah proses penggalian terhadap dunia kreativitas periklanan. Para kreator iklan yang menjadi peserta dimanjakan dengan suguhan iklan-iklan peserta yang tidak cukup diamati dalam waktu sehari. Peserta benar-benar dibuat khusuk mengamati satu-per-satu karya iklan peserta Adfest untuk semua kategori dan jenis media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, suasana tenang dan wajah-wajah tekun mendominasi area pameran iklan media cetak dan media non-televisi yang berada di satu kawasan. Sementara, di area lain tempat penayangan peserta iklan televisi dan film, kerap pecah gelak tawa para penonton menyaksikan sejumlah karya iklan yang benar-benar segar dan penuh kejutan yang menghibur. Selama 3 hari penuh, Adfest juga dipenuhi dengan kegiatan seminar yang menampilkan para kreator iklan kaliber dunia. John Hunt, Worldwide Creative Director TBWA/Worldwide, New York membuka khasanah para kreator iklan tentang solusi-solusi kreatif beyond advertising lewat presentasinya yang dipenuhi dengan beragam contoh kasus di manca negara yang bertajuk “The Idea is King”. Thanonchai Sornsriwichai dari griya produksi Phenomena Bangkok, salah seorang sutradara iklan yang kini berada di ranking 3 dunia dalam perolehan penghargaan atas karya-karya iklannya, dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah memberi ‘pencerahan’ kepada para kreator iklan yang hadir tentang pentingnya PASSION dalam menggarap setiap ide yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun ke 7, Adfest jelas telah berhasil menjadikan dirinya sebagai ajang lomba dan forum periklanan paling utama di kawasan Asia Pasifik. Tak hanya itu, Adfest bahkan berhasil menarik perhatian para praktisi periklanan dari luar kawasan ini untuk memberi perhatian atas wacana dan karya-karya iklan yang bertarung di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOMINASI SINGAPURA, JEPANG DAN THAILAND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The King of Prints, julukan ini memang pantas disandang oleh Singapura. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini biro-biro iklan dari Singapura kembali mendominasi peraihan penghargaan kategori Media Cetak. Termasuk penghargaan Best of Print yang diraih oleh TBWA Singapura lewat karya iklan Sphere 1/6th Action Figures. Sebagai negara dengan budaya membaca yang kuat, perkembangan iklan di Singapura memang terfokus di media cetak. Dari negara ini lahir berbagai kampanye iklan cetak yang fenomenal, dan lahir pula para kreator iklan cetak kelas dunia seperti Neil French dan Jim Atckinson (penulis buku periklanan Cutting Edge Advertising dan Cutting Edge Commercial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang, yang sudah jauh lebih mapan industri periklanannya, tetap menunjukkan kepiawaian melahirkan iklan-iklan yang brilian. Iklan-iklannya begitu sederhana dan ‘grafis’. Apapun mediumnya. Salah satu karya yang menyita perhatian adalah iklan media luar ruang untuk Adidas yang berjudul “Vertical Soccer” karya TBWA Jepang. Iklan yang meraih Best of Outdoor merupakan sebuah happening art di luar ruang, dimana mereka menggantung 2 orang peraga di puncak gedung yang sedang bermain bola di atas papan billboard bergambar lapangan sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sang tuan rumah, Thailand? Lebih dari sekedar keunggulan kreatif, kemajuan yang berhasil dicapai oleh industri periklanan Thailand dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini agaknya perlu menjadi sumber pelajaran yang berharga. Hasil yang dicapai Thailand dari Adfest tahun ini dan tahun lalu benar-benar menunjukkan kemampuan sumber daya periklanan Thailand mengembangkan diri. Jika tahun lalu karya-karya Saatchi &amp; Saatchi Thailand yang mendominasi peraihan penghargaan, tahun ini giliran Euro RSCG Bangkok unjuk gigi. Karya-karya Euro RSCG Flagship, utamanya pada karya iklan televisi DVD Soken berjudul “Kill Bill… Kill Bill” yang meraih Best of Television dalam Adfest kali ini. Beserta sebagian besar karya-karya Thailand yang meraih penghargaan di tahun ini – terutama iklan televisi – terlihat jelas bahwa kreativitas periklanan mereka meningkat pesat. Iklan-iklan yang tampil menonjol tahun ini semakin mempertontonkan kepiawaian para kreatornya dalam menerjemahkan pengalaman nyata konsumen sehari-hari menjadi ide-ide yang kuat lewat eksekusi yang sederhana dan menghibur. Pada media televisi, terlihat sekali betapa 19 juri dari 13 negara yang diketuai oleh Tham Khai Meng, Co-Chairman, Asia Pacific Ogilvy &amp;amp; Mather, sangat fokus menganjar kekuatan ide sebagai factor utama penilaian. Beberapa pemenang utama bahkan dieksekusi dengan standar video berbiaya rendah tanpa teknik produksi yang canggih. Contohnya adalah seri iklan DVD Soken karya Euro RSCG Flagship Bangkok peraih Best of Film, seri iklan MC2 Awards karya Ogilvy &amp; Mather Kuala Lumpur peraih Gold kategori Transport, Travel &amp;amp; Tourism Entertainment &amp; Leisure, seri iklan sebuah stasiun radio Gold 90.5 FM berjudul Plumber dan Tennis karya Lowe &amp;amp; Partners Singapore peraih Silver dan Bronze di kategori Publication &amp; Media, dan seri iklan UFJ Tsubasa Securities Bank karya D-Try Inc, Tokyo peraih Gold di kategori Corporate Image, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati karya-karya iklan pemenang Adfest VII terlihat jelas bahwa para kreator iklan maupun para pengambil keputusan akhir dalam proses persetujuan iklan tersebut tidak pernah berpretensi menganggap konsumennya bodoh dan sulit memahami pesan dan gagasan yang disampaikan. Dari sikap ini justru lahir iklan-iklan yang sederhana, fokus dan kuat yang mampu membuat konsumen memahami pesannya dan terhibur oleh idenya. Dari iklan-iklan tersebut, tidak nampak pula adanya teori khusus tentang local content yang konon diyakini banyak orang sebagai ‘rahasia sukses’ Thailand mengedepankan iklan-iklannya di ajang dunia. Sepanjang pengamatan penulis selama menikmati karya-karya pemenang Adfest tahun ini, semua gagasan bersifat universal walau menggunakan bahasa masing-masing negaranya. Bersama para praktisi iklan dari Vietnam, Jepang, Cina, India, Australia dan lainnya, penulis bisa sama-sama terhenyak iri, tertegun kagum dan juga tertawa menikmati iklan-iklan tersebut. Di arena ini, semua orang menggunakan satu bahasa yang sama: Big Idea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCARI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua pelaku industri periklanan di Asia tahu bahwa Adfest mampu mencapai posisi ini tak lepas dari kerja keras dan kekuatan visi yang dimiliki oleh industri periklanan Thailand. Lewat tangan dingin Vinit Suraphongchai, seorang praktisi periklanan senior yang mendedikasikan waktunya beberapa tahun terakhir ini sebagai Chairman dari Working Committee, Adfest kini bisa dipastikan menjadi salah satu kiblat penting periklanan Asia Pasifik. Bagi para kreator iklan di Asia Pasifik, Adfest telah menjadi semacam ritual ibadah profesi tahunan yang penting untuk mendalami perkembangan kreatif mutakhir sekaligus mengukur kemampuan diri dan menyerap perspektif dan visi kreatif dari berbagai negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2003, PPPI selaku penyelenggara ajang lomba iklan nasional Citra Pariwara telah memperbaharui visi Citra Pariwara untuk menjadi tempat bertolak iklan-iklan Indonesia bicara di ajang dunia, minimal setingkat Adfest. Tidak heran, kemudian, hasil Citra Pariwara 2004 yang baru usai serasa begitu kering kerontang dari penghargaan. Tidak ada satupun iklan peserta yang diganjar penghargaan emas. Termasuk penghargaan tertinggi Adhi Citra Pariwara (Best of The Best) yang untuk pertama kalinya dalam sejarah 17 tahun penyelenggaraan diputuskan oleh Dewan Juri tanpa pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat kiprah Indonesia di ajang Adfest, sangat pantas rasanya Dewan Juri berkeras meningkatkan standar penilaian. Di Adfest tahun ini, dari 100 lebih iklan yang dikirim oleh peserta Indonesia, hanya 1 iklan cetak yang berhasil menembus posisi finalis (Iklan cetak Kotex karya Ogilvy Indonesia). Tahun-tahun sebelumnya, bahkan tidak satupun iklan Indonesia yang dapat meraih posisi terhormat dalam ajang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kans iklan-iklan Indonesia dalam ajang festival iklan sekelas Adfest, Clio, Cannes di tahun-tahun mendatang? Ijinkan mengutip sebagian penjelasan yang disampaikan oleh Ariyanto Zaenal, Ketua Dewan Juri Citra Pariwara 2004 pada acara puncak penganugerahan Adhi Citra Pariwara tanggal 10 September silam: “…pemenangnya adalah keberanian kita untuk mengakui bahwa kita harus bekerja lebih keras di masa mendatang untuk mencapai standar yang lebih tinggi...”. Bagi penulis, ini merupakan sebuah pesan moral yang kuat kepada segenap kreator iklan Indonesia untuk berani mengakui bahwa jalan menuju ajang dunia bagi iklan-iklan Indonesia masih harus melalui upaya yang tidak kecil dan sederhana.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Ditulis untuk pengantar pameran iklan Adfest 2004 Bentara Budaya - PPPI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11054310-110925926153483599?l=asmarakata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asmarakata.blogspot.com/feeds/110925926153483599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11054310&amp;postID=110925926153483599&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/110925926153483599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11054310/posts/default/110925926153483599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asmarakata.blogspot.com/2005/02/kejarlah-ilmu-iklan-sampai-ke-negeri.html' title='Kejarlah (Ilmu) Iklan Sampai ke Negeri Thailand'/><author><name>Ricky Pesik</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07809426577113435009</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-HaDllIT_r7s/ToQP4l1gknI/AAAAAAAAAps/6OuZYPfA2QY/s220/avatar%2Bkima.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
